
Bab 48
"Assalamualaikum, Bu," salam Marsha.
"Wa'alaikumsalam. Marsha, apa Arga ada di sana?" tanya Ayu di seberang sana.
Marsha melirik ke arah Arga, lalu menyerahkan handphone miliknya kepada laki-laki itu. Arga menggerakkan mulutnya tanpa suara dan Marsha menggelengkan kepala.
"Assalamualaikum, Bu," salam Arga.
"Arga, cepat pulang kita ke Surabaya sekarang. Kakek masuk rumah sakit lagi," ujar Ayu dengan panik.
"Baik, Bu. Arga pulang sekarang!"
Alva yang sedang dalam pangkuan Marsha ingin ikut bersama dengan Arga. Bocah itu menangis kejer karena ditahan oleh Marsha.
"Kenapa?" tanya Marsha.
"Kakek masuk ke rumah sakit. Sepertinya keadaan dia benar-benar buruk. Biasanya mereka tidak akan memberi tahu ibu jika keadaan kakek tidak terlalu parah," jawab Arga.
Alva masih menangis ingin ikut bersama Arga, karena biasanya mereka akan pergi main atau jalan-jalan. Bocah itu menyangka kalau ayahnya akan pergi bersenang-senang.
"Alva jaga Bunda di rumah, ya! Nanti ayah pulang dan ajak Alva sama Bunda jalan-jalan. Sekarang ayah harus pergi menemui eyang," ucap Arga sambil menggendong sebentar.
Arga membawa Alva sampai ke mobil lalu Marsha ambil alih kembali. Padahal mereka baru saja bertemu sekarang harus berpisah kembali.
Selama menikah dengan Arga, Marsha baru sekali bertemu dengan Kakek dan Neneknya Arga. Mereka tidak tahu akan pergantian mempelai pengantin pria dahulu. Kehamilan Marsha hanya diketahui oleh kedua keluarga inti mereka saja, sedangkan keluarga besar mereka tidak ada yang tahu.
***
Marsha mendengar kabar duka dari Arga. Sang Kakek meninggal dunia sehari setelah kedatangan keluarga Barata. Suasana duka menyelimuti keluarga mantan suaminya. Wanita itu ingin datang ke rumah duka, tetapi Bagas sedang berada di luar pulau bersama Indah dan beberapa orang tetangga untuk mengantar pengantin. Salah seorang pekerja Bagas menikah dengan seorang gadis dari pulau seberang. Mereka rencananya akan lima hari di sana. Sekarang adalah hari ketiga setelah keberangkatan.
Waktu itu Marsha sengaja tidak ikut karena Arga bilang akan pulang untuk bertemu dengan Arga. Tentu saja bocah kecil itu sangat bahagia, jadi mau tidak mau dia harus membatalkan keikutsertaan mengantar sang pengantin.
"Aku sebenarnya ingin pergi ke sana. Tapi, tidak tahu alamatnya. Apakah bisa jemput aku di bandara?" tanya Marsha saat dihubungi oleh Arga.
"Sebaiknya kamu jangan ke sini. Kasihan Alva, dia baru saja sembuh dari sakitnya. Aku tidak mau kalau sampai dia sakit kembali," jawab Arga dengan suara yang sengau.
"Bagaimana keadaan ayah dan ibu?" tanya Marsha mengkhawatirkan kedua mantan mertuanya.
"Mereka masih dalam suasana duka," jawab Arga lirih.
Mendengar itu Marsha semakin ingin pergi ke sana. Dia ingin menghibur mantan mertuanya yang sudah dia anggap orang tua sendiri.
Tanpa berpikir panjang, Marsha menghubungi Pandu. Dia memberi tahu kabar duka yang sedang terjadi kepada Arga.
"Apa Pak Pandu akan pergi ke Surabaya?" tanya Marsha.
"Iya, aku akan pergi sekarang. Kebetulan dua jam lagi ada keberangkatan ke Surabaya," jawab Marsha.
Mendengar itu tentu saja Marsha merasa ini kesempatan. Lalu, dia menanyakan alamat rumah keluarga Arga di Surabaya. Karena dia akan mengambil jam penerbangan malam hari.
***
Marsha dan Alva sudah sampai ke Surabaya di pagi harinya. Mereka naik pesawat lalu dari bandara naik taksi menuju rumah kakek dan neneknya Arga. Sebuah khas Jawa dengan halaman rumah yang luas dipenuhi oleh pohon-pohon rindang membuat tempat itu terlihat asri dan udaranya juga segar.
