
Bab 50
Setelah acara pengajian selesai Marsha mendatangi Ayu. Dia tidak mungkin tidur bersama dengan Arga karena hubungan mereka sudah bukan suami istri lagi.
"Nanti ibu akan tidur di kamar itu juga. Biar Arga tidur dilantai atau di ruang keluarga bersama dengan yang lain," ucap Ayu.
"Terima kasih, Bu." Marsha sangat senang karena mantan mertuanya pengertian.
Tanpa keduanya sadari kalau Dewi mendengarkan pembacaan mereka. Tentu saja wanita itu sangat terkejut saat tahu status Arga saat ini adalah Duda.
'Aku tidak menyangka kalau Mas Arga dan Mbak Marsha sudah bercerai. Kenapa mereka berpisah? Apa karena Mbak Marsha koma begitu lama? Masa hanya karena itu mereka berpisah?' batin Dewi bertanya-tanya.
'Ya Allah, semoga saja aku berjodoh dengan Mas Arga,' lanjut Dewi dalam hatinya.
Sudah sejak lama Dewi memendam rasa suka kepada Arga. Dia tipe perempuan yang suka diam-diam memperhatikan orang yang disukainya. Mengikuti semua aku media sosial milik laki-laki itu dan memberikan like juga komentar.
Dahulu dia sering menangis saat melihat foto-foto Arga bersama Valerie. Cemburu menguasai hatinya dan hanya melalui air mata dia melampiaskan perasaan itu. Hati Dewi sangat senang saat Arga mengubah status pacaran menjadi jomlo. Juga foto-foto bersama Valerie dihapus semua dari akun miliknya.
Meski sudah tahu Arga sedang tidak menjalin hubungan dengan wanita mana pun, itu tidak membuat Dewi mengakui perasaannya kepada Arga. Dia malu karena merasa dirinya hanya orang yang tidak punya. Dia hidup juga karena diurus oleh Sari yang merupakan kerabat jauh keluarganya.
Hati Dewi kembali hancur saat mendengar Arga akan menikah dengan gadis paling cantik di desanya. Apalagi keluarga wanita itu merupakan orang terpandang.
Sebentar banyak laki-laki yang menginginkan Dewi menjadi calon istrinya, tetapi wanita itu selalu menolak. Hati dia tidak bisa berpaling kepada yang lain. Hanya Arga yang dia mau menjadi pendamping hidupnya.
'Apa sekarang aku harus mulai berani menunjukkan perasaanku kepada Mas Arga. Agar dia tahu kalau aku mencintainya?' Dewi bicara di dalam hati tanpa sadar kalau dia saat ini sedang menggoreng mendoan. Makanan itu sampai gosong
***
Arga memilih tidur di ruang tengah bersama dengan beberapa pemuda lainnya yang masih kerabat keluarga Wibowo. Mereka asyik bermain kartu dan ada juga yang bermain catur. Meski hari sudah tengah malam.
"Mas Arga ini kopinya diminum dulu!" titah Dewi sambil meletakan kopi.
"Wi, kenapa kopi punya Arga isinya paling banyak?" tanya yang lain menggodanya.
"Kalau begitu, nih, kita tukeran!" Arga memberikan gelas kopi miliknya.
Terlihat Marsha berdiri di depan pintu kamar. Arga langsung datang menghampiri.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Mau di antar?" tawar laki-laki itu.
"Tidak perlu. Aku berani sendiri," balas Marsha dengan ketus.
Arga hanya tersenyum geli karena dia tahu kalau Marsha sedang marah kepadanya. Lebih tepatnya sedang merasa cemburu. Dia teringat kejadian tadi sore tanpa sengaja wanita itu menyebut nama Dewi saat mengusirnya dari kamar. Sekarang pun ada Dewi di ruangan itu karena menyuguhkan kopi untuk semua orang.
Meski Marsha menolak tawaran Arga, laki-laki itu tetap mengikutinya. Karena letak kamar kecil berada paling pojok dari bangunan rumah itu dan lumayan jauh dari ruang utama. Terdengar suara gemerisik dedaunan membuat suasana malam ini terasa angker.
Mata Marsha membulat saat melihat ada tikus berlari dari celah bawah pintu masuk ke dalam dapur. Dia spontan berteriak saat tikus itu berlari ke arahnya. Wanita itu pun tanpa sadar melompat ke tubuh Arga. Dia merangkulkan kedua tangannya di leher dan kedua kakinya melingkar di pinggang laki-laki itu.
Teriakan Marsha tentu saja memancing semua orang yang ada di ruang tengah. Mereka semua beraliran ke dapur dan melihat Marsha sedang berada di gendong Arga.
"Ada apa?" tanya mereka bersamaan.
"Kalau mau bercinta di kamar sana! Jangan di dapur," goda salah seorang di antara mereka.
Dewi tidak suka melihat Arga dan Marsha yang seperti itu. Mereka sudah bukan suami istri lagi, tetapi masih saja berpelukan.
"Ada tikus," ucap Marsha yang masih menyembunyikan wajahnya di dada Arga.
"Tikusnya sudah tidak ada," ucap Dewi.
Marsha baru sadar kalau saat ini dirinya sedang berada di dalam gendongan Arga. Langsung saja dia turun lalu berlari ke kamar kecil. Betapa malunya dia saat ini. Mana dilihat banyak orang lagi.
Berbeda dengan Arga yang merasa sangat senang. Sudah dua kali hari ini dirinya dipeluk oleh Marsha.
'Aku sudah tidak sabar ingin segera menikahinya kembali,' batin Arga.
Dewi bisa melihat kalau tatapan Arga kepada Marsha sangat berbeda. Dia yakin kalau laki-laki itu mencintai Marsha.
'Apa Mas Arga begitu mencintai Mbak Marsha? Lalu kenapa mereka bercerai?' batin Dewi dengan tatapan penasaran ingin bertanya kepada Arga.
***
Apakah Dewi akan mengatakan kebenaran status Arga dengan Marsha saat ini kepada Sari? Atau dia akan memulai secara terang-terangan menunjukan perasaannya kepada Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!