
Bab 129
Alva sekarang sudah duduk di bangku kuliah di salah satu universitas yang ada di ibu kota. Saat ini dia sudah tingkat tiga dengan mengambil jurusan kedokteran. Pemuda yang memiliki paras yang rupawan ini sedang duduk di kursi paling pojok yang ada di perpustakaan.
Tiba-tiba saja ada orang yang menutup matanya dari arah belakang. Alva tahu siapa pelaku dari bau parfum yang sangat familiar di indera penciumannya. Safira, orang yang sangat suka menjahili atau menggoda dirinya.
Tidak mendapatkan tanggapan atau reaksi apa pun dari Alva, gadis itu melepaskan tangannya. Kini dia ikut duduk di samping sambil terus menatap kepada putra pasangan Marsha dan Arga.
"Alva," panggil Safira dengan mesra.
"Diamlah, aku sedang belajar," balas Alva tanpa melihat ke arah Safira.
Tidak mau membuat Alva marah kepadanya, Safira memilih diam sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan kiri. Gadis itu terus memperhatikan Alva yang sedang membaca dan sesekali menulis di kertas catatan.
"Lapar, kita ke kantin, yuk!" ajak Safira.
"Pergilah sendiri. Aku tidak lapar," balas Alva masih fokus mencatat beberapa bagian yang dianggap penting olehnya.
Safira tahu kalau Alva sedang belajar paling tidak suka diganggu. Lalu, dia pun memutuskan untuk pergi sendiri ke kantin. Dia akan bergabung dengan teman-temannya.
"Yah, kalian sudah selesai makannya?" Safira datang menghampiri teman-temannya di meja paling ujung dekat jendela.
"Kamu, sih, malah pergi mencari Alva. Ya, kita tinggal saja," balas gadis berambut pendek yang memiliki nama Ruby.
"Aku salut sama kamu, Fira. Tidak menyerah mengejar si Alva dari zaman TK sampai sekarang," ujar Mutiara yang berteman sejak TK.
"Bukan dari TK, tapi dari PAUD," ucap Intan yang pernah satu PAUD dengan mereka berdua.
"Inikah yang disebut dengan cinta sejati," kata Ruby menggoda Safira.
Bukan rahasia kalau Safira sangat menyukai Alva. Hanya saja pemuda itu terlihat dingin dan cuek kepada perempuan, termasuk Safira. Namun, bagi gadis itu perbuatan Alva adalah baik karena bisa menjaga dirinya dari godaan para wanita.
"Eh, lihat Alva datang dengan seorang perempuan. Siapa dia?" Intan menunjuk ke arah pintu masuk kantin.
Terlihat Alva sedang berbicara dengan perempuan berjilbab lebar. Meski wajah laki-laki itu datar dan dingin, banyak perempuan yang suka kepadanya. Alva juga jarang mengumbar senyum tampannya khusus kepada seseorang. Dia hanya akan tersenyum formalitas.
Melihat Alva sedang berbicara dengan perempuan, Safira langsung merasa cemburu. Selama ini dia adalah perempuan yang bebas dekat dengan pemuda itu. Namun, kini ada wanita asing yang tidak dikenal bisa berbicara dengan Alva dan terlihat santai.
Safira rasanya ingin melabrak kedua orang yang kini duduk berdua sambil makan bakso. Dia sangat marah sama Alva yang tadi menolak ajakan darinya untuk pergi ke kantin. Sementara saat ini pemuda itu malah makan berdua dengan seorang perempuan.
"Apa kamu tidak ingin mendatangi mereka?" tanya Intan berbisik kepada Safira.
Sebenarnya Safira ingin mendatangi Alva dan perempuan itu, tetapi dia tidak mau kalau nanti Alva marah dan benci kepadanya hanya gara-gara mengganggu dirinya.
Sementara itu, Alva makan dengan lahap karena sudah menahan lapar dari tadi. Gara-gara menunggu adiknya datang ke kampus membuat dia rela menolak ajakan Safira.
"Kak Alva, setelah ini tidak ada kelas lagi, kah?" tanya Arshy.
