Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 167. Gagal Bertemu


Bab 167


Mendengar kabar kedua orang tuanya mengalami kecelakaan, tubuh Alva terasa mati rasa. Seluruh panca Indra miliknya terasa tidak berfungsi. Dia juga merasa berada di dunia yang kosong.


Arshy yang sedang menggendong Alfi, terkejut melihat keadaan kakaknya. Dia memanggil-manggil namanya, tetapi tidak ada respon atau sahutan balik.


"Pak, eh, Kak, tolong aku!" teriak Arshy sambil melambaikan tangannya.


Untungnya ada dua orang laki-laki yang memakai snelli, berjalan ke arah mereka. Kedua orang itu adalah teman sesama koas dengan Alva.


"Hei, Alva! Ada apa?" tanya salah seorang dari mereka yang memiliki tubuh tinggi besar. Namun, Alva masih diam saja.


"Kita bawa saja ke ruangan tunggu," ucap yang lainnya.


Alva digendong oleh laki-laki yang memiliki tubuh tinggi besar itu. Rekan satunya lagi bersama Arshy mengikuti dari belakang. Mereka memberikan minyak kayu putih di pundak, dada, dan hidungnya Alva. Satu rekannya memijat jari jempol kaki milik kakaknya Arshy.


"Astaghfirullahal'adzim. Arshy ...." Alva melihat ke arah adiknya.


Terlihat Arshy dan Alfi sedang menangis di samping brankar. Gadis itu semakin merasa bingung dengan keadaan dia saat ini. 


"Kakak ... kenapa kakak juga seperti ini? Aku takut," kata Arshy.


Alva pun bangun lalu memeluk tubuh Arshy bersama anak angkatnya. Pemuda itu berusaha kuat menghadapi takdir ini. Sekarang dia harus mencari tahu keadaan kedua orang tuanya.


Kepala rumah sakit dan dokter senior memberikan dispensasi kepada Alva untuk pulang terlebih dahulu. Semua tugas pemuda itu juga sudah selesai dan jadwal pulang sekitar satu jam lagi.


Alva, Arshy, dan Alfi mendatangi rumah sakit di mana korban kecelakaan mendapatkan perawatan. Mereka langsung memasuki ruang UGD mencari keberadaan Marsha dan Arga.


"Ayah!" terlihat Arga yang keningnya ditutupi oleh perban, menandakan ada luka di sana. 


"Kalian ...." Arga tidak melanjutkan kata-katanya karena Arshy langsung menerjang tubuhnya dan memeluk erat sambil menangis.


Gadis itu memang yang paling dekat dan sangat dimanja oleh Arga. Laki-laki dewasa itu menenangkan putrinya, kalau dia hanya mengalami luka ringan di kepala, tangan, dan kakinya.


"Ayah, bunda mana?" tanya Alva.


"Bunda sedang tidur," jawab Arga dengan lirih.


Mereka menuju ke bilik paling pojok. Terlihat Marsha sedang berbaring di atas ranjang pasien. Wanita itu tidak terlihat ada luka di wajah atau tangannya.


"Bunda mengalami luka memar di lengan. Kata dokter dia hanya shock, karena melihat wajah Ayah yang banyak berlumuran darah," kata Arga sambil mengelus kepalanya.


Ada perasaan lega yang kini dirasakan oleh Alva. Bayangan ketakutan dia kehilangan kedua orang tuanya kini sudah hilang. 


"Alhamdulillah. Ayah dan Bunda tidak mengalami luka parah. Allah masih melindungi kita berdua," lanjut Arga dan Alva mengangguk.


Sebenarnya ada beberapa korban yang meninggal dan mengalami luka parah. Semua sudah mendapatkan penanganan dari tim medis ruang sakit itu.


Jika melihat keadaan mobil yang dikendarai oleh Arga penyok di bagian pengemudi, pastinya menduga korban akan mengalami luka parah atau bahkan meninggal. Namun, takdir berkata lain, keadaan Arga masih jauh lebih baik dengan luka yang seperti itu.


***


Marsha siuman menjelang magrib. Begitu tersadar wanita itu mencari keberadaan suaminya. Dia menangis memanggil-manggil nama Arga.


"Sayang, aku baik-baik saja. Justru kamu yang membuat aku khawatir," kata Arga yang dipeluk oleh Marsha.


