
Bab 157
Operasi yang sedang dijalani oleh Safira berlangsung sangat lama. Hal ini dikarenakan posisi peluru yang hampir mengenai beberapa organ vital.
Alva melakukan sholat Isya sekalian berdoa. Pemuda itu memohon agar operasi berjalan lancar dan Safira bisa selamat. Laki-laki itu jarang sekali menangis. Hanya dua orang wanita yang bisa membuat dia menumpahkan cairan bening dari netranya, yaitu Marsha dan Safira. Mereka adalah dua perempuan berharga dalam hidupnya. Kalau Arshy ada di tempat yang berbeda bersama kedua adiknya.
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu. Selamatkan Safira dan persatukan kami kembali," ucap Alva dengan lirih.
Seharian itu Alva makan hanya dua kali, yaitu sarapan dan makan siang bersama Safira di kantin kampus. Saking paniknya dia mencari gadis itu, dia tidak ingat kalau perutnya minta makan lagi.
Operasi berjalan selama lima jam. Selama itu pula doa untuk kelancaran operasi dan keselamatan Safira tidak putus mereka lantunkan. Keluarga di kampung juga mendoakan Safira.
***
Sementara itu, di rumah tempat tadi Safira dan Mutiara di sekap, sudah dipasangi garis polisi. Beberapa orang polisi berjaga di sana. Banyak warga sekitar yang terkejut saat mendengar bunyi tembakan, tadi.
Fery sudah ditangkap oleh polisi dan digelandang ke kantor polisi. Berbeda dengan Leonard yang sudah tidak bernyawa lagi. Jenazahnya dibawa ke rumah sakit.
Banyak wartawan yang langsung meliput kejadian itu. Bahkan mereka juga mencari tahu tentang Safira dan Mutiara, orang yang sudah menjadi sandera baru. Para kuli tinta itu mencari keberadaan kedua gadis itu.
Keluarga Mutiara sampai harus diungsikan karena banyak wartawan yang mencari keberadaan dan ingin tahu kabar terkini tentang gadis itu. Sementara itu, rumah Dokter Rama sudah mendapatkan pengamanan ekstra dari polisi. Kedua anak Dewi dan mertuanya merasa terganggu dengan kehadiran orang-orang itu.
***
Keesokan harinya, Arshy datang ke rumah sakit bersama Alfi karena tidak ada yang menjaga bayi itu. Dia membawa bekal sarapan dan baju ganti untuk Alva.
Begitu melihat Alva, Alfi merengek minta digendong. Jadi, Alva makan sambil memangku bayi itu.
"Kak Safi belum sadar, ya, Kak?" tanya Arshy dengan lirih.
"Iya. Doakan saja, Dek. Agar Fira cepat sadar dan bisa kembali berkumpul bersama kita," jawab Alva setelah menelan makanannya.
"Ayah dan Bunda katanya akan datang, Kak. Mereka sekarang dalam perjalanan kemari," ucap Arshy sambil menatap Alva.
Semalam Alva juga mendapat telepon dari Marsha dan bertanya garis besar kejadian yang menimpa Safira. Dia menceritakan apa yang terjadi hari kemarin.
***
"Aku tidak bisa menjaga dan melindungi Fira, Bun," ucap Alva terisak.
"Jangan sampai doa kita untuk Fira terputus," kata Marsha yang memeluk tubuh putra sulungnya.
Wanita cantik itu tahu kalau putranya sedang terpukul dan bersedih. Walau Alva terlihat dingin dan datar, tetapi laki-laki ini sangat perhatian dengan caranya sendiri.
Intan dan keluarganya juga datang ke Jakarta untuk melihat keadaan Safira. Mereka turut berduka dan mendoakan kebaikan untuk gadis itu. Tadi, mereka sempat mencari tahu keberadaan Safira dan Mutiara lewat Alfarizi.
"Safira adalah gadis yang hebat dan kuat. Aku rasa dia akan cepat sadar. Percayalah!" ucap Intan kepada Alva memberi dukungan.
Dahulu Intan juga pernah mengalami koma panjang dan berakhir sadar kembali. Berkat usaha dan doa orang-orang yang ada di sekitarnya, akhirnya dia bisa kembali berkumpul bersama.
"Terima kasih, Intan," ujar Alva.
Hati dan perasaan Alva sudah tenang dengan mendengarkan kata-kata kedua orang tuanya. Apalagi ada Alfi yang selalu tidak mau jauh darinya.
"Melihat Alfi, aku jadi ingat dahulu," ujar Arga.
Marsha hanya tersenyum tipis. Dahulu saat dia koma selama dua tahun, Arga yang mengurus Alva bayi. Semua video dan foto kebersamaan keduanya sudah dia lihat. Betapa irinya Marsha kepada Arga saat mengasuh Alva yang masih bayi merah dan belum bisa apa-apa. Kini hal yang sama terjadi kepada Alva. Putra sulungnya itu mengurus dan membesar seorang bayi milik orang lain.
"Oh, iya. Apa kamu sudah tahu siapa orang tua bayi ini?" tanya Arga.
Alva langsung tersentak mendengar pertanyaan itu. Dia belum memberi tahu keluarganya kalau kemungkinan Alfi adalah anak Leonard.
Dokter Rama dan Dewi ikut memperhatikan Alva. Mereka juga penasaran siapa orang tua bayi yang sedang dibesarkan oleh anak mereka itu.
"Alva belum tahu, Yah ... Bun. Karena polisi juga masih melakukan penyelidikan," jawab Alva sambil menunduk mengajak main Alfi. Dia tidak mau kalau kebohongan dia ini ketahuan. Marsha akan tahu jika anaknya berbohong hanya lewat tatapan mata dan ekspresi wajah.
***