
Bab 161
Dokter Rama yang tidak tahu kalau keluarga Shinta harus mengganti rugi ke keluarganya. Apalagi dalam jumlah yang sangat besar.
'Pantas saja mereka dahulu tiba-tiba punya dana untuk membeli beberapa peralatan medis terbaru. Apakah uangnya dari Shinta?' batin Dokter Rama.
Waktu itu Dokter Rama baru saja menjadi dokter spesialis dan belum punya jabatan di jajaran pengurus di rumah sakit. Dia akan melakukan beberapa pekerjaan untuk meningkatkan pelayanan dan promosi rumah sakit ke masyarakat agar mereka yang sakit datang berobat ke rumah sakit milik keluarganya.
'Jadi, ini yang menyebabkan Shinta dahulu lebih mementingkan karir. Ternyata bukan hanya sekedar hobi, tapi karena ada tuntutan dari keluarga aku,' lanjut Dokter Rama di dalam hatinya.
"Maaf, Pak Kyai. Tidak ada yang mau menikah di sini. Saya tidak memberikan restu anak saya menikah dengan anak hasil hamil di luar nikah," ucap Shinta kepada Kyai Saleh.
Hati Marsha dan Arga kembali terluka akan ucapan Shinta. Mereka tidak terima putra sulungnya direndahkan dan dihina seperti itu.
Mata Alva berkaca-kaca dan merasa sesak di dadanya. Wanita paruh baya itu untuk kesekian ratus kalinya mengatakan dirinya anak haram. Setelah pertemuan mereka ketika dia dan Safira duduk di bangku SMP, Shinta memperlihatkan kebencian kepadanya dan memanggilnya anak haram.
"Bu, anak yang lahir dari hasil hubungan di luar nikah bukan keinginan si anak. Mereka tidak bersalah, yang salah adalah perbuatan kedua orang tuanya," balas Kyai Saleh dengan nada yang tenang.
Hampir semua orang yang ada di ruangan itu setuju dengan ucapan Kyai Saleh. Pastinya semua bayi atau anak menolak terlahir dari hubungan haram.
"Maaf, Pak Kyai. Aku tidak mau cucu dan keturunan aku nanti, mengalir darah dari orang-orang yang sama darahnya dengan pelaku zina. Walau aku bekerja di dunia yang rawan akan perbuatan seperti itu, aku masih bisa menjaga kehormatan dan kesucian diriku," ujar Shinta menyindir Marsha.
"Jangan hina istriku! Dia lebih mulia dari wanita seperti kamu!" bentak Arga tidak terima anak dan wanita yang dicintainya dihina oleh wanita yang menurutnya selevel dengan pela*cur di matanya.
"Wah, seorang pemain wanita memang pantasnya mendapatkan pasangan yang sejajar dengannya. Casanova dan perempuan nakal, memang pasangan yang cocok," ucap Shinta.
Mendengar hinaan untuk bundanya, wanita yang paling disayangi dan dihormati oleh Alva, membuat pemuda itu melayangkan tamparan keras kepada Shinta. Padahal di waktu yang bersamaan tangan Arga sudah terangkat. Namun, gerakan anaknya lebih cepat.
"Cukup kamu menghina diriku saja. Jangan kamu hina bundaku! Kamu tidak berhak bicara seperti itu. Memangnya kamu mulia di mata anakmu? Putrimu saja sangat benci kepadamu. Sedangkan bundaku dipandang mulia oleh semua anaknya," hardik Alva.
Orang-orang sangat terkejut dengan perbuatan Alva dan kata-kata yang menohok kepada Shinta keluar dari mulutnya. Pemuda itu biasanya selalu bersikap hormat dan bertutur kata lembut kepada orang yang lebih tua. Dia tidak pernah sekasar ini, apalagi sampai melakukan pemukulan.
George hendak melayangkan pukulan kepada Alva, tetapi berhasil ditahan oleh Arga. Laki-laki yang sudah berusia di atas lima puluh tahun itu, dengan mudah bisa memelintir tangan orang tinggi dan ukuran tubuhnya lebih besar darinya. Setelan itu, Arga mendorong tubuh suami Shinta sampai jatuh tersungkur ke lantai.
