
Bab 56
Sari begitu terkejut saat mendengar omongan Dewi. Dia tidak percaya dengan apa diucapkan oleh anak asuhnya itu. Bagaimanapun juga wajah Alva sangat mirip dengan Arga.
"Bagaimana bisa itu terjadi? Wong muka Alva dan Arga itu mirip. Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu?" tanya Sari masih melihat ke arah.
"Jelas mirip dengan Mas Arga karena Alva itu anaknya Sakti, Eyang," jawab Dewi.
"Apa?"
Kepala Sari terasa cenat cenut. Mendengar omongan Dewi pagi ini. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mana mungkin cucunya yang meninggal menghamili Marsha yang merupakan istri kakaknya.
"Ayo, Eyang ikut aku ke dalam! Akan aku tunjukan semua kebenaran itu," ajak Dewi.
Mereka pun masuk ke kamar yang ditempati oleh Dewi. Lalu, perempuan itu memberikan buku catatan milik Sakti. Sari memakai kacamatanya, lalu dia membaca tulisan sang cucu.
Raut wajah wanita tua itu berubah merah menahan amarah. Dia merasa sudah dibohongi oleh Marsha. Rasa suka dan bangga seketika berubah menjadi benci.
"Apa Arga tahu kalau Alva bukan anaknya?" tanya Sari.
"Entahlah, Nek. Tapi, sepertinya dia tahu itu. Akan sangat keterlaluan jika Marsha menuduhkan Alva sebagai anak Mas Arga," jawab Dewi.
Sari manggut-manggut, memikirkan hal ini. Dia sangat benci kepada seorang pendusta atau orang bermuka dua.
"Atau jangan-jangan ini alasan mereka bercerai. Mas Arga baru tahu kalau Marsha hamil bukan anaknya," lanjut Dewi.
"Dasar wanita jahat! Jangan harap aku akan memaafkan dia." Sari sungguh murka.
***
Alva sangat senang saat melihat Arga datang. Bocah itu langsung berlari menyambut ayahnya.
"Anak ayah sudah tampan dan wangi," kata Arga setelah mencium pipi bocah kecil itu.
"Bunda bilang akan bermain sama Ayah hari ini," ucap Alva cadel terdengar lucu dan menggemaskan.
Kedua lelaki berbeda generasi itu kini duduk di atas karpet. Marsha baru saja akan pergi mandi setelah selesai mendandani Alva barusan.
"Oh, iya. Eyang buyut ingin bermain bersama Alva juga," ujar Arga sambil memberikan mainan milik anaknya.
"Buyut? Alva tidak mau dipangku terus," pungkas bocah itu.
Sari suka sekali memangku Alva di pangkuannya. Sementara itu, Alva suka sekali berlarian ke sana kemari.
"Nanti tidak akan di pangkuan. Karena kita akan jalan-jalan," tukas Arga dan itu membuat Alva senang.
Marsha sebisa mungkin mandi dan berdandan cepat. Dia tidak enak kalau harus menyuruh Arga menunggu terlalu lama. Dengan menggunakan setelah baju tunik dan jilbab model pasmina, Marsha terlihat sangat elegan. Wajahnya juga hanya diberi tabir surya saja dan bibirnya pakai lipbalm agar tidak kering saat berlama-lama di luar. Seorang janda tidak boleh berdandan, apalagi secara berlebihan. Takutnya nanti kena fitnah.
Terlihat Indah juga sudah siap. Wanita setengah paruh baya itu terlihat sangat cantik dan muda. Padahal usianya berkepala lima.
"Ayah tidak ikut, Bu?" tanya Arga.
"Tidak bisa ikut. Tadi ada tamu dari Jakarta ingin melihat buah-buahan sama sayuran di perkebunan. Mereka sedang mencari supplier sayur dan buah-buahan," jawab Indah.
"Loh, bukannya ada yang minta untuk jadi supplier telur ayam kampung sama bebek?" tanya Marsha yang baru ikut bergabung di sana.
