Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 150. Keadaan Genting


Bab 150


Mobil yang dikendarai oleh Safira melaju dengan kecepatan sedang. Dia dan Mutiara seperti biasa selalu bersenda gurau agar perjalanan tidak terasa. Namun, saat dipertengahan jalan yang sepi, kendaraan mereka dihadang. Gadis itu langsung mengerem mendadak agar tidak menabrak mobil yang tiba-tiba melintang di depannya.


"Astaghfirullahal'adzim. Ada apa ini?" ucap Safira terkejut.


Mutiara yang duduk di kursi penumpang tepat di samping Safira, merasa ketakutan. Apalagi saat melihat orang yang turun dari mobil.


"Gawat. Leonard dan Fery!" pekik Mutiara.


"Apa?" Safira melirik kepada Mutiara.


Kedua gadis itu kini ketakutan. Apalagi Leonard datang sambil membawa pemukul tongkat baseball di tangannya.


Safira berusaha melawan rasa ketakutannya. Dia memundurkan mobilnya agar menjauh dari mereka. Bagaimanapun juga nyawa mereka sedang dalam ancaman.


"Mutiara, cepat minta bantuan!" teriak Safira yang mengemudikan mobil dengan cara mundur.


Mutiara yang masih ketakutan hanya diam mematung. Dia sampai tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Safira.


Fery yang masih berada di dalam mobil melajukan kendaraan itu dan menabrakkan ke mobil Safira. Dia mengulang beberapa kali sampai tidak berbentuk lagi bemper depan mobil milik mereka. Terlihat Safira dan Mutiara tidak sadarkan diri dan kepala mereka berdarah.


Fery turun dari mobil untuk mengecek keadaan dua gadis yang ada di dalam mobil itu. Ternyata Leonard sudah berhasil menyusulnya.


"Bodoh! Kenapa kamu melah melukai mereka?" bentak Leonard kepada Fery.


"Kalau aku tidak melakukan ini, bisa-bisa mereka kabur," jawab Fery dengan santai.


"Kalau begini mereka tidak bisa kita bawa ke pelelangan. Mana mau mereka menjual barang yang rusak atau cacat," ujar Leonard dan Fery hanya menggaruk kepalanya.


"Kita rawat saja dulu mereka sampai sembuh, baru kita jual. Mudah, 'kan?" balas laki-laki itu sambil menyeringai takut saudaranya mengamuk lagi.


Rasanya Leonard ingin mengumpat karena kebodohan saudaranya ini. Dia mana mau mengurus orang sakit. Apalagi sekarang mereka sudah menjadi buronan.


***


Alva mencoba menghubungi Safira karena dia merasa tidak tenang. Perasaannya terus gelisah dan teringat terus kepada gadis itu. Karena tidak mendapatkan jawaban, maka dia memutuskan untuk menghubungi Arshy.


"Assalamualaikum, Dek. Apa Fira sudah pulang?" tanya Alva.


Alva yang tidak bisa tenang sebelum mendengar kabar kekasihnya, dia pun memutuskan untuk pulang dahulu.


"Nak Alva, ini alamat rumah orang tua Leonard yang lainnya. Ada dua rumah yang mereka miliki di luar kota. Tapi, katanya masih sering dikunjungi oleh mereka," kata seorang polisi.


"Terima kasih, Pak. Kata Pak Kepala polisi di sana juga diminta untuk mengunjungi rumah ini. Kemungkinan mereka bersembunyi di sana," ujar Alva sambil melihat selembar kertas yang berisi alamat.


Setelah berbincang sebentar, Alva memutuskan pulang naik ojek online agar segera sampai apartemen. Bunyi dering telepon dia abaikan dahulu karena masih dalam perjalanan dan benda pipih itu juga berada di dalam tasnya.


Begitu sampai Alva memeriksa terlebih dahulu ponsel miliknya. Dia ingin tahu siapa yang sudah menghubungi dirinya, tadi. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari Arshy dan satu pesan darinya.


Kak Safi tidak ada di apartemen


Membaca pesan ini membuat kepanikan dan ketakutan Alva mulai membayangi dirinya. Dia pun berlari menuju lift menuju unit milik Safira untuk meyakinkan dirinya ada atau tidak gadis itu.


"Kak Alva," panggil Arshy yang terkejut akan kedatangan kakaknya yang langsung main masuk ke apartemen milik Safira.


"Beneran Fira belum pulang? Mungkin dia sempat pulang atau pergi lagi," tanya Alva.


"Aku rasa dia belum pulang karena sepatu yang tadi dipakai pergi kuliah hari ini tidak ada di rak sepatu," jawab Arshy.


Alva tahu kalau sepatu untuk pergi kuliah dan sepatu untuk sehari-hari atau untuk pergi bermain, selalu berbeda. Gadis itu selalu menyesuaikan dengan penampilannya.


"Mungkin dia pergi dahulu ke suatu tempat bersama dengan temannya," tukas gadis berjilbab instan berwarna pink.


"Tidak. Tadi kakak sudah menyuruhnya untuk segera pulang dan jangan mampir ke mana pun. Sudah kakak tekankan itu dan Fira paham maksud kakak," balas pemuda yang kini terlihat gusar.


"Memangnya ada apa, Kak?" tanya Arshy merasa ada yang gawat. Alva terlihat panik.


"Pelaku kejahatan itu masih buron, Dek. Kakak takut mereka mengincar Fira karena dia sering bersama Mutiara. Selama ini dia kan selalu diawasi oleh para penjahat itu," jawab Alva dan kini Arshy yang berwajah pucat.


***


Bagaimana nasib Safira dan Mutiara? Apakah Alva akan bisa menyelamatkan mereka? Ikuti terus kisah mereka, ya!