Marsha pun mengucapkan salam kepada seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman. Saat itu pintu pun terbuka dan terlihat Pandu dan Mariana berjalan di teras rumah. Mereka sudah akan kembali ke hotel sebelum pulang ke ibu kota.
"Pak Pandu," balas wanita yang sedang menggendong anak laki-laki.
"Sama siapa kamu ke sini?" tanya Pandu sambil melihat ke sekeliling.
"Hanya berdua dengan anakku," jawab Marsha.
"Marsha … Alva?"
"Oma!" Alva berteriak memanggil Ayu yang baru keluar dari dalam rumah.
Wanita setengah paruh baya itu langsung menggendong sang cucu. Diciumi pipi gembul milik Alva. Ditengah kesedihannya kehadiran Alva memberikan sedikit kebahagiaan bagi Ayu.
Kedatangan Marsha dan Alva di sambut baik oleh keluarga besar Wibowo. Perceraian Arga dan Marsha belum diketahui oleh mereka, karena keputusan itu belum ada satu minggu. Orang-orang di sana menyangkan kalau Marsha dan Arga masih pasangan suami istri.
Marsha belum melihat keberadaan Arga. Dia juga enggan bertanya kepada kerabat mantan suaminya itu. Ayu saat ini sedang menerima kedatangan tamu yang baru datang melayat hari ini.
"Bunda, ingin pipis," ucap Alva sambil memegang burung kecilnya. Terlihat bocah itu menahan ingin buang air kecil.
Marsha langsung membawa Alva pergi ke kamar mandi. Untungnya banyak orang yang bisa ditangani di mana letak kamar kecil itu.
Pintu dapur langsung mengarah ke luar rumah. Setelah selesai buang air kecil Alva berlari ke halaman belakang yang luas dan terlihat sawah yang baru saja selesai di panen.
"Ayah! Ayah!" Alva melambaikan tangannya.
Marsha yang baru ke luar dari kamar mandi mengalihkan penglihatannya ke arah Alva melambaikan tangan. Dia melihat Arga sedang bersama seorang wanita muda berjalan beriringan sambil membawa kantong keresek yang besar.
Kedatangan Marsha dan Alva ke sana mengejutkan Arga. Laki-laki itu tidak menyangka kalau mereka akan datang menyusul.
"Mas, saya masuk ke dalam dulu," ucap wanita berwajah teduh itu sambil menunduk.
"Silakan, Wi," balas Arga.
Laki-laki itu langsung menggendong anaknya. Sang bocah merasa senang karena bisa bersama dengan ayahnya lagi. Arga melemparkan senyuman kepada Marsha lalu mengajaknya untuk duduk di bale yang ada di bawah pohon nangka.
Orang-orang melihat mereka sebagai keluarga yang harmonis. Banyak yang memuji kecantikan Marsha dan ketampanan Arga. Alva yang lucu dan pintar membuat orang-orang gemas kepadanya.
"Eyang ikut kita saja, ya?" Barata mencoba membujuk ibunya.
"Eyang tidak mau, tinggal di tempat orang itu tidak kerasan. Apalagi masih ada Dewi yang harus eyang jaga," ucap Sari, ibunya Barata.
"Ya, kita ajak juga Dewi ke sana," balas Barata.
Arga tidak ikut campur dengan neneknya mau tinggal di mana. Bagi dia di mana pun neneknya akan tinggal, harus membuatnya nyaman. Kakeknya juga berharap kalau Arga mau melanjutkan usaha milik kakeknya saat ini. Laki-laki itu tidak tertarik dengan perkebunan dan peternakan. Dia lebih suka bekerja di balik meja alias pekerja kantoran.
Marsha beberapa kali melihat Dewi curi-curi pandang kepada Arga. Jika dilihat dari wajahnya, perempuan itu usianya di bawah dirinya. Mungkin seumur Sakti atau di atasnya sedikit.
"Apa Dewi mau ikut tinggal di rumah Pak Dhe?" tanya Sari kepada perempuan yang duduk di sampingnya.
"Jika Eyang akan ikut tinggal bersama dengan Pak Dhe dan Bu Dhe, maka aku juga akan ikut," jawab Dewi.
Arga dan Marsha membelalakkan matanya. Kedua orang itu terkejut. Maka, dengan tinggalnya mereka di rumah Barata, status perceraian keduanya akan terungkap.
***
Bagaimana reaksi Eyang saat sudah tahu Arga dan Marsha bercerai? Ikuti terus kisah mereka, ya!