Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 86. Dokter Rama


Bab 86


Marsha senang melihat Alva bisa dengan mudah bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Meski usia dia paling muda, terapi postur tubuhnya tidak kalah tinggi dan besar dengan usia anak lima tahun.


Saat ada seorang murid perempuan terjatuh, Alva segera membantunya berdiri. Dia mencoba menenangkan ketika anak itu menangis. 


"Jangan menangis. Kakimu tidak berdarah hanya lecet sedikit saja. Dikasih ludah juga akan sembuh," kata Alva.


Lalu, Arga memberi sedikit ludah dengan jarinya dan dibalurkan ke luka lecet itu. Namun, anak itu malah menangis semakin kencang.


"Kamu jorok!" teriaknya sambil memukul Alva.


Marsha pun bergegas menghampiri putranya. Dia takut terjadi masalah yang lebih runyam nantinya. Terlihat Alva menahan tangan gadis kecil itu yang digunakan untuk memukulnya tadi.


"Tangan itu bukan digunakan untuk memukul orang lain," balas Alva mengingat nasehat ibunya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Marsha sambil melepaskan tangan Alva dari lengan gadis kecil itu.


"Safira jatuh dan Alva mencoba membantu bangun, dia nangis karena lututnya lecet. Lalu, sama Alva dikasih ludah agar cepat sembuh. Bunda, nenek, dan Oma juga sering begitu sama Alva jika ada luka kecil. Cukup dikasih sedikit ludah maka akan segera sembuh lukanya," jawab Alva dengan menggebu-gebu.


"Itu jijik!" teriak anak bernama Safira.


Marsha hanya tersenyum. Dia pun mengusap pipi Safira yang basah oleh air matanya.


"Yuk, tante antar ke toilet untuk membersihkan lukanya!" ajak Marsha.


Alva kesal karena ibunya begitu perhatian kepada temannya itu. Namun, dia pun ikut juga karena takut ibunya akan diambil oleh Safira. Karena gadis kecil itu tidak punya ibu.


Setelah kembali dari toilet Marsha di kejutkan oleh ayahnya Safira yang terlihat cemas dengan napas terputus-putus. Terlihat kalau laki-laki itu berlari mencari keberadaan putrinya.


"Safira kenapa pergi diam-diam? Mbak Asih mencari-cari sampai telepon papa katanya kamu menghilang," kata laki-laki berparas teduh.


"Maaf, Papa. Fira lupa bilang sama Mbak Asih," ucap Safira dengan lirih.


"Eh, Dokter Rama. Aku yang seharusnya meminta maaf kepada Anda karena sudah membawa Safira tanpa memberi tahu pengasuhnya," kata Marsha yang merasa bersalah.


Marsha kenal dengan Dokter Rama karena beberapa kali datang menjemput Safira ke sekolah. Perkenalkan mereka pertama kali adalah saat mobil Dokter Rama menghalangi parkiran mobil milik istri Arga, sehingga tidak bisa keluar sampai si pemilik mobil datang.


Marsha juga menceritakan kalau tadi ada sedikit insiden antara Safira dengan Alva. Dokter Rama malah tertawa terkekeh mendengar cerita tentang putrinya. Laki-laki itu menatap ibu dari teman anaknya dengan penuh kekaguman.


Sebenarnya Rama menaruh hati kepada Marsha semenjak pertama kali mereka bertemu sekitar dua minggu lalu. Wanita itu tidak marah karena tidak bisa mengeluarkan mobilnya, sehingga terlambat pulang.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama di restoran yang ada di seberang gedung ini," kata Dokter Rama kepada Marsha.


"Maaf, dokter. Aku tidak bisa karena suami saya akan pulang untuk makan siang bersama di rumah," tukas Marsha menolak.


'Ternyata dia sudah punya seorang suami,' batin Dokter Rama merasa kecewa.


***


"Semoga saja kondisi pasien segera membaik," kata dokter kepada Pandu agar tidak terlalu memanas keadaan di sana.


"Lakukan yang terbaik untuknya. Berapa banyak biaya yang diperlukan tidak masalah. Yang penting Bapak ini bisa sembuh lagi," tukas Pandu.


Arga sebenarnya kasihan kepada Pandu karena terjerat masalah dengan orang licik. Dia juga tidak suka jika harus berurusan dengan tipe orang seperti ini. Laki-laki itu lebih baik menghadapi orang yang cerdas atau jahat sekalian main baku hantam.


"Sampel makanan pun tinggal menunggu hasil dari laboratorium," kata dokter.


Tadi manajer restoran langsung melakukan pemeriksaan kandungan zat yang ada di dalam makanan yang di makan oleh pasien. karena dia yakin kalau kwalitas makanan di restoran itu sangat bagus. 


***


Arga tidak memberi tahu kepada Marsha kalau di melakukan pemeriksaan kesuburan di rumah sakit. Dia takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh dirinya. 


"Sayang. Masak apa?" tanya Arga sambil memeluk Marsha yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Aku tidak masak, Mas. Karena Alva ingin makan sate ayam dan lontong. Jadi, aku beli ini tiga porsi," jawab Marsha dengan senyum tipis.


Keluarga kecil itu pun makan bersama. Alva menceritakan apa yang terjadi saat di Timezone, tadi. Bocah itu merasa tidak salah dengan memberi ludah pada luka Safira.


Arga pun tertawa terkekeh karena merasa lucu saat anaknya bercerita. Namun, dia ganti merasa kesal saat Alva bilang ada laki-laki yang sering mengajak bicara Marsha.


"Jangan cemburu berlebihan, Mas. Bagaimanapun juga kamu adalah laki-laki yang aku cintai. Apalagi kita adalah pasangan suami istri. Untuk apa lirik-lirik pada laki-laki di luar sana. Toh, aku di sini ada yang lebih tampan dan seksi. Apalagi bisa membuat aku bahagia," kata Marsha dengan berbisik sambil menggoda suaminya.


"Sayang, jangan menggodaku. Ini masih siang dan aku juga harus kembali ke kantor," tukas Arga sambil mencubit gemas pipi sang istri.


Marsha hanya tertawa kecil. Dia tahu kalau suaminya mana bisa tahan jika digoda olehnya. Namun, wanita itu selalu saja suka memancing gairah sang suami. Harus dia akui kalau dirinya sangat suka sekali bercinta dengan Arga. Makanya, hampir setiap hari mereka melakukan itu.


"Bersiap-siaplah nanti malam kita begadang lagi untuk membuat adiknya Alva," bisik Arga karena ada Alva yang sedang menggambar di atas karpet.


"Oh, iya. Kata Alva, kalau papanya Safira seorang dokter. Dokter apa dia?" tanya Arga sambil memakai sepatu.


"Tidak tahu secara jelasnya dia dokter apa. Yang jelas Dokter Rama itu merupakan dokter di Rumah Sakit Harapan," jawab Marsha.


"Dokter Rama dari Rumah Sakit Harapan." Arga menggumamkan nama papa teman anaknya. Mata dia langsung terbelalak saat sadar kalau nama dokter yang sedang menangani dirinya juga bernama Dokter Rama.


'Gawat ini! Bagaimana jika Dokter Rama bilang ke Marsha nanti, kalau aku melakukan pemeriksaan kesuburan. Eh, Dokter Rama tahu tidak, ya, kalau Marsha adalah istriku?' batin Arga semakin berkecamuk.


***


Bagaimana hasil pemeriksaan kesuburan Arga? Apakah Marini akan terus mengganggu atau berbuat masalah kepada Pandu dan Arga? ikuti terus kisah mereka, ya!