"Oh, itu nanti siang orangnya datang. Mereka sudah deal untuk harga dan berapa banyak yang mereka inginkan pengiriman tiap minggunya," jawab Indah.
Mereka akan singgah dulu ke rumah Arga untuk menjemput Eyang, Dewi, Barata, dan Ayu. Begitu mobil membunyikan klakson, orang-orang itu tidak keluar. Tentu saja ini membuat Arga curiga.
"Aku masuk dulu ke dalam. Kenapa mereka belum juga siap-siap?" ucap Arga dan Marsha hanya mengangguk.
Arga memasuki rumah dan terlihat eyangnya duduk dengan tatap marah. Di depannya ada Barata dan Ayu duduk dalam diam.
"Bagus kamu sudah datang. Cepat duduk!" titah Sari dengan nada tegas.
"Ada apa ini, Eyang?" tanya Arga sambil duduk di dekat wanita tua itu.
Arga merasa kalau ada sesuatu yang besar dan penting sudah terjadi pada keluarganya. Terlihat kalau kedua orangnya terlihat pucat dan diam.
"Katakan dengan jujur. Alva anak siapa?" tanya Sari sambil menatap tajam kepada sang cucu.
"Yang jelas Alva itu anak aku dan Marsha, cucu Ayah dan Ibu. Aku ikut mengurus dan membesarkan dia sejak masih dalam kandungan Marsha," jawab Arga dengan lantang.
Laki-laki itu paling tidak suka jika ada yang bilang kalau Alva bukan anaknya. Baginya bocah itu adalah anaknya. Tidak peduli jika bukan berasal dari benihnya.
"Wah, kamu bicara begitu maka sudah dipastikan kalau memang Alva itu bukan anak kamu. Tetapi, kamu mau bertanggung jawab atas bocah itu sejak masih di dalam kandungan Marsha," tukas Sari.
"Sudah aku bilang tadi, Eyang. Kalau Alva itu adalah anakku. Anak aku!" Arga mulai meradang.
"Kamu berani meninggikan suara kepada eyang!" Sari melotot kepada cucunya.
Dewi hanya terdiam sambil memperhatikan Arga. Perempuan itu mengira kalau Arga mau melakukan semua itu karena cinta kepada Marsha.
"Maaf, Eyang. Aku tidak suka cara bicara Eyang tadi. Itu melukai perasaan aku," ucap Arga.
"Apa kamu tahu kalau Marsha sudah hamil saat menikah dengan kamu, dahulu?" tanya Sari.
"Ya. Arga tahu. Saat itu Marsha sedang hamil anak Sakti," jawab Arga.
Sekilas Arga melihat kedua orang tuanya yang terlihat pasrah. Hal ini membuat dia berpikir kalau eyanynya sudah tahu semua yang terjadi kepada keluarganya.
"Apa? Bagaimana bisa kalian menikah di saat wanita itu hamil dari laki-laki lain?" Sari memukul bahu Arga.
"Bukan laki-laki lain, Eyang. Marsha hamil anak Sakti, adikku," balas Arga.
"Ya, itu sama saja dengan laki-laki lain. Karena Alva bukan berasal dari benih kamu!"
Sari masih saja emosi karena tanggapan Arga yang seperti itu. Baginya tidak pantas wanita yang hamil di luar nikah itu menikah dengan cucu kebanggannya.
"Pada kenyataannya aku aku dan kami semua sayang sama Alva. Aku juga cinta sama Marsha," tukas Arga masa bodoh dengan omelan neneknya.
"Baguslah kalian berdua sudah bercerai. Eyang tidak mau memiliki cucu menantu seperti Marsha. Dia itu wanita nakal, tidak terhormat, tidak bisa menjaga dirinya!" teriak Sari.
Sementara itu, Marsha yang menggendong Alva sedang berdiri di depan pintu. Air matanya jatuh tanpa dia sadari. Terlalu sakit hatinya mendengar ucapan wanita tua itu.
***
Eyang Sari akan menjadi penghalang bersatunya Arga dengan Marsha? Apa yang akan oleh Arga agar cintanya bisa bersatu dengan Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!