Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 101. Bertemu Mantan


Bab 101


Arga dan Marsha saling beradu pandang. Pasangan suami istri itu sedang menyelami perasaannya orang yang ditatapnya.


"Sejak aku menyadari rasa cintaku ini untukmu, aku sudah tidak peduli lagi kepada Valerie. Aku juga sudah menganggap dia hanya teman dan mantan kekasih yang tidak ada keinginan untuk kembali kepadanya lagi," ucap Arga dengan serius.


"Aku juga tidak memiliki nomor kontaknya. Di dunia maya pun kita tidak berteman. Kamu tahu sendiri kalau akun aku baru semua setelah menikah dengan kamu, dahulu," lanjut Arga.


Marsha diam mendengarkan semua ucapan suaminya. Dia merasa kalau semua yang dikatakan oleh Arga itu adalah kejujuran.


"Makanya aku tidak tahu dia sudah keluar dari penjara. Mariana juga tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku. Meski dia sudah bebas, tidak ada niatan untuk menemuinya, kecuali jika kita berpapasan tanpa sengaja tidak mungkin aku pura-pura tidak kenal. Yang penting hati, jiwa, dan raga ini hanya untuk kamu, Sayang" tambah Arga sambil menunjuk dadanya.


Marsha pun tersenyum sambil mengangguk lalu memeluk tubuh suaminya. Dia senang karena tidak ada yang ditutup-tutupi di antara mereka.


"Mas, buat adik Alva, yuk!" ajak Marsha sambil berbisik.


"Sampai aku puas, ya!" tantang Arga dan Marsha langsung mencubit perut laki-laki itu.


Arga tertawa terbahak karena geli. Laki-laki itu mana mungkin bisa menolak ajakan yang satu ini. Mereka selalu berdoa dan berikhtiar agar segera diberikan amanah oleh Allah.


***


"Arga," panggil seseorang saat Arga berjalan di basement mall.


Laki-laki itu membalikan badan untuk melihat orang yang sudah memanggilnya. Terlihat ada Valerie yang berjalan sambil tersenyum manis kepadanya.


"Valerie? Sedang apa kamu di sini?" tanya Arga dengan tatapan dingin.


"Aku mau belanja beberapa bahan untuk keperluan kafe. Kamu sendiri?" Valerie menatap Arga dengan intens.


"Menemani istri dan anak belanja," jawab Arga sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Maaf, ya. Aku sedang terburu-buru," lanjut Arga lalu segera pergi dari sana.


Langkah terbaik bagi dirinya saat ini adalah menjauhi wanita itu. Jangan sampai karena keseringan bertemu dan berbicara, nanti malah mempererat kembali hubungan yang sudah kandas. Selain itu, Arga juga sudah berjanji akan menjaga jarak dengan wanita mana pun yang akan mengancam hubungan dirinya dengan Marsha.


Valerie terus menatap ke arah Arga pergi. Tadi, dia senang sekali saat melihat mantannya setelah sekian lama. Namun, reaksi yang diperlihatkan oleh laki-laki itu membuat hatinya sakit.


"Sekarang kamu sudah jauh berubah Arga. Tidak ada lagi Arga yang dulu, orang yang penyayang, penyabar, dan bertanggung jawab. Sekarang kamu menjadi cuek dan tidak peduli. Sepertinya wanita itu banyak mengubah dirimu," gumam Valerie.


Arga tidak mau lama-lama dekat dengan Valerie, bisa-bisa wanita itu salah paham akan dirinya yang disangka masih peduli kepadanya. Selain itu dia juga tidak mau ada fitnah ke depannya karena berlama-lama terlihat sedang berbicara dengannya.


Senyum Arga mengembang saat melihat sang istri sedang memilih makanan ringan untuk anak mereka. Alva juga sibuk memasukkan beberapa snack ke dalam troli.


"Sayang, apalagi yang belum masuk ke dalam belanjaan?" tanya Arga begitu sampai di sana.


"Tinggal buah-buahan sama sayuran," jawab Marsha.


