Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 65. Ingin Mengungkap Kebenaran (2)


Bab 65


Ucapan Arga membuat Marsha tersentak. Setelah dia pikir kembali, kemungkinan itu benar adanya. Kalau pelaku itu orang yang mereka kenal.


"Siapa, ya? Aku tidak bisa membayangkan ada orang yang berbuat jahat kepada kita berdua," tanya Marsha.


"Bisa saja dia punya masalah terhadap dirimu atau Sakti," jawab Arga.


Kening Marsha mengkerut dengan alis yang hampir menyatu. Otaknya dipaksa berpikir keras untuk mengingat-ingat suatu kejadian yang sekiranya bisa membuat orang lain marah kepadanya. Meski sudah berpikir cukup lama, perempuan itu tidak bisa juga mengingat. 


"Jangan berpikir yang berat-berat. Bisa saja karena hal yang kita anggap sepele itu merupakan sesuatu yang besar bagi orang lain," kata Bagas dan dibenarkan oleh Indah.


Marsha kembali mengingat beberapa kejadian sebelum terjadinya kejadian malam naas itu. Dia sehari-hari pergi mengajar di sekolah dasar dan banyak menghabiskan waktu dengan anak didiknya. Pulang ke rumah kadang membuat makanan untuk diantarkan ke panti asuhan. Jika ada kegiatan muda-mudi dia baru akan ikut.


"Ah, iya. Aku rasa pelaku itu orang yang tergabung di organisasi pemuda. Hanya saja aku tidak ingat pernah berbuat sesuatu yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Saat di pertemuan itu tidak pernah terjadi perdebatan di antara aku dengan yang lain," kata Marsha sambil menepukan tangannya sekali.


Arga juga sudah bisa menduga kalau pelaku itu adalah salah seorang teman Marsha dan Sakti. Kalau orang itu melibatkan orang-orang yang menyediakan makanan dan minuman, dia tidak tahu. Bisa saja pelaku melakukan kejahatan itu seorang diri. Namun, tidak menutup kemungkinan meminta bantuan orang lain.


"Apa kamu pernah menolak seseorang?" tanya Arga.


Mata Marsha membulat karena dia sering melakukan hal itu. Namun, dia menolak mereka dengan ucapan baik dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan laki-laki yang dia tolak.


"Bukan pernah lagi, Marsha sering menolak laki-laki yang ingin mengajaknya pacaran. Dia itu maunya mencari laki-laki yang siap menjadi suami." Bukan Marsha yang menjawab, melainkan ibunya.


"Apa dari orang-orang yang kamu tolak itu ada yang hadir di pertemuan malam itu?" tanya Arga seakan sedang menginterogasi Marsha.


"Hampir semuanya hadir. Karena mereka kan pemuda di kampung ini," jawab Marsha.


Mendengar itu membuat Arga ingin segera menjadikan Marsha istrinya. Jangan sampai dia kecolongan oleh pemuda lain di kampung ini. Tidak aneh jika banyak yang menyukai mantan istrinya, karena dia merupakan kembang desa. Cantik, pintar, mempunyai sifat yang baik, dan keluarga yang terpandang. Paket komplit untuk laki-laki yang ingin mencari pendamping hidup.


"Tapi, sepertinya Sakti pernah mengatakan sesuatu kepadaku dulu saat kita membahas kejadian malam itu," tukas Marsha kembali menggali memorinya saat bersama Sakti.


Marsha memejamkan mata agar bisa konsentrasi mengingat kembali di mana dia memberi tahu tentang kehamilannya kepada keluarga Sakti. Keduanya bicara berdua di gazebo yang ada di belakang rumah Barata. 


"Dia mengatakan kalau ada orang yang menginginkan merusak reputasi dirinya dengan berbuat amoral kepadaku. Dia menduga orang itu ingin orang-orang memandang jelek diri Sakti," jawab ibunya Alva ini masih memejamkan mata.


"Jadi, sebenarnya pelaku itu ingin membuat Sakti agar berbuat jahat kepada perempuan dengan cara menidurinya. Makanya minuman dia diberi obat perang*sang. Kebetulan minuman kalian tertukar yang tinggal setengahnya lagi. Makanya kalian sama-sama merasakan hasrat ingin melakukan itu," ucap Arga berargumentasi.


Tubuh Marsha bergetar membayangkan kalau dia dan Sakti sama-sama menikmati persetubuhan itu. Bisa saja mereka tidak ingat kejadian malam itu karena memang dikuasi oleh napsu.


'Apa orang yang sedang dikuasai oleh napsu birahi sampai tidak ingat akan apa yang sedang mereka perbuat?' tanya Marsha di dalam hatinya.


'Bukannya orang yang mabuk juga tidak ingat dengan apa yang sudah mereka lakukan, ya? Masa aku dan Sakti mabuk? Perasaan enggak, deh!' batin Marsha.


"Ada apa?" tanya Arga sambil menyentuh jemari tangan Marsha.


Seketika kesadaran Marsha dari lamunannya kembali. Lalu, dia pun tersenyum tipis kepada Arga karena terlihat jelas kalau laki-laki itu sedang mengkhawatirkan dirinya.


"Aku hanya mengingat kesadaranku saat malam itu. Kok, aku kayak orang mabuk yang tidak bisa ingat apa-apa saat bangun tidur," jawab Marsha.


Tiba-tiba saja otak Arga terkoneksi akan ingatan kejadian yang dia lihat jika sedang berada di suatu pesta. Kadang ada orang yang sengaja memasukan obat perang*sang atau obat bius ke dalam minuman orang yang menjadi target mereka.


'Astaghfirullahal'adzim. Semoga saja Sakti tidak pernah melakukan hal seperti ini. Dia 'kan menyukai Marsha secara diam-diam,' batin Arga.


***


Kejam banget si Arga curiga sama adiknya? Apakah Sakti adalah dalang dari kejadian malam itu?