Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 104.


Bab 104


Jika kamu ingin menjadi orang baik, maka bertemanlah dengan orang baik. Jika memiliki teman yang buruk, maka kemungkinan besar kita juga akan ikut seperti dirinya. Itulah wejangan yang sering Marsha dapatkan dari orang tua dan sesepuhnya di kampung. Jadi, wanita itu lebih memilih sering bergaul dengan orang-orang yang dianggap memberikan pengaruh baik kepadanya dan menjaga diri dari teman-teman yang memberikan pengaruh buruk untuk dirinya.


"Aku tidak mau menilai buruk seseorang. Bisa saja dia sudah bertaubat. Hanya saja, jika pertemanan aku dengan dia malah membuat Mas kembali dekat dengannya, lebih baik aku menjaga jarak saja dengannya. Karena isi hati seseorang siapa yang tahu kalau bukan dirinya sendiri dan Tuhan," ucap Marsha menanggapi pertanyaan suaminya.


Arga merasa senang dengan ucapan istrinya. Dia sendiri juga takut kalau ini merupakan strategi Valerie agar bisa dekat dengannya lagi. Laki-laki itu masih bisa melihat ada cinta dari tatapan wanita itu. Dia tidak mau kembali mengorbankan kehidupan rumah tangga untuk kedua kalinya.


Marsha membelai wajah Arga dengan lembut. Ditelisiknya muka tampan sang suami yang hampir mendekati sempurna baginya. Tidak ada rasa bosan untuk terus menatap ketampanan laki-laki yang merupakan cinta pertamanya.


Begitu juga dengan Arga yang menatap balik Marsha. Wajah sang istri yang ayu rupawan dan sering membuat jantungnya berdebar serta aliran darah yang berdesir di sekujur tubuhnya. Bola mata jernih seperti milik Alva yang selalu menjerat dirinya agar selalu melihat ke arahnya.


"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi seperti dahulu, Sayang," ucap Arga dengan lembut.


Mata laki-laki itu berkaca-kaca saat kilasan memori masa lalu tiba-tiba muncul. Rasanya dia ingin merutuki dirinya sendiri.


"Ya, aku yakin Mas tidak akan melepaskan diriku dan Alva untuk kedua kalinya. Jika itu sampai terjadi–"


Ucapan Marsha terpotong karena mulut wanita itu sudah dibungkam oleh ciuman lembut yang dilakukan oleh Arga. Kedua tangannya juga memeluk erat tubuh sang istri.


"Sudah aku katakan berulang kali kalau hal itu tidak akan terjadi lagi," ucap Arga tegas.


Marsha tersenyum bahagia. Dibalasnya ciuman lembut sang suami dengan sedikit nakal. Hal ini malah memicu gairah Arga.


"Aku ingin buat adik Alva sekarang," bisik Arga dan Marsha mengangguk senang sekaligus malu-malu tapi mau.


***


Kedatangan Marsha ke kantor tentu saja ini membuat orang-orang kaget sekaligus heran. Sangat jarang sekali Marsha mengunjungi Arga di kantor.


"Itu istrinya Pak Arga, ya?" tanya salah seorang resepsionis.


"Iya. Cantik, 'kan?" jawab rekannya.


Kedua pegawai itu pun membicarakan tentang hubungan Mariana dan Arga, yang masih terdengar sayup-sayup oleh Marsha. Tentu saja wanita itu menjadi penasaran akan hubungan Mariana dan Arga sekarang.


Saat Marsha hendak mengetuk pintu ruang kerja suaminya. Tiba-tiba saja pintu itu dibuka dari dalam.


Terlihat Mariana menangis tergugu saat membuka lebar pintu. Hal seperti ini justru membuat Marsha menjadi penasaran.


"Kenapa wanita itu menangis seperti itu?" gumam Marsha.


Alva lebih memilih lari masuk ke dalam ruangan itu. Bocah itu langsung memeluk Arga begitu melihat ayahnya sedang berdiri di depan dinding kaca sambil melihat pemandangan dari atas.


"Mas, barusan aku lihat Mariana menangis. Dia kenapa?" tanya Marsha.


***


Hal apa yang membuat Mariana menangis? Apakah ada yang disembunyikan oleh Arga lagi? Ikuti terus kisah mereka, ya!