Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 119. Melacak Pelaku


Bab 119


Arga dan Pandu datang ke ruang pengawas untuk mengecek rekaman CCTV. Mereka ingin melihat awal mula kedatangan dan kepergian orang yang menyusup ke dalam ruang kerja suaminya Marsha itu.


Jam menunjukkan pukul 06:30 kedatangan orang itu. Beberapa menit setelah seorang cleaning servis selesai membersihkan lantai di mana ruang kerja Arga berada. 


"Kita lihat beberapa menit sebelumnya rekaman video yang ada di pintu masuk," ucap Arga.


Pak Muh pun mengikuti setiap arahan dari Arga. Ternyata setelah diselidiki, orang itu datang sekitar 06:10 saat memasuki gedung kantor. Wanita itu memang memakai pakaian yang sangat ketat membentuk lekuk tubuhnya.


Terlihat gerak-gerik dari orang itu yang sangat mencurigakan. Terlihat jelas wanita berbaju gelap itu celingukan ke kanan dan kiri seperti takut ketahuan oleh orang lain. Lalu, dengan cepat berlari dan masuk ke dalam bangunan kantor.


Lalu, Pak Muh memutar rekaman CCTV yang ada di lobi dan perempuan itu naik lewat tangga darurat. Di sana tidak terpasang kamera CCTV.


"Wah, dia tahu seluk beluk kantor ini!" ujar Arga terkejut. Dia mengira orang itu akan naik lift.


Pak Muh mengikuti setiap instruksi dari Arga dan Pandu. Namun, orang itu seakan ditelan bumi karena tidak ada keluar dari gedung itu.


"Siapa kira-kira orang itu?" tanya Pandu bergumam dan sangat penasaran.


Arga diam sambil memutar kembali rekaman CCTV. Ada sebuah rekaman memperlihatkan seorang wanita berambut pendek dengan menggunakan kacamata hitam keluar dari gedung kantor. Orang itu naik taksi di depan.


"Ketemu! Aku tahu kenapa orang tadi tidak terlihat keluar dari bangunan ini. Karena dia keluar dari sini dengan menyamar pula," ucap Arga sambil menunjukan orang yang ada di rekaman video.


Pandu dan Pak Muh tercengang karena Arga begitu teliti. Mana mungkin orang akan ingat siapa saja yang masuk dan keluar dari bangunan ini, karena banyak sekali.


"Aku sudah menyalin nomor plat taksi. Sekarang tinggal menghubungi kantor taksi itu ke mana dia membawa penumpang tadi," ucap Arga dengan gembira.


Tanpa menunggu lama laki-laki itu menjalankan aksinya. Betapa senangnya dia karena agen taksi itu mau bekerja sama. Dia juga sudah mendapatkan alamat orang itu.


Pandu sebagai salah satu penanggung jawab perusahaan ini merasa kesal dan marah karena ada orang yang berani berbuat onar di kantornya. Sementara Arga, marah karena foto-foto orang terkasihnya dirusak dan ini menunjukkan ada dendam atau kebencian terhadap dia. Bisa saja ini adalah teror atau berniat menakuti dirinya dan keluarganya.


Berbekal alamat yang diberikan oleh sopir taksi, Pandu dan Arga mendatangi rumah orang itu. Ternyata bangunannya sangat mewah dan megah, meski masih kalah dengan kediaman milik keluarga Pandu.


"Ini orang nggak ada kerjaan apa? Kenal enggak berani berbuat kekacauan di tempat aku," ujar Pandu.


Arga mendatangi penjaga keamanan rumah itu dan pura-pura menanyakan alamat. Dia ingin tahu siapa pemilik rumah ini.


"Bukan, Pak. Anda salah alamat," jawab satpam.


"Loh, lalu ini alamat milik siapa?" tanya Arga lagi sambil memperhatikan selembar kertas alamat rumah itu.


"Ini rumah Pak Broto Kusumo," jawab laki-laki yang usianya beberapa tahun di atas Arga.


"Berarti yang kasih alamat ini salah, dong! Kalau begitu permisi, Pak." Arga pun pergi masuk ke mobil di mana Pandu sedang menunggu.


Mereka naik mobil rental agar tidak diketahui saat ada yang melacaknya. Arga juga menggunakan penyamaran agar tidak diketahui oleh pemilik rumah jika memeriksa lewat CCTV.


"Tidak salah lagi. Ini rumah Pak Broto dan wanita yang datang ke kantor adalah Valerie," kata Arga begitu meninggalkan rumah Broto.


"Kalau punya banyak uang enak, ya. Dia bisa bebas dari penjara setelah kamu dulu laporkan ke polisi atas tuduhan penyusupan atau masuk diam-diam, perbuatan tidak menyenangkan, dan perbuatan kejahatan berencana. Pastinya Broto dan Valerie harus mengeluarkan uang banyak," ucap Pandu.


Arga juga berpikir seperti itu. Dulu dia menggunakan pengacara kantornya di Lombok untuk menangani kasus waktu itu. Ada beberapa bukti akan kejahatan Broto dan Valerie. Kabar terakhir yang dia dapat kalau kedua orang itu dinyatakan bersalah. Namun, kenapa hari ini Valerie bisa berkeliaran di dekatnya.


"Sekarang aku harus semakin berhati-hati. Apalagi Marsha sedang hamil," tukas Arga.


"Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku secepatnya. Mereka berdua tidak bisa dianggap remeh," kata Pandu dan Arga membenarkan hal itu.


***


Arga berpikir akan membicarakan kejadian di kantor tadi kepada Marsha. Namun, jadi ragu karena takut malah menjadi beban pikiran sang istri. Apalagi wanita itu sudah nyaman menjalani kehidupan di sini. Berinteraksi dengan tetangga apartemen, orang tua teman Alva, dan teman-temannya saat mengajar dahulu yang sampai sekarang masih terjalin komunikasi dengan baik.


'Bagaimana cara aku memberi tahu Marsha tanpa membuatnya takut,' batin Arga.


Marsha merasakan kegalauan suaminya. Arga terlihat pendiam dan seperti sedang berpikir. Sesekali mencuri pandang kepadanya dan membuat wanita itu greget sekaligus penasaran.


"Mas, ada apa, sih? Kalau ada yang mau diceritakan, ayo, aku siap mendengarkan!" Marsha menangkup wajah Arga dengan kedua tangannya.


***


Sebelumnya aku minta maaf selalu terlambat up. Aku menulis bab ini memerlukan waktu selama 2 hari. Tubuh harus banyak istirahat.