
Bab 43
Arga merasakan panas di pipinya dan bibirnya juga merasa sakit. Dia bisa merasakan ada darah yang keluar dari luka gigitan yang dibuat Marsha. Meski begitu dia tidak marah kepada Marsha. Justru laki-laki itu merasa bersalah karena sudah dengan lancang mencium bibir ranum milik sang istri, tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam sang suami merasa senang. Karena bisa merasakan kelembutan dan manis dari benda kenyal yang selalu menggoda dirinya selama ini.
Napas Marsha memburu karena kehabisan oksigen dan amarah yang sedang menguasai dirinya. Tatapan wanita itu menyalang, terlihat jelas kalau dia sedang marah kepada laki-laki yang berdiri di depannya.
"Maaf. Aku—"
"Pergi!"
Lagi-lagi Marsha berteriak sambil menunjuk ke arah pintu balkon. Dia lupa kalau ada Alva di sana sedang tertidur lelap.
"Marsha, aku—"
"Pergi dari sini ... atau aku berteriak kencang agar ayah dan para tetangga datang ke sini dan menyeret kamu keluar dari rumah!"
Arga tidak bisa berkutik lagi. Dia merutuki kebodohannya karena tidak bisa menahan diri. Jika saja tadi laki-laki itu bisa mengendalikan hasrat yang tiba-tiba muncul menguasai dirinya, maka tidak akan ada pengusiran seperti ini kepadanya.
Nasi sudah menjadi bubur, Arga tidak bisa lagi meredakan emosi Marsha dan memintanya agar bisa bersama malam ini. Kesenangan sesaat harus dia bayar mahal.
"Baiklah aku akan pergi. Untuk pembahasan yang sempat tertunda tadi sore, kita bahas lagi besok," kata Arga setelah menarik napas panjang.
"Dan untuk ciuman itu ... anggap saja sebagai ungkapan perasaanku kepadamu. Kamu bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya," lanjut Arga masih diam mematung di depan Marsha.
"Untuk perasaanku kepadamu itu adalah jujur. Bukan bohongan atau pura-pura," tambah Arga.
Marsha benci kepada sang suami yang sudah begitu banyak memberikan luka dalam hidupnya. Namun, sekarang dia dengan mudahnya bilang cinta dan tidak mau berpisah.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kamu rasakan. Sudah cukup kamu menorehkan luka dalam hidupku," balas Marsha dengan sengit.
Terdengar suara pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar. Lalu terdengar suara Bagas memanggil nama putrinya.
Arga hanya bisa pasrah jika ayah mertuanya menyeret keluar rumah. Laki-laki itu mendekati Alva lalu mencium keningnya dengan lembut diiringi dengan doa untuk kebaikannya.
"Ayah akan selalu sayang sama Alva sampai kapan pun. Kamu adalah anak ayah," bisik Arga sebelum pergi dari kamar itu.
Terlihat Bagas sudah berdiri di dekatnya. Barusan Marsha membuka kunci pintu dan laki-laki setengah paruh baya itu menerobos masuk.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Marsha sampai dia berteriak seperti tadi?" tanya Bagas sambil mencengkeram baju Arga.
Sang menantu melirik ke arah Marsha. Kedua netra mereka bersirobok sejenak sebelum perempuan itu memalingkan wajahnya. Jelas sekali kalau dia tidak mau beradu pandang dengan laki-laki yang sudah mencuri ciumannya.
"Aku hanya melakukan apa yang boleh suami lakukan kepada istrinya," jawab Arga ambigu.
"Apa? Kamu berniat meniduri anakku!" Bagas memberikan pukulan ke arah wajah Arga sampai jatuh tersungkur.
"Kamu berniat melecehkan putriku! Tidak akan aku biarkan."
Bagas kembali melancarkan pukulan ke wajah Arga. Sang menantu tidak melawan. Bukan karena dia lemah atau tidak mampu membalas pukulan itu. Namun, dia berpikir jika dirinya berada di posisi Bagas, maka akan melakukan hal yang sama juga.
"Astaghfirullah, Ayah. Apa yang sedang kamu lakukan?" Indah baru menyusul ke kamar Marsha karena tadi dia pergi ke kamar mandi untuk buang hajat.
Wanita setengah paruh baya itu menarik tubuh suaminya. Dia juga begitu terkejut saat melihat wajah memar Arga juga darah keluar dari hidung dan mulutnya.
"Ya Allah, Arga apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa ayah mertuamu sampai memukuli kamu sampai seperti ini?"
Indah membantu Arga berdiri meski dengan kesusahan karena tubuh Arga jauh lebih tinggi dan besar darinya. Sang menantu pun hanya terdiam sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya.
"Dia pantas mendapatkan itu karena berniat melecehkan anak kita," ucap Bagas dengan geram.
"Melecehkan? Maksudnya?" tanya Indah kepada Bagas.
"Tanya saja kepada Marsha apa yang sudah diperbuat laki-laki bajingan ini," jawab Bagas masih menatap tajam dan marah kepada sang menantu.
Kini Indah mengalihkan pandangan kepada putrinya. Dia ingin tahu perbuatan Arga seperti apa yang sudah diperbuat olehnya sampai membuat suaminya murka seperti tadi.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada kalian tadi?" tanya Indah dengan lembut.
Marsha merasa malu mengatakan apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Arga tadi. Bagaimanapun juga itu bukan sesuatu hal yang perlu di beri tahu kepada orang lain.
"Jawab Marsha! Jangan takut, ayah akan melindungi dan menjaga kamu. Terutama dari laki-laki berengsek seperti dia ini," ujar Bagas sambil menunjuk Arga.
"Dia ... men–cium bibir aku," jawab Marsha dengan menahan malu.
Bagas dan Indah membulatkan matanya. Mendengar jawaban dari mulut anak mereka tentu saja kedua orang itu menganga tidak percaya. Sebenarnya dalam otak mereka berpikir kalau Arga ingin meminta jatah haknya sebagai suami dan Marsha dirudapaksa olehnya.
"Apa hanya itu?" tanya Indah lalu Marsha pun mengangguk.
"Dia tidak meminta jatah untuk meniduri kamu?" Kali ini Bagas yang bertanya. Marsha pun kembali mengangguk.
Indah dan Bagas saling melirik dan merasa kalau mereka sudah salah paham. Keduanya merasa berlebihan menyiksa Arga sampai seperti itu hanya karena sudah mencium istrinya.
"Marsha obati luka Arga!" titah Indah lalu menyeret suaminya keluar dari kamar itu.
"Apa? Tapi, Bu ...." Marsha protes, tetapi kedua orang tuanya malah pergi.
***
Apakah Marsha akan mengobati Arga atau akan mengusirnya? Ikuti terus kisah mereka, ya!