
Bab 172
Hari ini adalah hari bersejarah bagi Alva dan Safira, di mana tadi pagi pemuda itu mengucapkan ijab qobul bersama Dokter Rama. Kini dia sudah sah menjadi seorang suami dari gadis yang mencintainya sejak kecil.
Tanpa diduga Shinta dan George datang ke acara pernikahan mereka. Alva dan Safira akhirnya bisa meluluhkan hati wanita itu. Bahkan mereka memberikan paket bulan madu naik kapal pesiar selama sepuluh hari keliling benua Amerika.
"Selamat, ya! Akhirnya kamu jadi juga Nyonya Alvarendra," kata Intan sambil tersenyum jahil.
"Jangan lupa nanti minum jamu, biar langsung tokcer. Bukannya Alfi minta adik," lanjut Mutiara yang tidak kalah jahilnya dari Intan.
Muka Safira sudah seperti kepiting rebus. Sejak tadi pagi orang-orang terus menggodanya. Dia kesal juga, kenapa hanya dirinya yang terus-terusan dijahili oleh mereka sedangkan Alva tidak. Bagi perempuan itu rasanya tidak adil.
Teman-teman Alva saat koas dan beberapa tim medis di rumah sakit tempat dia bekerja, banyak yang datang. Lagi-lagi mereka malah menggoda Safira bukannya Alva. Mereka juga baru tahu kalau mertua lelaki itu adalah kepala rumah sakit di mana mereka bekerja.
"Tahu kamu calon menantu Pak Dokter Rama, aku akan lebih baik-baikin lagi," ucap salah seorang perawat laki-laki yang sering bekerja dengan Alva.
"Kamu pandai sekali menyembunyikan hubungan dengan Dokter Rama. Jangan-jangan kamu suka bergosip dengan Pak Dokter Rama tentang kami, ya?" tanya salah seorang dokter yang bekerja di sana.
Alva malah tertawa terkekeh mendengar ucapan beberapa temannya saat di rumah sakit. Dia bukan tipe orang yang suka bergosip.
Acara berjalan dengan lancar dan khidmat. Semua orang tampak ikut bahagia di hari pernikahan Alva dan Safira.
***
Malam hari setelah selesai acara, Safira bergegas membersihkan tubuhnya. Dia memakai pakaian dinas malam seorang istri dan memakai parfum yang disukai oleh Alva. Rambut panjangnya di gerai menutupi punggungnya. Wajahnya dia rias sedikit agar lebih terlihat lebih fresh.
Alva ke luar kamar mandi dengan memakai kaos dan celana panjang. Dia terkesima melihat melihat Safira yang kini terlihat sangat menggoda. Baju Koko dan sarung yang ada di tangan pemuda itu jatuh tanpa dia sadari.
'Masya Allah, itu ... Safira, istriku?' batin Alva.
Safira tersenyum malu-malu sambil menunduk dan memainkan ujung tali pita yang ada di bajunya. Sesekali dia mengangkat wajahnya dengan tatapan nakal dan malu-malu itu melihat kepada Alva.
"Kamu cantik sekali," kata Alva yang kini sudah berdiri di depan Safira.
Tatapan mata laki-laki itu tidak bisa lepas dari sang istri. Tubuh yang memiliki kulit mulus terpampang jelas di mata Alva. Apalagi kain transparan seperti saringan tahu yang membalut tubuhnya memperlihatkan dengan jelas apa yang selama ini tersembunyi.
"Apa Mas ... suka?" tanya Safira dengan suaranya yang terdengar merdu sekali di telinga Alva.
Jantung Safira bertalu-talu dan perutnya merasa dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan menari-nari dengan gembira. Dunia terasa sangat indah baginya saat ini.
"Iya. Suka ... sekali," jawab Alva sambil mengangguk dengan penuh semangat.
Alva dan Safira saling menatap, mengagumi keindahan yang ada pada pasangannya. Pemuda itu membacakan doa dan diikuti oleh sang istri.
"Terima kasih sudah mau menjadi istriku," kata Alva berbisik sambil menatap bola mata gadis yang tangannya saling berpegangan.
"Aku juga berterima kasih sama kamu, Mas. Karena mau menikahi aku," balas Safira tersenyum cantik untuk menawan terus hati suaminya.
Alva mencium pucuk kepala Safira. Lalu, beralih ke kening, kedua mata, pucuk hidung, dan pipi. Pemuda itu kembali menatap sang istri yang melihatnya dengan penuh damba.
