Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 140. Menyusun Rencana


Bab 140


Sebelum Alva pergi, dia berpamitan kepada Safira dan Arshy. Pemuda itu juga mengingatkan mereka jangan membuka pintu kepada siapa pun, kecuali dirinya. Meski orang itu mereka kenal. 


"Kak Alva harus bisa jaga diri. Kalau dikira ada bahaya, minta bantuan kepada siapa saja yang memungkinkan bisa segera memberikan bantuan," kata Arshy dalam pelukan kakak sulungnya.


Alva menguraikan pelukan lalu mengusap pipi Arshy yang basah oleh air mata. Biasanya gadis itu jarang menangis, tetapi malam ini dia terlihat cengeng. 


"Doakan kakak agar bisa secepatnya menyelesaikan masalah ini," ucap Alva dan Arshy mengangguk.


Safira juga menangis tergugu, tetapi dia tidak berani memeluk Alva, bisa-bisa nanti dimarahi olehnya. Gadis itu hanya bisa menutup wajahnya dengan menggunakan kedua belah tangan.


Alva mengelus pucuk kepala Safira, lalu tersenyum dan mengucapkan kata-kata hiburan kepadanya agar dia tidak bersedih.


"Kenapa kamu menangis seperti ini? Kayak seorang istri mau ditinggal suaminya ke medan perang saja," kata Alva sambil tertawa.


"Iya. Aku merasa sedang menjadi seorang istri ditinggal pergi oleh suaminya ke tempat berbahaya," balas Safira sambil terisak.


Mata gadis itu sudah membengkak. Hidung, pipi,  dan bibirnya memerah semua. Karena kulit Safira yang putih jadi terlihat jelas.


"Tuh, lihat muka kamu yang menangis seperti ini mirip si Annabel," ucap Alva menyamakan muka Safira dengan boneka milik gadis itu saat masih kecil.


"Kenapa kamu menggoda aku terus?" Safira malah dibuat kesal oleh Alva karena terus digoda olehnya.


Tawa pemuda itu pecah yang membuat Safira langsung terdiam karena terpesona oleh ekspresi wajah Alva. Dia jarang sekali tertawa seperti ini, bisa dibilang suatu kejadian langka.


"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai saat aku pulang nanti malah terjadi sesuatu kepadamu," balas Alva diiringi senyuman khasnya.


Safira memeluk Arshy sebagai ganti Alva. Gadis itu masih bisa mengendalikan diri tidak main peluk atau sosor kepada laki-laki yang dicintainya.


***


Alva mengendarai motor menuju ke alamat rumah yang diduga menjadi markas penyekapan para gadis. Ternyata di sana sudah ada Alvin selain Alfarizi dan dua orang yang merupakan anggota polisi yang menyamar.


"Bagaimana?" tanya Alva.


"Mobil itu milik Leonard. Barusan Fery juga masuk ke dalam rumah itu," jawab Alfarizi berbisik.


"Lalu, sekarang kita harus melakukan apa?" tanya Alvin kepada Alva.


"Kita tunggu aba-aba dari Pak Polisi," jawab Alva dan membuat Alvin dan Alfarizi memutar bola mata mereka.


Polisi masih kesulitan masuk ke dalam rumah itu. Tidak ada bukti yang bisa dilakukan penggeledahan. Bukti zaman dahulu juga sudah tidak bisa dipakai, karena saat itu tidak terbukti.


"Apa kita perlu melakukan penyamaran?" tanya Alva kepada dua orang polisi.


"Itu memang bisa jadi salah satu cara untuk kita bisa menyusup ke dalam. Tetapi, terlalu besar resikonya. Harus orang yang ahli melakukan hal itu," jawab salah seorang anggota polisi.


Penyusupan ke markas musuh harus dilakukan oleh orang yang profesional. Mereka harus tahu betul karakter orang yang dia tiru. Jika melakukan kesalahan sedikit saja, hasilnya akan buyar dan kemungkinan terakhir adalah kematian bagi orang yang melakukan penyamaran.