"Itu kita beli seperti biasa di kios dekat pasar, 'kan?" Arga mendorong troli sambil menuntun Alva.


"Iya, Mas," balas Marsha yang berjalan di samping Arga sambil merangkul lengannya.


Marsha sempat melihat Valerie yang sedang menatap mereka dari balik rak, tetapi dia menduga orang itu hanya mirip saja. Karena istrinya Arga ini berpikir kalau benar wanita itu pasti akan datang menghampirinya.


***


"Ya, mungkin saja benar dia. Tadi aku juga bertemu dengannya di basement," balas Arga.


Marsha langsung menatap intens kepada suaminya. Dia ingin tahu apa yang terjadi kepada mereka, tadi.


"Jangan menatap lekat seperti itu sekarang, Sayang. Nanti saja di rumah, kalau sekarang bahaya, ada satpam kecil, tuh!" ujar Arga sambil melihat ke arah Marsha sejenak dan meluruskan kembali pandangannya ke depan.


Marsha langsung memasang wajah cemberut dengan pipi yang merona. Dia itu seperti anak remaja yang labil.


'Awas saja kalau berani macam-macam, tidak akan ada jatah selama satu bulan!' batin Marsha merasa jengkel.


'Eh, ralat. Itu terlalu kelamaan, satu minggu saja, deh,' lanjut wanita itu di dalam hatinya.


Alva yang duduk di kursi belakang hanya melihat kedua orang tuanya, tanpa bertanya ini itu. Dia sudah tahu sekarang kalau salah satu di antara mereka yang sedang marah berarti sedang cemburu.


'Kali ini Bunda yang merasa cemburu,' batin Alva.


***


Valerie diam melamun sambil melihat ke arah jalanan. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Arga dan keluarganya. 


"Jadi, kamu sudah menikah lagi dengan wanita itu," gumam Valerie.


"Meski kemungkinan kecil aku bisa mendapatkan Arga kembali, tapi akan aku coba," lanjut wanita itu masih bergumam.


Saat ini Valerie sedang berada di cafe miliknya. Sejak dia keluar dari penjara, wanita itu memilih buka usaha sendiri dan bekerja sama dengan beberapa orang kenalannya. Dia tidak pandai membuat makanan yang lezat, jadi memutuskan untuk mencari koki dan beberapa orang untuk melayani pembeli.


"Tapi, bagaimana jika ketahuan oleh Pak Broto? Bisa-bisa nanti aku diminta mengganti uang yang diberikannya untuk menebus aku dari penjara dahulu," ucap kakaknya Mariana itu dengan pelan.


"Ini semua gara-gara adik si*alan itu!" umpat Valerie untuk Mariana.


Hubungan keduanya semakin merenggang semenjak dia sadar dari koma. Dia merasa dikhianati oleh Mariana yang diam-diam menyukai Arga, bahkan sampai pernah tidur dengannya. Wanita ini lupa kalau dirinya 'lah orang yang terlebih dahulu melakukan perselingkuhan. Di antara beberapa lelaki itu salah satunya adalah Pandu.


Valerie membuka akun media sosial miliknya. Tanpa sengaja dia melihat status milik Mariana yang sedang galau karena parah hati. Dia pun membuka akun milik sang adik yang sering memposting kegiatannya saat jalan-jalan dan barang-barang apa saja yang baru saja dia beli.


Ada perasaan marah, muak, dan iri yang dirasakan oleh Valerie kepada Mariana. Dia sangat benci adiknya yang bisa bersenang-senang di saat dirinya mengalami kesulitan.


"Sepertinya kamu juga harus diberi pelajaran, adikku Sayang!" Terlihat pancaran amarah dari sorot mata Valerie.


Wanita ini menggenggam erat handphone dan gelas yang ada di kedua tangannya. Rasanya dia ingin melemparkan kedua benda itu kepada sang adik.


"Masa kamu bersenang-senang sudah habis, Mariana. Sekarang giliran kamu yang mendapatkan hukuman," ucap Valerie seakan berbisik.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Valerie kepada keluarga Arga dan Mariana? Ikuti terus kisah mereka, ya!