"Aku takut, Mas. Kepala kamu mengeluarkan banyak darah, tadi. Aku takut kamu kenapa-kenapa," balas Marsha yang masih menangis tergugu.


Alva dan Arshy merasa bahagia karena kedua orang tuanya dalam keadaan baik dan lukanya tidak parah. Mereka pulang dari rumah sakit setelah Isya.


***


Suasana hati Safira sejak kemarin sudah berbunga-bunga karena sang pujaan hati akan datang bersama kedua orang tuanya dan anak angkat mereka. Senyum manis terus terukir dari wajahnya yang kini sudah berwana, tidak pucat lagi. 


Kebetulan dia juga sudah mulai terapi berjalan, meski pengobatan akan dilanjutkan di Indonesia. Luka di kepala dan kakinya sudah mengalami peningkatan dalam kesembuhan.


"Yang tidak sabar ingin bertemu dengan pangeran berkuda putih, terus saja melirik ke arah jam," kata Dokter Rama menggoda putrinya.


"Papa, kayak enggak pernah mengalami hal seperti ini saja! Dulu, juga sama saat akan bertemu dengan Ibu Dewi. Bahkan, Papa lebih parah dari aku," balas Safira.


Terdengar bunyi panggilan handphone milik Safira. Gadis itu tersenyum lebar saat melihat nama kekasih hatinya tertera di sana.


"Assalamualaikum, Alva." Safira dengan semangat empat lima mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam, Fira," balas Alva dengan suara lirih.


"Kamu sudah sampai?" Safira melihat jam di dinding. Jika melihat waktunya saat ini akan terasa cepat sampai dari jam keberangkatan yang biasa di ambil oleh Alva.


"Sebelumnya aku meminta maaf, karena kami tidak jadi berangkat ke Singapura karena Ayah dan Bunda mengalami kecelakaan, tadi saat menuju Jakarta."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Tapi, Ayah dan Bunda tidak apa-apakan?" tanya Safira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Alhamdulillah, hanya luka-luka ringan tidak parah. Setelah menjalani pengobatan mereka bisa pulang barusan. Mereka juga sedih karena tidak bisa menjenguk kamu di sana."


"Tidak apa-apa. Besok aku juga sudah bisa pulang ke Indonesia. Besok kita bertemu, ya?" pinta gadis itu dengan penuh harap.


"Insya Allah. Aku akan jemput kamu di bandara. Kamu dan Papa Rama berangkat jam penerbangan siang, 'kan?" tanya Alva balik.


"Iya."


"Besok aku akan menemani kamu sebelum masuk jam kerja."


"Nanti kamu capek," ucap Safira.


"Rasa capek aku akan hilang jika dekat dengan kamu," balas Alva.


Safira langsung salah tingkah dan tersenyum malu-malu mendengar ucapan Alva. Rasanya dia ingin segera bertemu dengan pemuda itu.


"Kamu segera tidur. Agar besok tubuh kamu dalam keadaan fit dan bisa melakukan perjalanan."


Safira meletakkan handphone di atas nakas. Ada rasa sedih karena Alva tidak jadi datang ke sini. Apalagi mendengar kabar kecelakaan yang menimpa kedua calon mertuanya. Namun, dia harus tetap menjadi kestabilan emosi agar tidak mempengaruhi kesehatannya. Gadis itu tidak mau keadaan dia memburuk dan nanti malah membuat dia gagal pulang ke Indonesia.


"Ada apa?" tanya Dokter Rama yang baru saja masuk kembali setelah keluar sebentar.


"Alva tidak jadi datang, karena Ayah dan Bunda mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju Jakarta. Aku merasa sedih dan bersalah, Pa. Mereka datang ke Jakarta karena akan ikut Alva datang ke sini," jawab Safira.


"Iya. Papa juga baru mendapat kabar dari Ibumu—Dewi. Kalau Arga dan Marsha mengalami kecelakaan. Tapi, kondisinya Papa tidak tahu seperti apa," ucap Dokter Rama.


"Katanya mereka mengalami luka ringan," tukas Safira.


"Kenapa aku dan Alva selalu sulit untuk bersama, ya, Pa? Apa aku dan Alva sebenarnya tidak berjodoh sehingga banyak sekali hal yang menjadi penghalang hubungan kita berdua?" tanya Safira dengan lirih.


***