"Aku rasa ada orang yang bisa melakukan penyamaran itu," ucap Alva sambil mengedarkan matanya melihat keadaan di sekitar sana. 


"Siapa?" tanya mereka berempat bersamaan.


Ide dari putra sulung Marsha disetujui oleh yang lainnya. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan barang bukti yang ada di TKP. Penjahat yang licik harus dilawan dengan cara cerdik.


"Harus secepatnya kita lancarkan strategi ini," ucap salah seorang polisi.


"Benar. Lebih cepat lebih baik," tukas Alva.


Mereka pun membubarkan diri sebelum pagi menyapa. Akan bahaya jika pihak mereka mengetahui kalau sedang diawasi. Bisa-bisa mereka akan lebih waspada dan memindahkan korban dan memusnahkan barang bukti.


***


Safira senang saat melihat Alva masuk ke kar apartemennya. Dia sampai bertepatan dengan kumandang adzan Subuh. 


"Alhamdulillah, Ya Allah. Kamu bisa kembali dengan selamat," ucap Safira dengan senyum lebar.


Alva pun membalas senyuman itu. Dia mengusap kepala gadis itu sambil melewatinya. 


"Ayo, kita sholat berjamaah!" ajak Alva.


Safira dengan semangat langsung mengambil air wudhu. Arshy juga ikut menyusul. 


Setelah selesai sarapan Alva menceritakan informasi yang didapat dan apa yang terjadi saat dia berada di sana. Kedua gadis itu merasa ikutan tegang.


"Benar juga, semoga dengan menyusupnya polisi wanita ke dalam sana masalah ini bisa diatasi," kata Safira dengan lirih.


"Tidak bisa dibayangkan bagaimana menderitanya mereka yang terpenjara di rumah itu," lanjut Arshy sambil mengusap-usap kedua lengannya.


***


Hari ini Safira pergi ke kampus agak pagi. Dia ingin sekali menginterogasi Mutiara. Sebenarnya gadis itu selalu memberi kode kepadanya setiap hari, tetapi putri Dokter Rama tidak paham. Baru semalam setelah berbicara dengan Arshy, ternyata setiap ucapan dan gerak tubuh memberikan kode kepadanya.


Jam 07:00 Safira sudah berdiri di bawah pohon Rambutan yang ada di halaman dekat fakultas kedokteran. Batang pohon itu sangat besar, jadi bisa bersembunyi di baliknya.


Sudah lebih dari sepuluh menit Safira menunggu kedatangan sahabatnya. Setiap ada jadwal kuliah, Mutiara selalu datang jauh lebih awal. Netra gadis itu menangkap target yang berjalan ke arahnya. Begitu lewat di samping pohon rambutan, tangan Mutiara ditarik oleh Safira.


"Kyaaaa–"


Safira langsung menutup mulut Mutiara. Dia menyuruh temannya ini untuk diam. Gadis itu celingukan melihat keadaan sekitar. Siapa tahu ada orang yang mengikuti sang sahabat.


Mutiara tidak jadi memberontak saat tahu orang yang menarik tubuhnya barusan adalah Safira. Dia tidak tahu kenapa sang sahabat  berbuat begini.


"Boleh aku contek tugasmu, nggak?" tanya Safira sambil menunjukan layar ponselnya.


Mata Mutiara membesar saat melihat apa yang tertulis di layar. Dia melihat kepada Safira dan gadis itu mengangguk.


Ada yang harus kita bicarakan. Tapi, secara diam-diam. Kita komunikasi lewat hp ini.


***


Ada apa dengan Mutiara? Ikuti terus kisah mereka, ya! 🙏🏻🙏🏻 belum bisa rajin update. Ngetik harus nyicil, terlalu lama lihat hp, mata terasa tuing-tuing.