Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 153. Mencari Cara Untuk Kabur


Bab 153


Safira merasakan kepalanya sakit. Dia sengaja tidak membuka mata. Gadis itu sedang mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi kepadanya. Dia masih bisa berpikir dan mengingat kejadian yang menegangkan bahkan menakutkan bagi dirinya.


'Ya Allah, selamatkan aku dari kejahatan mereka. Hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan,' batin Safira.


Gadis itu bisa mencium bau lembab dan berdebu. Seperti tempat yang jarang dihuni oleh manusia.


Dengan perlahan Safira membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah ruangan yang sangat asing. Dia tidak tahu saat ini sedang berada di salah satu rumah milik Leonard. Netra berwarna coklat itu mengedar ke segala penjuru ruangan. Dia melihat Mutiara berbaring di sampingnya masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Mutiara," bisik Safira sambil menggoyangkan tubuhnya.


Perlahan mata Mutiara terbuka. Dia melihat ada Safira berbaring di sampingnya. Dia mengedar pandangannya dan paham apa yang sedang terjadi kepadanya.


Safira meletakkan jari telunjuknya di mulut agar tidak bicara atau mengeluarkan suara. Dengan tubuh yang masih terasa lemas, gadis memaksakan diri berjalan ke arah pintu. Dia membuka sedikit pintu itu untuk memastikan Leonard dan Fery tidak ada di sana.


Setelah itu Safira menuju ke jendela untuk melihat keadaan di luar. Dia harus tahu saat ini mereka sedang berada di mana. Gadis itu melihat tembok yang tinggi dan sepertinya sulit untuk dilompati saat kabur.


Mutiara kembali merasa ketakutan. Baru saja dia terbebas dari jeratan Leonard, kini harus kembali merasa jadi tawanan. Namun, kali ini agak berbeda karena ada Safira bersama dengannya. Dia yakin kalau Alva dan teman-teman yang lain pasti akan langsung bergerak saat tahu mereka menghilang.


"Sepertinya akan sulit untuk kabur dari sini," ucapĀ  Safira sambil duduk kembali ke tempat tidur.


"Semoga saja Alva tahu kalau kita sedang diculik," ujar Mutiara.


Merasa ada pukulan keras yang dirasakan oleh Safira. Tadi, sudah beberapa kali Alva memberikan peringatan kepadanya untuk langsung pulang dan jangan mampir ke mana pun. Seketika ada rasa penyesalan yang dirasakan oleh gadis itu. Padahal dia tadi hanya ingin menolong temannya yang kesusahan.


'Sudahlah. Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi, aku berharap Alva secepatnya bisa datang menolong,' batin Safira.


Terdengar suara orang berbicara. Safira dan Mutiara langsung kembali berbaring pura-pura masih belum sadarkan diri.


"Mereka itu pingsan atau tidur?" Terdengar suara Fery yang bertanya.


"Sudah biarkan saja mereka. Aku sudah mendapatkan waktu kapan mereka akan dibawa ke pelelangan. Mister Bruno juga sudah suka barang kita kali ini," ujar Leonard.


'Apa? Berengsek mereka mau menjual kita!' umpat Safira.


Safira menahan diri agar tidak terprovokasi oleh ucapan Leonard. Dia marah, bahkan sangat murka. Namun, dia harus menahan diri untuk mengatur siasat agar bisa kabur dari sana.


'Tenang ... tenang. Setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan. Allah akan senantiasa menolong hambanya yang meminta kepadanya,' lanjut Safira di dalam hatinya.


'Ya Allah, jangan biarkan rencana mereka terlaksana. Kirimkan batuan-Mu kepada kami,' batin Mutiara.


Mutiara yang bukan hanya sekali dua kali mendapat tekanan dari Leonard dan Fery, berusaha mengendalikan diri agar tidak memberikan reaksi apa pun.


***


Alva sudah berkeliling mendatangi rumah yang dimiliki oleh Leonard dan keluarganya. Baru dua rumah yang dia cek keberadaannya. Namun, di sana hanya ada penjaga saja dan mereka mengatakan kalau tuannya itu tidak datang ke sana hampir dua minggu.


Alva dan yang lainnya berpencar mendatangi beberapa tempat yang dimiliki oleh Leonard dan Fery. Pemuda ini kembali melajukan motornya menelusuri jalan menuju ke alamat lainnya yang tadi dia dapatkan dari polisi.