
Bab 85
Belum bisa membuat hamil istrinya, Arga menjadi pesimis akan kesuburan dirinya. Lalu, diam-diam dia memeriksakan diri ke dokter. Laki-laki itu ingin tahu apakah dirinya mandul atau subur.
"Mau ke mana?" tanya Pandu saat berpapasan dengan Arga di lantai satu.
"Ada perlu sedikit ke rumah sakit," jawab Arga sambil berbisik.
"Aku ikut!" seru Pandu setelah Arga berjalan agak jauh.
Pandu penasaran kenapa sahabatnya ini ingin pergi ke rumah sakit. Belakangan ini memang Arga terlihat sering melamun. Dia yakin kalau temannya sedang punya masalah.
"Memangnya kamu mau apa periksa ke dokter?" tanya Pandu saat mendengar tujuan temannya datang ke rumah sakit.
"Mau periksa kesuburan. Kenapa Marsha belum juga hamil?" jawab Arga.
Untungnya tadi Arga sudah buat janji dengan Dokter Rama. Jadi begitu sampai di sana dokter itu sudah menunggunya. Hari ini Arga konsultasi dahulu, dia menceritakan kegundahan hatinya saat ini karena belum bisa menghamili istrinya. Padahal dia sangat ingin sekali segera memiliki anak.
"Kita periksa dahulu kwalitas sper*ma Pak Arga. Semoga saja hasilnya baik tidak ada masalah," kata Dokter Rama dengan ramah.
"Baik, Dok. Itulah yang saya harapkan saat ini," ucap Arga.
Ada panggilan masuk ke telepon Arga. Ternyata Marsha yang menghubungi dirinya. Dia pun meminta izin kepada dokter untuk mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Sayang. Ada apa?" tanya Arga sambil berbisik.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa Mas berbisik-bisik? Memangnya ada orang lain di sana?" tanya Marsha balik.
"Iya, Sayang. Mas sedang melakukan pertemuan penting," jawab Arga.
"Oh, maaf, Mas. Aku kira sedang tidak sibuk. Aku mau minta izin bawa Alva ke Timezone. Ini teman-teman dia dari PAUD mengajak pergi ke sana," kata Marsha.
"Iya. Tapi, hati-hati, ya. Jangan beli jajanan sembarangan di luar," ujar Arga mengingatkan.
"Iya, Mas. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Arga sudah satu bulan ini masuk PAUD karena beberapa temannya di komplek apartemen masuk ke sana. Arga yang sudah senang bermain bersama mereka pun ingin ikut sekolah. Sebenarnya Marsha keberatan Arga sekolah, apalagi usianya baru tiga tahun. Namun, Arga mengatakan tidak apa-apa, ini bisa menjadi tempat anak itu belajar bersosialisasi dengan orang yang seumuran dengannya. Lagian kemampuan berpikir Alva jauh lebih cerdas dari anak-anak seusianya. Dia sudah tahu huruf dan angka. Membaca iqra, membaca buku dongeng anak, dan berhitung. Apalagi menggambarkan dan mewarnai itu pekerjaan sehari-hari dari si bocah.
Arga mencari keberadaan Pandu yang tadi minta izin pergi ke toilet. Temannya itu memang suka membuatnya pusing dengan kelakuannya. Saat dia melewati ruang UGD, terlihat ada Pandu di sana. Lalu, Arga pun datang menghampirinya.
"Jika Anda seorang laki-laki sejati, maka bertanggungjawablah," kata seorang wanita paruh baya sambil melihat ke arah Pandu.
Arga tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana. Yang dia lihat di sana ada seorang laki-laki tua yang terbaring tidak sadarkan diri dan ada beberapa alat medis menempel di tubuhnya.
"Dia kenapa?" tanya Arga sambil berbisik.
"Katanya keracunan saat makan di restoran milikku," jawab Pandu.
"Iya, sudah. Manajer restoran sudah memastikan kalau Bapak ini keracunan kerang saat makan di restoran," jawab Pandu.
"Ya, kamu sebagai pemilik harus bertanggung jawab," ucap Arga.
"Aku tidak masalah kasih kompensasi uang dan biaya pengobatan. Mereka ingin tanggung jawab yang lain," bisik Pandu terlihat kesal.
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Arga penasaran.
