Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 87. Ratu


Bab 87


Jantung Arga berdebar kencang saat membuka hasil laboratorium. Ternyata ada masalah dengan kwalitas super*ma miliknya. Bagai tersambar petir, tubuh laki-laki itu menjadi kaku dan bergeming tanpa suara.


'Ya Allah, kenapa bisa seperti ini?' 


Sungguh Arga merasa dunianya runtuh. Dia belum ikhlas menerima keadaan yang menimpa dirinya. Sebagai seorang laki-laki ini menjadi sebuah aib.


"Anda jangan pesimis tidak akan mempunyai anak. Ini masih bisa diobati," kata Dokter Rama.


"Jadi, aku masih punya kesempatan untuk mempunyai anak?" tanya Arga.


"Iya, Pak. Perbanyak makan yang mengandung kedelai, rajin olahraga, jangan merokok dan minum minuman beralkohol. Kalau bisa rajin berjemur di pagi hari," jawab Dokter Rama dengan senyum tipis.


Arga senang bukan main saat tahu masih bisa membuat Marsha hamil. Meski dia sudah menganggap Alva anaknya sendiri. Dia juga ingin mempunyai anak lagi dari benih miliknya.


"Terima kasih, Dok." Arga menjabat tangan Dokter Rama.


"Ada satu hal yang penting lainnya. Ketenangan hati dan pikiran itu adalah faktor utama yang bisa membuat kwalitas sper*ma jadi lebih bagus dan sehat," kata Dokter Rama.


Setelah dipikir-pikir lagi, Arga membenarkan ucapan dokternya. Selama beberapa tahun ini pikirannya sering kacau, jam tidur tidak menentu, dan makan juga tidak teratur.


***


Saat Arga melewati sebuah ruang rawat inap, dia tanpa sengaja melihat Ratu di tampar oleh Marini. Wanita paruh baya itu membentak dengan kata-kata kasar yang menyakitkan hati.


"Dasar anak Pela*cur! Kenapa tidak becus untuk bisa mendapatkan uang, hah! Seharusnya kamu mati saja sejak masih di dalam perut ibumu." Marini mendorong kuat tubuh ringkih gadis itu sampai terjatuh ke lantai. Setelah itu perut Ratu di tendang olehnya.


Arga terkejut dan merasa iba melihat hal itu. Apalagi Ratu tidak menangis sama sekali. Dia hanya meringis sambil memegangi perutnya. Setelah itu pergi sambil tertatih-tatih.


"Astaghfirullahal'adzim. Tega sekali wanita itu berbuat jahat kepada anaknya," gumam Arga.


Saat Arga hendak keluar pintu gerbang, dia melihat Ratu sedang berjalan di bawah panasnya terik matahari. Lalu, lelaki itu pun melajukan mobilnya dengan perlahan.


"Hai, Ratu. Mau ke mana?" tanya Arga.


"Mau pulang, Pak," jawab Ratu sambil menunduk.


"Naik kendaraan apa?" tanya Arga lagi.


Kali ini Ratu terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Arga.


"Ini ada sedekah. Ambilah untuk ongkos dan keperluan kamu sisanya," ucap Arga sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.


Awalnya Ratu menolak, tetapi Arga memaksa karena tahu kalau gadis itu sedang memerlukan uang. Hanya ini yang bisa dilakukan oleh laki-laki itu untuk menolongnya.


"Pak, ini terlalu banyak," kata Ratu sambil mengetuk kaca jendela Arga yang baru saja ditutup.


"Ambil semua. Bisa buat modal usaha kamu," kata Arga.


***


Arga memeluk tubuh Marsha dengan lembut tetapi agak posesif. Dia sangat ketakutan jika istri akan pergi saat tahu kesuburan dirinya bermasalah. 


"Ada apa?" tanya Marsha sambil mengerutkan kening.


"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin memeluk istriku tercinta," jawab Arga.


"Ini sudah siang, loh. Jam istirahat juga sebentar lagi akan habis," kata wanita itu mengingatkan.


"Sayang, bagaimana jika akhir pekan nanti kita pergi berbulan madu. Ada libur panjang sampai hari Senin," ucap Arga berbisik di telinga sang istri.


Tentu saja Marsha mau. Dia sudah lama menanti momen ini. Selama ini mereka hanya pulang kampung jika akhir pekan. Rasanya dia juga ingin pergi liburan ke tempat yang indah.


'Semoga setelah pulang dari berbulan madu nanti, ada kabar gembira untuk keluarga kami,' batin Marsha.


***


Arga dan Pandu sedang mengadakan pertemuan dengan rekan kerja sama perusahaan mereka. Sebenarnya Arga tidak bertanggung jawab di proyek ini. Namun, Pandu memaksa untuk ikut dengannya karena asistennya sedang sakit. 


"Semoga proyek pembuatan resort di Labuan Bajo bisa berjalan lancar," kata laki-laki dewasa berusia sekitar 40 tahunan.


"Teman aku nanti yang akan ikut mengawasi pembuatan resort itu," kata Pandu.


Arga melihat keluar jendela. Dia melihat perempuan yang dulu ada di rumah sakit. Gadis itu adalah Putri, anaknya Marini. Entah siapa laki-laki paruh baya yang bersama dengannya. Mereka terlihat sangat intim.


"Ada apa?" tanya Pandu sambil menepuk bahu Arga.


"Bukannya perempuan itu adalah anaknya dari laki-laki yang keracunan di restoran kamu itu," jawab Arga sambil menunjuk Putri yang berjalan masuk ke dalam restoran.


Pandu dan Arga memerhatikan dua orang yang berjalan ke arah meja yang ada di pojok seolah tempat agak tersembunyi. Kedua orang itu terlihat saling melempar senyum dan saling menyentuh.


"Apa dia wanita panggilan atau wanita simpanan?" tanya Pandu.


"Entahlah. Beberapa hari yang lalu aku melihat ibunya melakukan tindak kekerasan kepada Ratu. Kasihan sekali perempuan itu. Entah kenapa aku merasa kalau si ibu itu sering melakukan kekerasan kepada Ratu. Karena perempuan itu tidak menangis sedikit pun setelah mendapat tamparan dan tendangan dari ibunya," jawab Arga.


"Apa? Mana mungkin seorang ibu tega melakukan hal seperti itu kepada anaknya!" pekik Pandu tidak percaya.


"Aku rasa Ratu bukan anak kandungnya. Soalnya di bilang anak pela*cur. Ya, seperti itu yang aku dengar. Entah apa maksudnya," balas dari suaminya Marsha.


Dalam hati Pandu merasa kasihan kepada Ratu. Memang gadis itu memiliki wajah yang buruk rupa. Namun, tatapan matanya mengisyaratkan akan kesedihan dan kepedihan.  


'Aku jadi penasaran kenapa mereka tega melakukan hal itu kepada Ratu,' batin Pandu.


***


Akankah bulan madu Arga dan Marsha bisa terlaksana? Siap Ratu sebenarnya? ikuti terus kisah mereka, ya!