Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 79. Hari Pernikahan


Bab 79


Dewi hanya bisa mengangguk pasrah. Semua orang menekan dirinya agar mengikhlaskan Arga untuk Marsha. Air matanya pun jatuh bercucuran menggambarkan perasaannya saat ini.


Ayu memeluk tubuh Dewi dan mengatakan kata-kata penyemangat dan hiburan untuknya. Bagaimanapun juga dia sudah menganggap gadis itu adalah keluarganya.


Marsha pun mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pengantin perempuan. Dia menghubungi kenalannya yang mempunyai butik baju muslimah. Kali ini wanita itu akan memakai gamis putih yang dirasa cocok sebagai gaun pengantin yang sederhana, tetapi elegan. Tidak ada gaun pesta atau kebaya dipernikahannya kali ini. 


Kayaknya ini cocok untuk aku dan Kak Arga. Apa ada baju muslim untuk anak laki-laki berusia tiga tahunan?


Marsha melalui pesan di aplikasi hijau kepada temannya yang mengirimkan banyak sekali baju pasangan.


Ada. Sebentar aku kirimkan beberapa baju yang aku rasa cocok untuk anak-anak.


Melihat banyak sekali setelah baju muslim anak, tanpa sadar Marsha membeli banyak baju untuk Alva. Beberapa potong baju pasangan orang tua dengan anak.


Semuanya jadi berapa?


Entah berapa banyak baju yang Marsha beli secara online dan barang akan langsung diantar ke rumah sekarang juga. Namun, dia merasa puas dengan belanjanya kali ini.


Semuanya 15 juta. Itu sudah aku kasih diskon, ya. Karena kamu teman baik aku dan suka memborong baju di butik aku.


Makasih, Juwita. Semoga berkah dan dilapangkan kembali rezekinya. Sekarang aku transfer uangnya. Aamiin.


Tidak sampai 30 menit paket sudah berada di tangan Marsha. Lalu, dengan tangkas dia membuka semua selotip yang merekat pada dua. Begitu dia membuka satu persatu pakaian itu, betapa senangnya dia karena memang semua bagus dan saat dicoba juga cocok.


"Aku harus segera mengirimkan baju muslim ini ke Kak Arga. Biar Mang Salim yang kirim ke sana," gumam Marsha.


Alva juga sangat antusias ingin memakai baju baru yang senada dengan ibunya. Bocah itu bahkan semangat pergi mandi ketika melihat kakeknya mengambil handuk. Dia tahu sebentar lagi kakeknya akan pergi ke masjid, seperti biasanya.


"Bunda, mandi." Alva membawa handuk miliknya yang tadi di jemur di halaman samping rumah.


"Wah, tidak terasa sebentar lagi adzan Ashar. Yuk, kita mandi! Nanti gantian bunda yang mandi jika Alva sudah tampan," ucap Marsha sambil menuntun anaknya masuk ke kamar mandi.


Alva sudah ikut pergi Bagas ke masjid. Mereka menuju mesjid agung yang letaknya agak jauh dari rumah. Lebih tepatnya di depan alun-alun kecamatan.


Indah sangat pangling melihat Marsha begitu cantik hari ini. Senyum lebar yang mengisyaratkan kebahagiaan terpancar dari wanita paruh baya itu. Kali ini dia dengan ikhlas menikahkan putrinya dengan Arga. Laki-laki yang akan menjaga dan membimbing anak juga cucunya.


"Semoga ini pernikahan terakhir kalian dan bisa menjadi keluarga yang sakinah,mawaddah, warahmah," ucap Indah sambil memeluk tubuh putrinya.


"Aamiin ya rabbal Al-Amin," balas Marsha bahagia. 


Doa atau ucapan ibu itu sangat keramat dan sering diijabah. Maka keluarkan kata-kata yang baik dan bagus untuk anak-anaknya. Karena bisa saja saat wanita yang sudah mengandung dan melahirkan mengucapkan kata-katanya itu langsung di catat dan di aamiin-kan oleh malaikat.


Indah sebagai seorang ibu tidak pernah mengeluarkan kata-kata buruk atau jelek untuk putri semata wayangnya. Saat tahu Marsha hamil, dia juga tidak mengumpat anaknya maupun Sakti. Namun, dia berdoa agar hal yang menimpa mereka berdua itu bukan wujud murka atau teguran dari Allah, tetapi merupakan ujian dari-Nya. Wanita paruh baya itu juga sering mengingatkan Marsha saat akan menjadi seorang ibu, perkataan harus dijaga agar tidak menyesal di kemudian hari.


Indah merupakan gadis kota yang besar di luar negeri karena pekerjaan orang tuanya yang seorang diplomat. Dia kepincut sama Bagas saat ditolong dari begal ketika dia seorang diri mengendarai mobil. Demi cintanya kepada laki-laki itu dia rela tinggal di sebuah desa dan belajar menjadi seorang petani dan peternak mendampingi suaminya.


Sebagai seorang perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi, Indah tidak malu belajar memasak kepada ibu mertuanya. Untung dia dahulu dididik oleh ibunya dengan menekankan adab, agama, dan moral. Jadi, tidak begitu sulit baginya menyesuaikan diri dengan orang-orang di kampung ini. 


Belum lagi bimbingan dari suaminya dan sering mengingatkan untuk hidup sederhana dan berbagi kepada orang-orang di sekitar mereka. Rata-rata penduduk kampung ini orang miskin dan sekolah juga hanya sampai tingkat SD atau SMP. Maka Indah membantu anak-anak desa itu yang berprestasi dan mau melanjutkan sekolah. Dia punya banyak uang saat gadis, juga dapat bantuan dari orang tuanya. Itulah kenapa para penduduk desa itu begitu menaruh hormat kepada Bagas dan Indah. Meski kadang sifat laki-laki itu keras kepala, ada sang istri yang berhati lembut. Asal jangan menyinggung dirinya dan membuat marah, dia bisa jadi wanita galak.


***


Marsha datang menyusul ke masjid agung bersama ibu dan beberapa pegawai di rumahnya dan tetangga terdekat. Ternyata di masjid sudah banyak orang yang ingin menyaksikan ijab qobul untuk kedua kalinya antara Arga dengan Marsha.


Suara lantang Arga saat mengucapkan qobul membuat tubuh Marsha berdesir halus dan hatinya berbunga-bunga. Akhirnya mereka sudah sah kembali menjadi pasangan suami istri.


"Alhamdulillah. Akhirnya halal!" teriak orang-orang di pelataran masjid.


Senyum bahagia menghiasi wajah Arga. Jika tidak malu sama orang-orang yang hadir, dia akan berlari ke arah Marsha lalu memeluknya. Namun, dia harus bisa menjaga diri untuk saat ini.


'Sabar, Arga. Nanti di rumah saat berdua kamu akan bebas memeluk Marsha,' batin Arga.


'Langsung malam pertama juga bisa. Yes! Yes!' suara hati Arga berteriak riang gembira.


***


Akankah malam pertama Arga dan Marsha akan berjalan lancar? Ikuti terus kisah mereka, ya!