"Mereka menyuruh aku menikahi anaknya yang buruk rupa itu," jawab Pandu.
Arga pun mengalihkan perhatiannya kepada dua orang perempuan yang berdiri di seberang brankar. Seorang perempuan cantik dan satu lagi memiliki wajah yang rusak. Memang sangat mengerikan wajahnya. Seperti bekas kecelakaan karena banyak sekali bekas jahitan dan juga jerawat.
Sebagai laki-laki tentu saja mempunyai pasangan yang cantik adalah salah satu yang sering menjadi pertimbangan saat memilih pasangan. Ukuran kecantikan seseorang itu relatif, menurut si A itu cantik, belum tentu hal yang sama penilaian menurut si B. Namun, memilik perempuan berparas jelek seperti ini sebagai pasangan hidup, pasti banyak lelaki yang akan menolak.
"Jika hati dan akhlak baik tidak masalah. Wajah dia bisa diperbaiki dengan operasi plastik. Kamu kan punya banyak uang," bisik Arga dan Pandu melotot kepadanya.
Wanita paruh baya itu terus memperhatikan Arga dan Pandu sejak tadi. Terbesit dalam hatinya ingin juga menjadikan Arga sebagai menantu satunya lagi.
"Anda juga bisa menikahi anak aku yang satu lagi. Dia bernama Putri," kata wanita yang bernama Marini kepada Arga.
"Haaaah, maaf aku sudah punya anak dan istri," balas Arga menolak dengan tegas.
"Tidak apa-apa jadi istri kedua juga," kata perempuan bernama Putri.
"Maaf, aku cukup dengan satu istri," balas Arga kesal.
Marini bersikukuh menyuruh Pandu untuk menikahi gadis si buruk rupa yang diketahui belakangan bernama Ratu. Perempuan itu juga sudah menolak paksaan ibunya.
"Jika Anda berpikir kalau aku ini kaya raya, maka kalian salah," ucap Pandu.
"Memang aku punya saham di restoran itu, tetapi bukan berarti itu semua milikku. Pendapat kotor selama sebulan sekitar 50 juta. Untuk bayar cicilan mobil 10 juta. Sewa apartemen 10 juta. Listrik dan PDAM 5 juta. Uang untuk dikirim ke kampung 10 juta. Ada sisa 15 juta. Ini untuk biaya bensin, makan, dan membeli kebutuhan aku selama sebulan. Jadi, aku tidak akan punya uang untuk diberikan kepada mertuaku kecuali sisa dari pengeluaran selama sebulan itu. Ya, paling sekitar 500 ribu sampai sejuta," jelas Pandu berbohong.
Meski sekilas terlihat jelas kalau Marini dan Putri itu adalah tipe orang matre. Berbeda dengan Ratu yang terlihat sendu tatapannya dan sering menunduk. Bahkan rambutnya menutupi wajah dia.
"Bagaimana? Apa aku ganti rugi dengan memberikan uang kompensasi sebesar 100 juta dan masalah ini dianggap selesai secara kekeluargaan," tanya Pandu kembali mencoba bernegosiasi.
"Aku lebih baik menyuruh Anda menikah dengan Ratu dan tidak mendapatkan uang 100 juta itu. Selain itu, tiap bulan Anda memberikan uang sebesar 10 juta untuk pengobatan dan biaya hidup suami aku," ucap Marini yang bersikukuh juga.
"10 juta? Maaf sekali, Bu. Anda mau menjual suami ibu demi memenuhi napsu dunia. Aku lebih baik melakukan pembelaan di persidangan. Anda boleh melaporkan restoran itu dan saya akan melawan saat di persidangan nanti," ujar Pandu.
Tidak sia-sia dia sering bergaul dengan Arga. Dia sering menggunakan cara-cara temannya ini jika sedang ditekan atau diancam oleh orang lain. Dia akan melakukan hal yang akan membuat lawannya menciut.
Arga pun tersenyum setuju dengan Pandu. Namun, dia yakin orang yang bernama Marini ini bukan tipe orang yang mudah menyerah.
***
Apakah kesuburan Arga bermasalah? Apa kehadiran keluarga Marini ini akan menarik Arga dan Pandu ke masalah baru? Ikuti terus kisah mereka, ya! [ No pelakor, ya].