"Jangan berani-beraninya melukai putraku!" Arga menatap bengis kepada George.
Shinta langsung membantu suaminya untuk berdiri. Meski pipi dan kepala dia merasa nyut-nyutan, wanita itu berusaha menolong suaminya.
"Mendapatkan perlakuan seperti ini malah membuat aku semakin yakin untuk menolak hubungan Alva dengan Safira," kata Shinta.
Mendengar adanya keributan di ruang pasien, beberapa orang keamanan dan perawat datang ke sana dan menyuruh semua orang untuk keluar dari ruangan itu. Pihak rumah sakit sampai meminta polisi untuk menjaga dan melarang siapa pun untuk masuk.
Pernikahan Alva dan Safira yang baru saja mereka rencanakan tadi, gagal. Shinta dan George juga berkonsultasi dengan dokter yang menangani Safira. Jika dalam tiga hari, anaknya masih tidak siuman, maka Safira akan di bawa berobat ke Amerika.
***
Sebelum adzan subuh berkumandang, mereka bertiga sudah sampai ke apartemen. Arshy sedang menggendong sambil memberikan susu kepada bayi itu.
Senyum lebar menghiasi wajah gadis berpipi lesung itu. Dia mengira kalau kakaknya sudah menikahi Safira.
"Gimana, sukses?" tanya Arshy sambil tersenyum genit kepada kakak sulungnya.
Alva menggelengkan kepala, lalu pergi ke dalam kamarnya. Tentu saja Arshy menjadi penasaran kenapa sampai bisa gagal. Gadis itu pun meminta penjelasan kepada ayah dan bundanya
"Mamanya Safira datang dan tidak merestui hubungan mereka," ucap Arga sambil duduk merangkul sang istri yang terlihat sedih.
"Apa? Jadi, tante jahat itu datang ke Indonesia?" Arshy memekik saking kagetnya dan ini membuat Alfi menangis karena terkejut.
"Kenapa wanita itu malah datang di waktu yang tidak tepat, sih!" Arshy ngedumel sambil berusaha mendiamkan Alfi.
Marsha tersenyum melihat putrinya yang sedang menimang-nimang Alfi agar berhenti menangis. Namun, bayi itu tidak mau berhenti juga. Akhirnya, Marsha mengambil alih menggendong Alfi. Tidak berapa lama bayi itu tertidur pulas di dada Marsha.
"Hebat. Tidak perlu banyak omong, begitu nemplok di dada bunda, Alfi langsung tidur pulas begitu," kata Arshy.
"Bukan hanya Alfi saja yang langsung betah nemplok di dada Bunda. Ayah–"
Marsha melotot kepada Arga jangan sampai mengatakan yang bersifat pribadi. Laki-laki dewasa itu menelan ludah karena tidak mau membuat mood istrinya semakin buruk.
"Maksud ayah, semua anak ayah juga sama begitu. Kamu dan saudara-saudaramu yang lain juga seperti itu, dahulu," lanjut Arga lalu menyeringai karena Marsha hendak mencubitnya, tapi tidak kena. Dia keburu menghindar.
"Apa nanti aku juga akan seperti Bunda dalam mengurus anak-anakku?" tanya Arshy yang kini duduk menyandarkan kepalanya di bahu Marsha.
"Insya Allah, bisa, Sayang. Sekarang saja kamu sudah pandai mengurus Alfi, nanti pasti akan lebih handal lagi saat mengurus anak sendiri," jawab Marsha.
Arshy merasa sangat bahagia mendengar ucapan bundanya. Kadang dia membayangkan kehidupan dia saat sudah menjadi seorang ibu.
"Jangan bilang kamu juga ingin menikah!" Arga menatap tajam kepada putri satu-satunya.
"Ayah, apaan, sih! Mana mungkin aku ingin menikah. KTP saja belum bisa buat karena masih di bawah umur, masa sudah mau menikah," kata Arshy menggerutu.
Marsha tersenyum geli, lalu mencubit hidung mancung putrinya karena gemas. Arshy memang tipe anak yang suka manja kepada keluarganya. Mungkin karena dia satu-satunya anak perempuan dan selalu dijaga atau dilindungi oleh saudara-saudara lelakinya.
***