Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 72.


Bab 72


Arga dan Marsha saling menatap. Lalu, laki-laki itu berkata, "Aku hanya mau menikah sama kamu, Marsha. Tidak mau dengan wanita yang lain."


Ada perasaan hangat di hati Marsha. Tentu saja dia tahu akan perasaan Arga kepadanya. Hanya saja dia tahu apa nanti laki-laki itu akan menuruti keinginan eyangnya untuk dijodohkan dengan Dewi.


"Bagaimana kalau eyang bersikukuh meminta kamu untuk menikah dengan Dewi?" tanya Marsha.


"Kita kawin lari saja. Bukannya kita berdua yang akan menjalani kehidupan keluarga nanti. Aku tidak mau berbuat bodoh lagi dengan melepas dirimu. Sementara kebahagiaan aku ada bersama kamu," jawab Arga dengan sungguh-sungguh.


Senyum manis menghiasi wajah Marsha. Dia juga merasakan hal yang sama saat ini. Jika dulu, bersama Arga merasa dirinya sangat menderita, kini dia merasa bahagia saat bersama dengannya.


Segala persyaratan dokumen pernikahan sudah selesai diurus oleh Arga. Berkas itu juga sudah didaftarkan ke KUA, kemarin. Bodohnya dia kenapa memutuskan menikah lima bulan lagi. Hal ini hanya diketahui oleh kedua orang tua Marsha dan Arga. Sari dan Dewi tidak tahu akan hal ini.


"Apa kita minta kepada pihak KUA untuk mempercepat tanggal pernikahan kita?" tanya Arga.


Marsha tidak bisa menjawab ini karena tanggal pernikahan itu yang menentukan adalah Bagas. Kalau dirinya pasti akan memilih untuk mempercepat pernikahan mereka.


***


Bagas dan Barata melibatkan polisi atas kasus penjualan mobil curian. Orang yang membeli mobil itu dituduh menjadi penadah. Hal ini karena orang itu tidak bisa membuktikan kalau dia sudah membeli mobil itu. Tidak ada kwitansi atau surat perjanjian jual beli. Katanya dia membeli mobil itu seharga 150 juta.


Polisi pun melakukan interogasi kepada laki-laki yang bernama Budiman. Sudah lebih dari satu jam dia ditanyai oleh aparat. Bagas dan Barata menunggu di ruang depan kantor polisi.


"Pak, sebenarnya ada mau aku tanyakan. Apakah seseorang bisa di penjara jika terbukti sudah menjebak orang lain?" tanya Bagas.


Barata yang duduk di samping Bagas cukup terkejut mendengar hal itu. Dia jadi penasaran akan kasus apalagi yang sudah menimpa keluarga mantan besannya ini.


"Jika ada bukti yang kuat untuk menjerat di pelaku, Bapak bisa melaporkannya," jawab seorang polisi bertubuh tinggi berisi.


"Memangnya siapa yang sudah menjebak?" tanya Barata berbisik.


"Aku sedang menyelidiki orang yang sudah memberi minuman yang dicampur obat perangsang dan obat bius ke dalam minuman Marsha dan Sakti dahulu. Aku tidak terima putriku dikatai wanita murahan dan tidak terhormat sampai bisa hamil di luar nikah," jawab Bagas dan ikuti menohok hati Barata.


Ayahnya Arga dan Sakti tahu apa maksud dari ucapan Bagas barusan. Barata tahu kalau ibunya kerapkali mengatakan hal-hal yang buruk kepada Marsha hanya karena kehamilan di luar nikah yang tidak diduga dan diinginkan oleh siapapun.


"Kalau begitu aku juga akan ikut mencari pelaku," tukas Barata.


"Bagaimana, Pak?" tanya Bagas kepada kepala kepolisian.


"Orang itu mengaku kalau mobil itu dia dapat setelah melakukan penculikan Nona Marsha. Dia disuruh oleh seseorang melalui telepon. Semua kejadian itu sudah mereka merencanakan melalui telepon. Secara langsung Budiman belum pernah bertemu dengan orang itu. Namun, kita sudah mengantongi nomor orang yang menyuruh dia," jawab kepala polisi.


Pihak kepolisian pun melacak pemilik nomor itu. Bagas dan Barata sepakat untuk memenjarakan orang yang sudah berbuat jahat kepada anak mereka, tiga tahun yang lalu.


***


Pagi hari Arga pulang dulu ke rumah untuk mengganti baju dan membawakan pakaian milik Marsha dan Alva. Kebetulan baju mereka ada yang masih tersimpan di lemarinya.


"Arga? Kok, kamu sudah pulang kampung lagi?" tanya Sari begitu Arga masuk ke rumah.


"Iya, Eyang. Arga ada perlu sama Marsha," jawab Arga, kemudian laki-laki itu bergegas masuk ke kamarnya.


Sari menggerutu karena Arga buru-buru pergi meninggalkan dirinya. Wanita tua itu pun pergi menuju dapur.


"Kamu masak apa, Wi?" tanya Sari kepada Dewi.


"Cumi asam pedas, Eyang. Lalu, sayur sop, dan goreng mendoan," jawab Dewi sambil menunjuk beberapa menu makanan yang sudah tertata rapi di wadah.


"Aduh, sudah eyang bilang jangan masak seafood di sini. Arga alergi seafood," bisik Sari mengingatkan anak asuhnya.


"Loh, bukannya Mas Arga sudah pergi ke ibu kota?" tanya Dewi terkejut.


"Katanya ada perlu sama si Marsha. Kamu harus terus pepet terus si Arga kalau mau nikah dengannya," ujar Sari.


Mendengar ucapan Sari tentu saja membuat Dewi senang. Dia sudah merasa sangat rindu kepada Arga. Padahal dua hari yang lalu mereka masih bertemu.


'Sekarang saatnya aku harus bisa memikat hati Mas Arga. 


***


Semoga nanti bisa update lagi, kalau tidak ketiduran. Ikuti terus kisah mereka, ya!