"Tidak ada. Mungkin langsung pulang ke apartemen," jawab Alva.
"Kira-kira Azka akan betah tidak kuliah di Yogyakarta sendirian, ya?" Gadis itu teringat akan kembarannya yang memutuskan kuliah di sana.
"Kalau kamu khawatir kepadanya, seharusnya ikut kuliah di sana. Kamu malah ikut Kakak kuliah di sini," ujar Alva.
"Aku 'kan ingin kuliah di sini. Lagian bosan kalau sama Azka terus. Masa dari mulai dalam perut sampai SMA kita bersama terus. Kali-kali kita berjauhan dan cari suasana baru," balas Arshy.
"Bukannya saat di pesantren kalian juga tidak bersama-sama?" Alva paling suka menggoda adik-adiknya.
"Walau asrama kita berbeda, tetapi kita masih satu pesantren," tukas Arshy.
Anak-anak Arga masuk pesantren semenjak duduk di bangku SMP sampai SMA. Dia ingin semua anak-anaknya paham akan ilmu agama yang akan menjadi benteng diri mereka dari fitnah dan kejamnya kehidupan akhir zaman. Sebenarnya pesantren mereka tidak jauh dari rumah, jadi kalau ada apa-apa Arga dan Marsha bisa langsung datang meski tengah malam sekalipun.
"Ehem ... ehem!" Terdengar suara orang berdeham dari balik punggung Alva.
Saat pemuda itu membalikan badan, terlihat Safira sedang berdiri di belakangnya. Gadis itu menatap tajam kepadanya. Namun, yang dilakukan oleh laki-laki muda itu terkesan mengabaikan sang gadis. Dia melanjutkan makan tanpa bicara.
Safira mulai kesal kepada Alva karena mengabaikan dirinya. Lalu, dia pun duduk di samping pemuda itu tanpa permisi. Gadis itu menatap tajam kepada Arshy.
"Assalamualaikum, Kak Safira," salam Arshy begitu selesai makan.
Betapa terkejutnya Arshy, gadis yang dia tatap dengan tajam dengan perasaan kesal ternyata mengenal dirinya. Sementara itu, dia sendiri tidak sendiri tidak mengenal siapa gadis berjilbab lebar ini.
"Kamu siapa?" tanya Safira dengan wajah polos.
"Aku? Kak Safira tidak kenal aku?" tanya Arshy balik saking tidak percaya.
"Emangnya kita saling mengenal?" tanya Safira lagi.
Arshy melirik ke arah Alva yang masih anteng makan. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya untuk menjahili kedua orang yang duduk di depannya.
"Kenalkan Aku adalah gadis yang akan tinggal bersama Kak Alva mulai hari ini," kata Arshy sambil mengulurkan tangan.
Alva yang sedang makan langsung tersedak karena mendengar ucapan sang adik. Dia merasakan sakit di tenggorokan dan hidung, sampai air matanya juga keluar.
Berbeda dengan Safira yang mendadak kaku tubuhnya. Dia merasa nyawanya melayang sebagian saking terkejutnya. Laki-laki yang dicintainya sepenuh hati kini malah menjadi milik orang lain.
"Hei, Kak Safira!" Arshy melambaikan tangan di depan gadis itu.
Safira melirik ke arah Alva dengan tatapan terluka. Tidak dia sadari kalau air matanya sudah jatuh bercucuran.
"Hehehe ... selamat, ya!" ucap Safira dengan suaranya yang bergetar.
Tentu saja Alva melotot kepada adiknya karena sudah berbuat ulah. Perhatiannya teralihkan saat mendengar suara kursi bergeser. Safira langsung berlari dari sana meninggalkan meja Alva dan Safira.
"Arshy, sana kejar dan minta maaf kepadanya!" perintah Alva.
"Kenapa harus aku? Kakak saja yang mengejar dia," balas Arshy.
***
Mulai dari bab sini masuk ke cerita Alva dan anak-anak Arga lainnya. Penasaran dengan kisah ke absrud an Alva dan adik-adiknya? Ikuti terus kisah mereka, ya!