
Bab 132
Alva membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Dia melihat nama Safira di sana.
Alva bisa bantu aku antar ke rumah sakit? Aku menerima kabar dari polisi kalau Intan mengalami kecelakaan.
Alva terkejut mengetahui kabar ini. Tadi, setelah makan malam Safira menerima telepon dari Intan. Ternyata selang beberapa jam, ada kabar tidak mengenakan tentang dirinya.
Baiklah. Aku akan izin dulu sama Arshy.
Alva membangun adiknya dan memberi tahu akan pergi ke rumah sakit. Arshy hanya menjawab dengan gumaman. Pemuda itu tahu kalau adiknya ini sangat sulit sekali dibangunkan jika sudah tertidur pulas.
Begitu Alva membuka pintu, Safira sudah berada di sana lengkap dengan mantel tebal. Malam ini memang suhu udara terasa sangat dingin.
"Kita langsung ke Rumah Sakit Kasih, saat ini Intan masih dalam keadaan tidak sadar," kata Safira sambil berjalan menuju lift.
Mereka menaiki kendaraan milik Alva. Untungnya perjalanan berjalan lancar karena memang jalanan sudah sepi. Tidak sampai 17 menit mereka sudah sampai.
Intan yang merupakan sahabat baik Safira, kini terbaring lemah tidak berdaya. Kepala dibalut perban dan banyak luka gores di tangan. Lalu, kaki kiri dikasih gips karena tulangnya retak. Saat ini gadis itu dalam keadaan belum sadar.
"Sepertinya kedua orang tua Intan baru akan sampai sekitar dua jam lagi," ucap Safira dengan mata yang sembab karena tadi lama menangis.
"Duduklah. Kamu juga harus istirahat," kata Alva sambil menepuk kursi.
Gadis itu duduk lalu punggungnya bersandar pada sandaran kursi besi yang terasa dingin. Safira memejamkan mata teringat akan ucapan Intan beberapa jam sebelumnya.
"Alva, apa kamu percaya kalau kita bisa merasakan ajal seseorang mendekat? Maksud aku, jika seseorang akan meninggal selalu punya pirasat?" tanya Safira dengan pelan.
Alva memalingkan wajahnya menghadap Safira. Dia merasa heran kenapa gadis itu bertanya hal seperti itu.
"Tergantung. Tidak semua orang merasakan ajalnya akan tiba. Ada juga yang tanpa sadar mengatakan atau melakukan sesuatu yang mengisyaratkan kalau ajalnya akan tiba. Kenapa?" tanya Alva.
Safira mengubah posisi duduknya menjadi tegak, lalu menarik napas. Dia mengalihkan pandangannya kepada Alva.
"Tadi, saat Intan menelepon aku sebelum mengakhiri pembicaraan dia bilang, "Aku senang bisa punya teman seperti kamu. Maaf kalau aku selama ini sering merepotkan kamu. Aku tidak tahu apakah nanti bisa membalas semua kebaikan kamu." Terus aku bilang aku ikhlas melakukan semua itu karena kita harus menolong orang yang butuh bantuan. Lalu, Intan bilang lagi, "Sampaikan rasa maafku kepada teman-teman yang lain, ya? Umur siapa yang tahu. Aku takutnya belum meminta maaf kepada orang-orang, aku sudah keburu meninggal." Tadi, kamu sempat mendengar aku memarahi Intan 'kan? Ya, gara-gara dia ngomong seperti itu," jawab Safira menjelaskan.
Alva tadi sempat mendengar Safira memarahi Intan. Namun, dia tidak tahu apa yang membuat gadis itu marah seperti tadi. Kata-kata mati dan bunuh diri sempat terlontar dari mulut putri Dokter Rama.
"Menurut saksi mata dan pihak kepolisian, Intan mengalami kecelakaan dalam keadaan mabuk," ujar Alva.
"Intan seumur hidupnya tidak pernah minum minuman alkohol. Mencium bau orang yang sedang mabuk saja dia muntah-muntah," bantah Safira.
