
Bab 149
Alva membantu para korban untuk bertemu dengan keluarganya. Sudah banyak orang yang datang ke tempat penampungan untuk menjemput gadis-gadis itu. Tangis haru dan pelukan erat mewarnai pertemuan mereka. Ada yang sudah berpisah bertahun-tahun ada juga yang baru bulanan.
"Terima kasih sudah menolong putri kita, Pak," ucap salah seorang laki-laki paruh baya kepada kepala polisi.
"Sama-sama, Pak. Ini sudah tugas kita. Kedepannya jika mau melamar pekerjaan, pastikan dulu alamatnya, apakah benar-benar ada atau fiktif atau bohongan. Ini semua bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Saat melamar pekerjaan harus dicari tahu terlebih dahulu apakah perusahaan atau tempat penyedia jasanya itu benar-benar ada atau palsu. Lalu, sebaiknya sebagai orang tua, kita juga ikut mengantar. Jangan sampai anak kita pergi sendirian atau bersama orang yang tidak kita kenal baik. Jika ada sesuatu yang janggal, setelah kepergian anak kita merantau harus segera menghubungi polisi biar dibantu mencari keberadaannya," balas kepala polisi.
Alva memeriksa data beberapa orang dari berkas yang didapatkan dari pihak kepolisian. Pemuda itu merasa kalau ibunya Alfi adalah salah satu korban Leonard juga.
"Bagaimana? Apa sudah ketemu?" tanya kepala polisi begitu mendekati Alva.
"Belum, Pak. Masih banyak data yang harus aku periksa," jawab Alva.
"Apa wanita itu tidak memberi tahu siapa nama atau orang yang mengejar-ngejar dirinya?" tanya laki-laki berseragam, lagi.
"Tidak. Bahkan Dokter Ali yang menanganinya langsung juga tidak diberi tahu. Wanita itu hanya meminta tolong untuk menjaga dan membesarkan bayinya kepadaku. Padahal dia masih punya waktu untuk memberi tahu siapa dirinya meski hanya sebuah nama. Tetapi, wanita itu begitu enggan memberi tahu kepada kami," jawab Alva mengingat kejadian malam itu.
Saat ini hanya ada satu foto ibunya Alfi yang dimiliki oleh Alva. Itu juga didapat setelah wanita itu meninggal.
Sarah mencari-cari Alva untuk mengucapkan terima kasih. Selain itu dia juga dipanggil oleh kepala polisi untuk melihat foto ibunya Alfi. Mungkin saja gadis itu mengenalnya.
"Alva," panggil Sarah dan itu membuat sang pemuda menghentikan pekerjaannya.
"Hei, Sarah. Bisa kamu bantu aku?" tanya Alva sambil menyerahkan handphone miliknya.
Sarah melihat foto seorang perempuan yang memiliki banyak luka di wajahnya. Terlihat bola mata gadis itu terbelalak dan mulutnya terbuka.
"Ini mirip Kak Sherly. Aku bisa melihat ada tahi lalat di bawah matanya," jawab Sarah.
"Ya. Hanya dia tidak pernah disuruh melayani lelaki hidung belang. Tetapi, dia wanita khusus yang sering melayani Tuan Leonard. Dia adalah tunangan dari kakak tiri Tuan Leonard. Itu yang saya tahu. Kami jarang berinteraksi karena dia tinggal di lantai paling atas dan tidak ada seorang pun yang boleh menemuinya," jawab Sarah masih menatap foto ibunya Alfi.
"Informasi apa saja yang kamu tahu tentang wanita itu?" tanya Alva sambil mencatat informasi baru yang dia dapatkan.
"Aku pernah bertemu dengannya dua kali saat sedang berusaha kabur dari rumah itu. Ternyata dia juga sedang melakukan hal yang sama. Kami tidak pernah bisa melewati dinding benteng. Apalagi ada kamera CCTV yang terus dipantau. Pertemuan pertama kami hanya berkenalan nama dan kenapa bisa sampai di sekap oleh Tuan Leonard," jawab Sarah seperti sedang berpikir karena mengingat kejadian yang sudah satu tahun lebih.
"Berbeda dengan aku yang terjebak lowongan pekerjaan palsu, Kak Sherly itu diculik oleh Tuan Leonard. Dia mengatakan dirinya diculik seminggu sebelum pernikahannya. Aku tidak tahu identitas sebenarnya dari Kak Sherly. Jika kamu menyelidiki tentang Leonard, coba cari tahu tentang saudara tirinya. Cari lah informasi siapa Kak Sherly darinya. Karena di pertemuan kedua, dia pernah bilang. Jika tunangan sudah tidak cinta dan tidak mau menerima dirinya yang telah rusak, maka dia akan pergi jauh darinya," lajut gadis bersurai panjang itu dengan ekspresi wajah sendu.
Langsung saja Alva mencari data tentang Leonard yang sudah dia kumpulkan dari hasil pencariannya dan hasil dari informasi yang diberikan oleh polisi. Perasaan pemuda itu semakin tidak menentu. Bayangan Safira dan Alfi terus saja bergelanyut di pelupuk matanya.
Data tentang Leonard yang dimilikinya menyatakan dia mempunyai saudara tiri laki-laki, anak ibu tirinya. Lalu, seorang adik perempuan yang terlahir dari pernikahan ayahnya dengan sang ibu sambung.
"Arman?" gumam Alva.
Kini pemuda itu harus mencari tahu lagi tentang diri Arman untuk mencari tahu siapa keluarga Sherly. Jika bukan karena mimpinya beberapa malam belakang ini, dia tidak ingin mencari tahu keluarga Sherly. Biar saja Alfi menjadi anaknya dengan Safira. Toh, tidak ada yang tahu kecuali keluarga mereka berdua ditambah Dokter Ali.
"Bagaimana? Apa sudah ditemukan titik terang tentang wanita di foto itu?" tanya kepala polisi saat datang kembali menemui Alva.
"Alhamdulillah, Pak. Namanya Sherly. Dan dia sepertinya punya hubungan dengan keluarga Leonard. Aku ingin bertemu dengan Arman, saudara tiri Leonard," jawab Alva.
"Kami akan bantu untuk mencari keluarga Leonard itu. Saat ini keberadaan mereka belum ditemukan," ujar kepala polisi dan Alva menyambutnya dengan baik.
***
Apakah Alva akan berhasil menemukan kebenaran keluarga Sherly? Ikuti terus kisah mereka, ya!