"I love you, Fira," bisik Alva dan membuat semburat merah di pipi Safira semakin jelas.
Belum juga gadis itu membalasnya, Alva sudah mencium bibir ranum milik sang istri. Sekarang dia bebas melakukan hal ini. Tidak akan takut dosa, justru mendapatkan pahala. Keduanya saling bercumbu membalas ingin memberikan yang terbaik untuk pasangannya.
Baru saja beberapa menit mereka melakukan pemanasan, Safira merasa ada yang aneh. Dia melihat ke arah jam digital yang ada di atas nakas.
"Kenapa?" tanya Alva dengan suaranya yang sedikit berat dan itu terdengar seksi di telinga Safira.
"Tunggu sebentar," jawab Safira sambil membenarkan gaun malamnya.
Gadis itu berlari ke kamar mandi. Tidak berapa lama dia kembali sambil menangis. Tentu saja ini membuat Alva heran.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Alva sambil menghampiri sang istri.
"Sepertinya malam ini gagal," jawab Safira di sela isak tangisnya.
"Gagal apanya?" tanya Alva tidak paham maksud ucapan Safira.
"Aku mendapatkan datang bulan. Seharusnya tiga hari lagi," jawab Safira yang masih menangis dan Alva langsung merasakan tubuhnya lemas.
Laki-laki itu membawa sang istri ke dalam pelukannya. Dia mencium pucuk kepala Safira beberapa kali.
"Tidak apa-apa. Masih ada hari esok," kata Alva menyembunyikan rasa kecewa karena gagal melakukan malam pertama.
"Kamu tidak marah, 'kan?" tanya Safira sambil mendongak melihat wajah sang suami.
"Tentu saja tidak. Ini sudah takdir kalau kita harus menunda malam pertama kita," jawab Alva sambil menghapus air mata di pipi Safira.
Alva membawa Safira ke dalam pelukannya setelah gadis itu kembali dari kamar mandi. Dia merasa sangat nyaman memeluk tubuh yang selama ini selalu menggodanya. Mereka tidur dengan pulas sambil berpelukan.
***
Arshy berjalan terburu-buru karena pintu lift akan tertutup. Saat dia masuk ke dalam ada seorang yang menubruknya dari belakang sehingga dia terdorong ke depan. Dia terjatuh dan kepalanya beradu dengan seorang laki-laki yang sedang mengambil kartu identitas karyawan miliknya.
"Aaaaw!" pekik kedua orang itu sambil memegang kepala masing-masing.
"Kamu lagi! Bisa tidak jangan selalu berbuat kasar dan mencelakai orang lain," kata laki-laki yang kini menjulang tinggi di depan Arshy.
"Barusan itu buka salahku. Dia masuk ke dalam lift dan mendorong tubuhku," balas Arshy dengan tegas karena tidak mau disalahkan.
Orang yang ditunjuk oleh Arshy hanya diam menunduk. Dia takut kepada laki-laki yang kini juga melihat ke arahnya.
Wajah Arshy semakin suram saja, padahal hari masih pagi. Dia merutuki kakak sulungnya yang pergi berbulan madu tanpa bilang-bilang dahulu dan memberikan Alfi kepadanya. Sementara semua barang keperluan bocah itu di apartemen sudah habis. Jadi, dia pagi-pagi pergi ke toko swalayan 24 jam untuk mencari susu dan cemilan.
"Arshy, tolong serahkan berkas laporan ini kepada Pak Abiyan!" perintah Bu Yeni.
"Tapi, Bu, pekerjaan aku belum selesai. Kenapa tidak sama Stella saja, Bu?" tanya Arshy dengan pelan.
Stella melotot kepada Arshy. Sudah menjadi rahasia umum jika mengantarkan laporan kepada manajer itu akan kena omel. Selalu saja ada yang menurutnya tidak sesuai. Masalah koma saja akan jadi masalah, apalagi salah ketik nominal angka.
"Jangan membantah. Sana anatarkan laporan itu!" balas Stella sambil menyeringai.
Mau tidak mau Arshy mengantarkan berkas itu ke lantai atas. Dengan tubuh yang gontai dia berjalan menuju lantai 17.
***
Untuk Season Alva dan Safira sudah selesai, ya. Selanjutnya Season Arshy. Tentunya akan berbeda kisahnya dengan sang Kakak. Sepertinya apa kisah Arshy, ikuti terus novel ini.