Alva terdiam dan membenarkan ucapan Safira kalau Intan adalah perempuan baik-baik. Namun, kenapa saat ditemukan tubuhnya bau alkohol dan tes darah menunjukkan ada sedikit kadar alkohol di dalam mulutnya.
"Apa ada orang yang sengaja membuat Intan minum minuman beralkohol dan membuatnya mabuk tanpa dia sadari sebelumnya?" tanya Alva.
"Aku rasa ada yang ingin membunuh Intan dengan membuatnya kecelakaan," jawab Safira ragu, tetapi hati dia merasa seperti itu.
Alva terkejut mendengar ucapan Safira. Kenapa ada orang yang ingin membunuh Intan? Apakah Intan punya musuh? Selama pemuda itu mengenal sosok Intan, gadis ini ramah dan sangat suka bercanda.
"Aku tidak tahu. Hanya saja beberapa hari ini aku merasa Intan sedang menyembunyikan sesuatu dari aku dan teman-teman yang lain," jawab Safira.
Alva berpikir keras kira-kira apa yang sudah membuat seseorang menyembunyikan sebuah rahasia dari orang terdekatnya. Sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.
"Sepertinya dia menyimpan sebuah rahasia," kata Alva dan Safira mengangguk, karena dia juga menduga seperti itu.
Kedua orang tua Intan sudah sampai ke rumah sakit. Mereka sangat terkejut atas apa yang sudah menimpa anak mereka. Alva dan Safira pun undur diri karena mereka meninggalkan Arshy sendirian sudah lama.
Jam di tangan Alva sudah menunjukkan pukul 02:15 dini hari. Keadaan jalan malam ini cukup ramai karena akhir pekan. Banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu bersama nongkrong di pinggir jalan atau balapan.
Saat di perempatan jalan ada seorang melintas di depan mobil yang dikendarai oleh Alva. Meski langsung menginjak rem mendadak, tetap saja mengenai tubuh orang itu.
Alva bergegas turun dan menyuruh Safira tetap di dalam mobil. Pemuda itu terkejut saat melihat orang yang dia tabrak adalah seorang wanita hamil. Dia pun bergegas menggendong korban dan memasukannya ke dalam mobil.
Safira terkesima saat melihat orang yang tertabrak tadi kini dalam tidak sadarkan diri. Dia semakin shock saat tahu perut perempuan dalam keadaan bunting.
"Alva, bagaimana ini?" tanya Safira panik dengan air mata berderai.
"Kita bawa ke rumah sakit," jawab Alva.
Mobil pun kembali melaju ke arah rumah sakit. Alva menancap gas agar cepat sampai. Begitu berhenti di depan ruang UGD dia memanggil tim medis.
Wanita itu merintih kesakitan. Lalu, dokter kandungan dipanggil untuk membantu proses cesar. Keadaan bayi dalam keadaan bahaya karena ketubannya sudah pecah.
"Tolong selamatkan bayi saya," ucap wanita itu kepada Alva.
"Iya, Bu. Tenang, dokter dalam perjalanan kemari," balas Alva.
"Aku titip bayiku, aku mohon lindungi dia. Jangan sampai mereka menemukannya. Aku tidak mau kalau sampai anakku dibunuh olehnya," kata wanita itu terputus-putus.
Perawat, dokter jaga, Alva, dan Safira terkejut mendengar ucapan ibu muda ini. Mereka pun berinisiatif untuk melaporkan kepada pihak berwajib.
"Tidak boleh. Kalian tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang bayi aku. Jika aku mati, maka katakan saja bayinya mati bersama aku di dalam kandungan. Kasihani bayiku, biarkan dia hidup," ucap wanita itu sebelum hilang kesadaran.
"Bu ... Bu!" Alva dan Safira belum tahu siapa identitas wanita itu.
"Mana pasien itu?" tanya dokter kandungan yang baru saja sampai dengan napas terputus-putus.
"Siapkan ruang operasinya!" perintah sang dokter.
Semua tim medis langsung bergerak agar ibu dan bayi itu bisa diselamatkan.
***
Siapakah wanita itu? Apakah Intan mengalami kecelakaan atas perbuatan seseorang atau murni kecelakaan biasa? Ikuti terus kisah mereka, ya!