Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 114. Menghajar Pengganggu


Bab 114


Pak Baroto pergi meninggalkan Valerie di ruang tengah. Dia bergegas pergi ke kamar ingin bersenang-senang dengan Marsha. Muka mes*um tercipta karena membayangkan apa yang akan terjadi. 


"Loh, kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" Pak Broto beberapa kali mencoba membuka pintu kamar, tetapi tetap tidak bisa. Seakan dikunci dari dalam.


Laki-laki itu pun mencoba mendobraknya dengan sekuat tenaga. Namun, tetap tidak berhasil. Malah dia merasakan tubuhnya yang sakit karena membentur papan kayu jati yang berdiri kokoh.


"Si*al!" umpat Pak Broto sangat kesal.


***


Sementara itu, Valerie masih menatap wajah Arga yang terlihat semakin tampan sekarang. Rasa kekaguman kepada sang pujaan hati semakin bertambah. Rasa ingin memiliki juga begitu kuat dia rasakan.


"Ayang, kamu begitu tampan. Seharusnya hanya aku yang boleh memiliki dirimu," ucap Valerie pelan seakan berbisik.


Wanita itu mengulurkan tangannya lalu menyentuh pipi Arga dengan lembut. Manik netranya tidak bisa lepas dari pahatan sempurna dari maha karya Sang Pencipta.


"Aku masih mencintaimu, Arga." Valeriw memajukan wajahnya hendak mencium bibir Arga.


Mata Valerie terbelalak saat merasakan sebuah cengkeraman di wajahnya. Lalu, detik berikutnya di terjungkal ke lantai.


"Aaaaawwww, sakit!" Valerie merintih kesakitan dalam posisi terlentang.


Arga menatapnya tajam kemudian dia menjambak rambut Valerie dan menariknya ke luar resort.  Dia mengabaikan teriakan wanita itu yang mengerang kesakitan dan minta dilepaskan.


"Arga, hentikan!" Valerie mencoba membebaskan diri.


Arga seakan menulikan telinganya, dia tidak mendengar permohonan Valerie. Kemarahan sudah menyelimuti dirinya.


"Aku tidak terima dengan perlakuan kamu ini!" Valerie masih berteriak saat hampir mencapai pintu keluar.


Dengan kuat Arga mendorong tubuh Valerie sehingga menggelinding menuruni anak tangga yang hanya beberapa undakan saja. Setelah itu, dia menutup pintu. Bergegas dia mencari keberadaan Marsha. Tempat yang dituju pertama kali adalah kamar tidur. Begitu dia sampai di sana terlihat Pak Broto sedang berusaha mendobrak masuk.


Tanpa bicara apa pun Arga langsung melayangkan pukulan ke arah muka Pak Broto dengan kuat. Laki-laki tua itu mengerang kesakitan. Ternyata hidungnya mengeluarkan darah. Begitu juga dari mulutnya karena ada gigi yang tanggal.


"Kau ...!" Pak Broto menunjuk Arga.


Kembali Arga melancarkan serangannya kepada orang yang punya niat buruk kepada istrinya itu. Kali ini dia menendang bagian inti Pak Broto sampai laki-laki itu pingsan. Lalu, dia pun menyeret tubuhnya dan melemparkannya keluar di mana Valerie masih menangis sambil duduk.


"Aku akan membuat perhitungan dengan kalian!" ancam Arga sebelum mengunci pintu kembali.


Bergegas Arga berlari ke kamar di mana Marsha berada. Dia bisa dengan mudah membuka pintu itu yang tadi sulit dibuka oleh Pak Broto. Napasnya memburu dengan cepat, begitu masuk dia melihat sang istri sedang tidur memeluk guling dengan wajah yang damai.


"Alhamdulillah, Engkau susah menjaga dan melindungi istri hamba," gumam Arga dengan mata yang berkaca-kaca.


Laki-laki itu ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Dia membelai pipi mulus dan ranum milik Marsha. Arga berharap kalau Marsha tidak mengetahui kejadian ini. 


Arga langsung menghubungi bagian keamanan resort dan memberi tahu apa yang sudah terjadi kepadanya. Dia memarahi orang yang bertugas dan sampai teledor dengan kecolongan membiarkan orang bisa masuk ke tempatnya.


Marsha membuka mata, lalu dia memeluk tubuh suaminya dan menelusupkan wajahnya ke dada bidang yang selalu jadi tempat favoritnya. Dia melanjutkan tidurnya kembali dengan senyum sedikit mengembang.


***


Keesokan harinya Marsha dan Arga pergi ke Labuan Bajo. Tempat yang tidak kalah indah. Apalagi di sini tidak ada yang menggangu mereka. Kebahagiaan menyelimuti Arga dan Marsha di kegiatan bulan madu kali ini.


"Nanti kita agendakan lagi liburan ke sini, Mas. Pasti Alva akan suka," ucap Marsha sambil menikmati pemandangan Pulau Kelor.


Banyak sekali tempat wisata alam di Labuan Bajo dan membuat betah pengunjung. Pemandangan yang sangat indah memanjakan mata bagi siapa saja.


"Iya, Sayang. Aku harap di sini sudah tumbuh calon adiknya Alva. Kalau bulan depan masih belum menunjukan adanya calon anak kita. Aku akan lebih bekerja keras lagi," ucap Arga sambil mengelus perut rata milik Marsha.


'Ya Allah, semoga Engkau segera memberikan anugrah dan rezeki kepada kami." Marsha berdoa di dalam hatinya.


Entah kerja keras seperti apa lagi maksud Arga. Selama bulan madu saja mereka sangat sering melakukannya. Kadang Marsha ngomel karena rambutnya belum juga kering, sudah harus keramas lagi.


Marsha dan Arga jalan-jalan mencari oleh-oleh khas Labuan Bajo untuk diberikan sebagai cenderamata. Biasanya mereka akan senang jika mendapat hadiah meski harganya tidak seberapa.


***


Berbeda dengan saat pergi bulan madu, sekarang Marsha dalam keadaan pulang. Justru dia sering menggoda Arga yang menjadi mabuk udara. Padahal selama ini dia tidak pernah seperti itu.


"Lemes, Yang," ucap Arga setelah beberapa kali muntah.


"Kasihan sekali suamiku ini. Apa obatnya susah di minum?" Marsha mengusap-usap kepala Arga.


"Sudah, tapi kayaknya saat muntah ikut keluar lagi," balas Arga dengan pelan.


Kalau sedang sakit seperti ini Arga tidak akan ada bedanya dengan Alva. Mereka akan manja dan tidak mau ditinggal.


***


Arga muntah-muntah apa karena mabuk udara atau karena ...? Ikuti terus kisah mereka ya!