
Bab 166
Alva sudah tidak sabar menanti hari esok. Semua perbekalan sudah disiapkan. Tinggal menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang masih di dalam perjalanan.
Alfi terus saja mengoceh membicarakan tentang pesawat. Alva sesekali menanggapi obrolan bocah itu. Padahal tubuh dia ingin beristirahat, Arshy sedang menginap di rumah temannya karena ada banyak tugas.
"Papa, kenapa pesawat bisa terbang di langit?" tanya Alfi dengan pengucapan huruf sebagai yang tidak jelas.
"Karena ada mesin yang menggerakkan baling-balingnya," jawab Alva.
"Baling-baling itu apa?" tanyanya lagi.
"Benda yang bisa berputar dengan cepat dan akan menggerakkan kendaraan. Seperti pesawat terbang, helikopter, dan perahu juga.
"Pesawat punya Alfi tidak punya baling-baling, ya? Makanya tidak bisa terbang," kata Alfi yang sejak tadi memainkan pesawat mainan, oleh-oleh dari Alva saat pulang dari Singapura, dahulu.
"Inikan mainan, Sayang," balas Alva sambil menguap.
Melihat Alva yang sudah mengantuk, Alfi malah duduk di sampingnya. Lalu, dia bersholawat sambil mengelus-elus punggung pemuda itu. Ini malah membuat Alva geli.
"Papa tidur saja, biar Afli yang bersholawat," kata Afli ketika Alva menariknya untuk tidur.
"Tidak. Alfi juga harus ikut tidur. Besok mau ikut naik pesawat, tidak?" tanya Alva sambil mengambil posisi yang nyaman.
"Mau! Mau!" jawab Alfi.
Dengan cepat Alfi memejamkan matanya dengan mulut berkomat-kamit membaca doa. Alva malah tertawa geli melihat kelakuan bocah dua setengah tahun itu.
***
Hari ini jadwal Alva bagian shift pagi, dia terpaksa menitipkan Alfi di rumah Dewi. Nanti sore akan dijemput lagi olehnya. Susu, cemilan, makanan kesukaannya, dan mainan dia sudah tersedia semua di dalam tas gendong milik bocah itu.
"Alfi, ikut Oma Dewi dulu, ya!" titah Alva dan anak kecil itu mengangguk.
"Nanti malam kamu jadi berangkat ke Singapura?" tanya Dewi.
"Iya, Tante. Ayah dan Bunda hari ini akan datang, katanya sudah dalam perjalanan. Tapi, nanti langsung datang ke apartemen, biar mereka istirahat dahulu," jawab Alva.
"Safira semalam langsung menghubungi Tante. Betapa senangnya dia karena kamu akan mengunjunginya lagi. Padahal seminggu kemarin dia ngambek sama Tante karena cuma sebentar tinggal di Singapura. Mau gimana lagi, kedua anak Tante yang lain masih membutuhkan perhatian. Dan apa-apa masih Tante yang mengurus," kata Dewi sambil tersenyum tipis.
"Semoga saja Safira sudah bisa dibawa berobat di Indonesia kali ini," ucap Alva dan Dewi pun berharap yang sama.
***
Alva baru keluar dari ruang operasi setelah jam makan siang lewat. Setelah membersihkan badannya, dia pergi ke kantin. Sambil menunggu pesanannya dibuat, pemuda itu hendak menghubungi kedua orang tuanya. Namun, dia lupa membawa benda pipih itu yang tersimpan di ruangannya.
Tidak sampai 15 menit, Alva berada di kantin. Dia harus memeriksa seorang pasien yang berada di dalam pengawasannya. Anak yang baru beranjak remaja, tetapi memiliki penyakit gagal ginjal akibat pola hidup yang tidak sehat. Dia kebanyakan minuman kemasan yang sering dia beli di sekolah. Belum lagi dia jarang makan makanan bergizi.
"Halo, Rizal. Bagaimana kabar kamu hari ini?" tanya Alva.
"Apa dokter tidak lihat kalau aku ini masih di rumah sakit, itu artinya aku masih sakit," jawab anak laki-laki itu dengan ketus dan Alva malah tersenyum.
Keadaan Rizal sudah lebih baik dari pada kemarin. Namun, sikap dia masih saja seperti ini. Menjadi seorang dokter itu tidak mudah. Selain harus tahu apa jenis penyakit yang diderita pasien, mereka juga harus bisa memberikan dukungan dan semangat agar mereka selalu berpikir positif bisa sembuh penyakitnya.
"Aku berharap rasa sakit yang kamu rasakan terus berkurang dari hari ke harinya, sampai kamu bisa beraktivitas seperti biasa yang kamu jalani selama ini. Aku selalu mendoakan kesembuhan kamu dan bisa melakukan hal yang membuat kamu bahagia," balas Alva.
Rasa lelah selesai melakukan operasi yang memakan banyak waktu. Lalu, menghadapi pasien yang tidak bersahabat. Membuat Alva merasa kelelahan berkali-kali lipat hari ini.
Terlihat ada Arshy berlari di koridor rumah sakit sambil menggendong Alfi. Tentu saja itu membuat Alva bertanya-tanya.
"Ada apa, Dek?" tanya Alva begitu mereka saling berhadapan.
"Ada kabar buruk, Kak," jawab Arshy dengan napas terengah-engah dan mata yang sembab.
Alfi yang berada di dalam gendongan Arshy hanya terdiam memandangi Alva. Biasanya bocah itu akan langsung minta digendong jika melihatnya.
"Kabar buruk, apa?" tanya Alva dengan perasaan tidak tenang.
"Mobil yang ditumpangi oleh ayah dan bunda mengalami kecelakaan beruntun," jawab Arshy memekik. Air matanya meluncur membasahi pipinya.
Tubuh Alva langsung jatuh ke lantai. Dia merasa semua tenaganya hilang entah ke mana. Dia tidak menyangka akan ada kejadian yang tidak terduga seperti ini. Padahal kemarin dia dan kedua orang tuanya sangat antusias untuk menjenguk Safira di Singapura. Namun, takdir berkata lain.
"Lalu, bagaimana dengan ayah dan bunda sekarang?" tanya Alva dengan lirih berusaha menguasai dirinya.
"Mereka saat ini sedang berada di Rumah Sakit Merdeka. Aku baru mendapatkan kabar dari polisi yang menghubungi lewat handphone milik mama," jawab gadis berjilbab warna hijau botol.
***