Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 81. Malam Pertama (2)


Bab 81


Mendengar ucapan Alva, Arga dan Marsha merasa malam pertama mereka akan gagal. Bocah itu malah mengambil semua mainan dibawa ke atas ranjang. Dia memberikan barang-barang itu kepada kedua orang tuanya masing-masing satu.


"Lakukan sesuatu agar Alva memilih tidur," bisik Arga.


"Jangan bisik-bisik Ayah. Dosa! Nanti akan ada yang sakit hati. Benarkan, Bun?" Alva melihat ke arah Marsha meminta dukungan kepadanya.


Marsha pernah bilang kepada salah seorang pegawai di peternakan milik Bagas, yang waktu itu ada tiga orang sedang memberi pakan ayam. Ada dua orang diantaranya saling berbisik-bisik, sementara itu yang seorang lagi hanya menatap dengan penuh curiga kepada mereka. Marsha yang melihat itu langsung menegur perbuatan keduanya. Alva yang penasaran terus saja bertanya kepada Marsha kenapa menasehati orang-orang yang sedang bekerja.


"Kita sedang berbisik-bisik untuk melakukan kejahatan, tetapi berbisik-bisik untuk melakukan kebaikan," balas Arga dan Marsha langsung mencubit paha suaminya.


"Sayang, sakit," ucap Arga lirih.


"Mana yang sakit? Kenapa bisa sakit?" tanya Alva sambil melihat ke arah Arga.


Arga dan Marsha menepuk kening mereka. Pusing juga punya anak yang cerdas dan peka seperti Alva ini. Ditambah pandai berbicara dan tidak kehabisan kata-kata.


"Kayaknya ada semut yang gigit ayah," jawab Arga.


"Semut? Pasti Ayah sudah jahat sama semut, ya? Makanya dia gigit Ayah," tukas Alva menuduh Arga.


Marsha menyeringai senang, biar Arga tahu kalau dirinya juga sering dibuat kelimpungan oleh ucapan Alva. Bocah yang sebentar lagi akan berusia tiga tahun itu memiliki daya pikir yang hebat dan rasa ingin tahu yang tinggi.


"Eh, katanya ingin main. Kita sekarang main apa?" Arga berusaha mengalihkan perhatian Alva agar tidak terus menanyainya.


Akhirnya Arga dan Marsha memilih bermain dengan Alva sampai bocah itu mengantuk lalu tidur. Karena kelelahan kedua pengantin baru itu pun jatuh tertidur pulas. Malam pertama mereka, Arga gagal melakukan eksekusi kepada Marsha. Agenda membuat adik untuk Alva harus dipending dahulu.


***


Dini hari Arga membangunkan Marsha untuk sholat tahajud bersama. Meski masih mengantuk keduanya pergi ke kamar kecil.


Setelah selesai sholat Marsha mencium tangan Arga sedangkan laki-laki itu mencium kening sang istri. Keduanya saling menatap dengan penuh damba. Terlihat jelas ada pancaran cinta dari netra pasangan pengantin baru itu.


"Entah berapa banyak aku mengucapkan Alhamdulillah sebagai rasa syukurku. Karena Allah sudah begitu baik kepadaku dengan mengabulkan doa-doaku untuk menyatukan kita berdua kembali," ucap Arga hampir berbisik takut membangunkan Alva.


"Jika kita berprasangka baik kepada Allah, maka Dia pun akan memberikan yang terbaik untuk kita," tutur Marsha diiringi senyum manisnya.


Tangan laki-laki itu terulur mengelus jemari tangan Marsha. Lalu, dikecupnya jari-jari lentik milik sang istri.


Pipi Marsha langsung merona mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya. Tatapan mata Arga menghipnotis dirinya sehingga dia tidak bisa menolak sentuhan lembut dan hangat di bibirnya. Seiring dengan gerakan benda kenyal itu, sang wanita menutupkan matanya. Dia menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh suaminya.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Jangan buat suara, nanti Alva bangun," jawab Marsha dengan malu-malu. 


Dilihat jam dinding yang menunjukkan pukul 02:30 jadi masih ada waktu hampir dua jam lagi ke waktu subuh. Suasana sangat mendukung untuk merajut cinta di malam pertama mereka.


Arga pun tersenyum lalu melihat ke arah bocah yang sedang tidur pulas sambil memeluk guling. Tiba-tiba saja terbersit sebuah ide di kepala dia. Dengan perlahan laki-laki itu menggotong tubuh Alva.


"Mau dibawa ke mana dia, Mas?" tanya Marsha.


Sekarang mereka berdua sudah punya panggilan sayang. Katanya biar romantis menurut Arga. Mau tidak mau sebagai seorang istri, Marsha harus mengikuti keinginan sang suami. Tadinya wanita itu masih ingin memanggilnya "Kakak" karena dia sudah merasa nyaman dan terbiasa.


Arga memberi kode Marsha agar jangan bersuara. Laki-laki itu hendak memindahkan Alva ke kamar sebelah dahulu sampai waktu subuh.


"Mau ke masjid, Yah?" tanya Alva setelah membuka matanya.


'Ouuuw, tidak! Kenapa Alva malah bangun. Gagal, deh,' batin Arga.


Marsha hanya terdiam menahan tawanya. Dia tahu apa yang ada di dalam  benak suaminya. Malam pertama mereka ini sudah gagal total.


"Tidak. Ayah mau memindahkan kamu tidur," jawab Arga jujur.


"Alva mau dibawa ke mana?" tanya bocah itu lagi.


"Tidak dibawa ke mana-mana. Hanya dibenarkan posisinya agar tidak jatuh," jawab Arga yang kini sudah menidurkan kembali anaknya di posisi tadi.


"Bun, tepuk-tepuk." Alva akan kembali tidur jika ditepuk-tepuk oleh Marsha.


Tatapan Arga mengisyaratkan agar Marsha secepatnya menidurkan Alva. Agar mereka berdua segera bisa mengungsi ke kamar sebelah. Marsha sendiri malah tertawa terkekeh lalu naik ke atas ranjang.


"Sini, Mas!" ajak Marsha kepada Arga supaya tidur disampingnya.


Senyum lebar menghiasi wajah Arga. Laki-laki itu langsung membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Dia pun memeluk tubuh sintal Marsha dan menghirup wangi tubuh wanita itu.


'Masih ada waktu. Semoga saja sempat,' batin Arga.


***


Apakah Arga bisa mendapatkan momen di waktu menjelang subuh atau gagal total? Ikuti terus kisah mereka, ya!