Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 100. Hari Pertunangan Pandu


Bab 100


Melihat suami marah seperti itu Marsha pun menyusulnya. Dia tidak mau gara-gara masalah seperti ini hubungan mereka merenggang.


Marsha memeluk tubuh Arga dari belakang. Dia memeluknya erat sekali seakan takut laki-laki itu lepas darinya. Tidak enak hati melihat orang yang kita cintai marah.


"Mas, jangan marah seperti ini. Apa kamu tidak sayang sama aku? Mas, suka aku mendapatkan laknat dari malaikat karena sudah membuat seorang suami marah?"


Suara Marsha yang bergetar membuat dada Arga terasa sakit. Tidak ada sedikit pun dalam hatinya ada niatan seperti itu. Laki-laki itu akui kalau dirinya sekarang menjadi pencemburu. Dia tidak suka saat istrinya dekat dengan laki-laki lain atau mendapatkan perhatian lebih dari laki-laki lain.


Arga memutar tubuhnya lalu membalas pelukan sang istri lebih erat lagi. Dia mencium lama pucuk kepala Marsha. Dihirupnya wangi tubuh yang sering membuatnya tenang.


"Seharusnya aku yang meminta maaf sama kamu, Sayang. Mana mungkin seorang suami suka saat istrinya mendapatkan laknat dari malaikat. Maafkan aku yang mudah sekali cemburu karena aku tidak mau kamu memberikan perhatian lebih kepada orang lain," ucap Arga dengan lembut.


"Jadi, Mas sudah memaafkan aku? Karena sudah membuat Mas barusan marah," tanya Marsha masih dalam pelukan suaminya.


"Iya, Sayang. Mas akan selalu memaafkan salah dan khilaf kamu. Sebenarnya itu juga bukan kesalahan kamu sendiri, tapi aku juga bersalah," jawab Arga berbisik di telinga istrinya.


Pasangan suami-istri itu saling berbagi perasaan di ruang tengah. Mereka lupa kalau punya anak yang jenius. Alva yang sedang duduk manis di sofa terdiam menyaksikan kedua orang tuanya.


'Bunda dan Ayah pacaran terus,' batin Alva.


***


Akhirnya Marsha dan Arga pergi dahulu ke rumah Safira untuk mengantarkan kado. Mereka di sana hanya sebentar, sekitar 30 menit. Lalu, melanjutkan perjalanan ke kediaman Pandu yang akan melakukan lamaran ke keluarga Ratu.


"Lama sekali!" ucap Pandu ketus kepada Arga.


"Mamamu juga belum selesai berdandan," balas Arga tidak kalah ketus.


Lalu, kedua laki-laki itu pun tertawa terkekeh. Saat ini Pandu merasa tegang dan gugup. Sama ketika dia menemui orang-orang penting atau pertemuan-pertemuan penting, baik di dalam negeri mau pun di luar negeri.


"Arga, mendadak perutku sakit!" ucap Pandu lalu berlari ke kamar mandi yang ada di lantai satu tidak jauh dari tempatnya berada sekarang.


Arga hanya tertawa kecil, dulu dia juga begitu saat akan menikah dengan Marsha. Baik saat pernikahan pertama atau kedua pun demikian, bahkan lebih parah lagi.


Mamanya Pandu baru pertama kali bertemu dengan Marsha dan Alva. Wanita paruh baya itu sangat senang bisa mengenal istri dan anaknya Arga.


"Mama lebih suka sama Marsha dibandingkan dengan pacaran kamu dahulu, Arga," kata Ambar, ibunya Pandu. [Aku lupa siapa nama mama dan papanya Pandu. Kita anggap saja Ambar dan Bima 😁]


Arga tersenyum malu-malu, sementara Marsha hanya tersenyum tipis. Dia memang suka sentimen jika ada orang yang menyinggung Valerie.


"Oh, Valerie. Dia sudah lama sadar dari koma dan sekarang sedang membuka usaha restoran atau cafe," ucap Bima, papanya Pandu.


"Papa Bima bertemu dengan Valerie di mana?" tanya Arga spontan.


"Kemarin lusa di jalan Tentara. Usahanya baru berjalan sekitar tiga bulan," jawab Bima.


Arga dan Marsha saling melirik. Mereka seakan bicara lewat tatapan mata.


'Apa kamu tahu kalau Valerie sudah ke luar dari penjara?' Tatapan Marsha seakan bicara seperti ini.


'Tidak tahu. Sungguh aku baru tahu hal ini,' balas Arga lewat tatapannya.


***


Rombongan pun pergi ke rumah orang tua Ratu. Di sana ada Hendra dan Marini yang menyambut kedatangan keluarga Pandu dengan suka cita. Sementara itu, wajah Putri terlihat jelas sangat suram. Berbeda dengan Ratu yang terlihat malu-malu setelah mendengar bisikan dari Ambar.


Proses acara lamaran pun berjalan lancar. Selama itu Alva menatap wajah Ratu dengan penuh selidik. Lalu, bertanya kepada Marsha kenapa wajahnya bisa seperti itu?


Sambil berbisik Marsha mengatakan kalau Ratu mengalami kecelakaan. Setelah itu dia menyuruh anaknya untuk diam karena mereka sedang dalam acara resmi.


Ratu ikut dengan Ambar dan Bima karena besok mereka akan langsung pergi ke Thailand. Wanita itu akan melakukan operasi wajah di sana. Sementara itu, Marini dan Putri senang saat menerima uang sebesar 50 juta dari Bima agar tidak menggangu atau mengusik kehidupan Ratu setelah ini. Bahkan mereka menandatangani surat perjanjian. Kedua orang tua Pandu tahu kalau ibu dan anak ini adalah orang-orang yang jahat.


"Kita akan bertemu lagi di hari pernikahan mereka nanti," ucap Ambar kepada Hendra.


"Tolong jaga Ratu dengan baik. Dia itu anak yang baik dan penurut," kata Hendra.


"Tentu saja kami akan menjaganya dengan baik. Dan akan aku pastikan kalau Ratu bisa hidup lebih bahagia daripada saat tinggal dengan kalian," ujar Ambar dengan serius.


***


Sejak pergi ke acara pertunangan Pandu dan Ratu, Marsha menjadi pendiam. Dia memikirkan Valerie yang bisa saja mengganggu Arga kembali. Ibunya Alva ini tidak mau lagi merasakan sakit hati dan cemburu seperti dahulu.


"Sayang, ada apa?" tanya Arga sambil membelai rambut Marsha.


Pasangan suami-istri ini sedang berbaring di atas kasur. Biasanya mereka akan berbincang-bincang sebentar membicarakan apa saja yang sudah terjadi kepada mereka seharian itu.


"Aku ingin kejujuran kamu, Mas. Apakah Mas tahu kalau Valerie sudah bebas dari penjara?" tanya Marsha sambil melihat ke arah bola mata Arga.


***


Kira-kira Arga tahu tidak, ya, kalau Valerie sudah ke luar dari penjara? Apakah Valerie akan kembali membuat hubungan Arga dan Marsha kembali merenggang? Ikuti terus kisah mereka, ya!