Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 83. Akhirnya ....


Bab 83


Marsha terkejut saat melihat ada Mariana dan Pandu berjalan ke arah mereka. Tentu saja dia masih ingat wanita yang sering menggoda suaminya dan merendahkan dia sebagai perempuan desa.


Mata Marsha langsung memicing dengan tatapan tajam kepada wanita yang berpakaian seksi. Tentu saja ini membuat Mariana sedikit mengerutkan kening karena diperlakukan seperti itu.


"Hai, Marsha." Pandu tersenyum lebar kepada wanita berjilbab hijau mint.


"Assalamualaikum, Om," ucap Alva.


Arga tertawa terkekeh mendengar ucapan sang anak kepada temannya. Sementara Pandu sendiri malah menyeringai kaku karena merasa malu diingatkan oleh anak kecil.


"Assalamualaikum, Alva," salam Pandu sambil berjongkok agar sejajar dengan bocah laki-laki itu.


"Wa'alaikumsalam, Om," balas Alva sambil tersenyum manis.


"Ini bocah makin gede semakin mirip kamu," kata Pandu sambil melihat ke arah Arga.


"Ya, iyalah. Karena aku sangat tampan, jadi gen unggul yang harus diturunkan," tukas Arga.


Mariana terus memindai Marsha. Di matanya wanita itu terlihat semakin cantik dan agak berisi dibandingkan saat terakhir mereka bertemu di Surabaya, dahulu.


*** 


Marsha langsung memasak karena Alva lapar dan ingin makan nuget ayam saat melihat ada itu di kulkas. Untungnya Arga masih mempunyai banyak beras dan ada beberapa bahan sayuran.


Pasangan pengantin baru itu masak bersama sambil ditonton oleh sang anak dan kedua tamunya. Arga dan Marsha begitu menikmati kegiatan memasak ini. Kadang kejahilan Arga senang menggoda Marsha. Jika Alva sedang meleng, laki-laki itu akan mencuri ciuman di pipi sang istri.


Mariana sangat cemburu melihat pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Selama Arga menjadi kekasih Valerie, tidak pernah terlihat seperti ini. Pancaran mata lelaki itu terlihat jelas betapa cinta dan kagum dirinya kepada sang wanita.


"Sudah-sudah, kalian berdua jangan terus pamer kemesraan! Bikin iri saja," kata Pandu menggerutu kesal karena dia tidak pernah melakukan hal seperti itu.


"Makanya buruan nikah, biar bisa seperti kita ini. Benar … nggak, Sayang?" Arga menaik-turunkan alisnya dan senyum tampannya kepada Marsha.


Marsha hanya mengangguk karena kedua tangannya sibuk menata piring di meja makan. Kegiatan memasakan sudah selesai dan wanita itu langsung menghidangkan makanannya.


"Masakan kamu memang sangat enak, Marsha. Makanya Alva cepat sekali pertumbuhannya. Padahal berasa kemarin aku lihat dia masih bayi merah yang sering digendong oleh Arga sambil bekerja," kata Pandu.


"Makanya kamu buruan nikah. Agar nanti ada yang masakin makanan yang enak buat kamu," pungkas Arga yang diikuti gelak tawa.


"Iya … ini juga aku sedang berusaha. Apalagi papa sudah ingin punya cucu, makanya terus mendesak aku agar cepat menikah," ujar Pandu setelah menelan makanannya.


Mariana merasa tersanjung karena dia adalah wanita yang terdekat dengan Pandu saat ini. Tidak mendapatkan Arga yang tampan dan gagah, Pandu yang kaya raya pun boleh jadi.


***


Hari ini misi siang pertama harus bisa berjalan lancar tanpa hambatan. Makanya Arga langsung mengajak Alva untuk tidur begitu terlihat mengantuk. Bocah itu di tempatkan di kamar miliknya dahulu yang sudah disiapkan.


Pandu dan Mariana juga sudah kembali ke kantor. Sudah tidak ada lagi pengganggu. Setelah selesai sholat Zuhur, Arga langsung meminta Marsha untuk memberikan hak suami kepadanya.


Ini pertama kalinya Arga menyentuh Marsha. Laki-laki yang merupakan mantan casanova itu tahu bagaimana caranya membuat seorang wanita merasakan kepuasan dan kebahagiaan saat bercinta. 


Harus Marsha akui kalau sentuhan sang suami sungguh dia sangat menyukainya juga membuatnya menginginkan lagi dan lagi. Melodi indah terus mengalun keluar dari mulut mereka berdua. Entah berapa kali kedua insan itu mereguk nikmatnya surga duniawi. 


Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Senyum manis, mata berbinar, dan detak jantung yang bertalu-talu kini sedang terjadi pada tubuh Arga dan Marsha.


'Ya Allah, inikah kebahagiaan dan kenikmatan bercinta yang sesungguhnya?' batin Arga.


Laki-laki itu sampai tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya saat ini. Bisa bercinta dengan pasangan yang halal dan sangat dia cintai. Jauh … jauh jelas perbedaannya saat bercinta dengan wanita lainnya.


"Terima kasih, Mas," ucap Marsha dengan pelan serta senyum cantik terukir di parasnya yang ayu.


"Terima kasih juga, Sayang." Arga mencium pucuk kepala istrinya.


Arga membalas pelukan Marsha dengan penuh perasaan. Senyuman dia tidak hilang sejak akan memulai ibadah ini. Laki-laki itu sempat membaca dan menghafal dulu doa ketika akan bercinta tadi. Untungnya sang istri begitu sabar mengajarinya.


Dunia serasa milik berdua, bahkan bocah kecil yang sedang tidur di kamar sebelah pun sampai lupa. Apalagi sekarang ini mereka masih menjadi pasangan pengantin baru dan tentunya sedang di masa-masa yang indah dan panas.


***


"Alva sekarang belajar tidur sendiri di kamar ini, ya?" Arga sedang merayu bocah kecil itu agar terbiasa tidur terpisah.


"Tidak mau. Alva mau tidur sama Ayah dan Bunda," balas Alva menolak keinginan ayahnya.


Arga tidak pantang menyerah membujuk Alva. Segala cara sudah dia lakukan. Mulai dari mengajaknya jalan-jalan, membeli mainan, berenang, tetapi tetap saja bocah itu tidak mau tidur sendiri.


"Alva ingin adik bayi, nggak?" tanya Arga yang merasa frustrasi karena tidak memiliki ide apa lagi untuk merayu sang anak.


"Adik bayi yang seperti Aisyah?" tanya Alva.


"Iya," jawab Arga. Padahal dia tidak tahu siapa itu Aisyah.


"Mau … mau! Alva mau adik bayi," kata Alva dengan gembira.


"Adik bayinya mana, Yah?" lanjut bocah berkata jernih itu dengan semangat.


Bagai terkena lemparan bola basket ke kepalanya, Arga berasa langsung melayang ruhnya diminta adik oleh Alva saat ini juga. Dia bingung harus jawab apa kepada bocah berusia tiga tahun itu.


"Minta sama Bunda," bisik Arga akhirnya.


Laki-laki itu yakin kalau istrinya akan bisa menangani Alva. Dia sering dibuat mati kutu oleh putranya ini.


Saat ini Marsha sedang memasak untuk makan malam. Wanita yang sedang asyik mengiris sayuran itu, dibuat terkejut oleh sang buah hati.


"Bunda, adik bayi untuk Alva mana?" bocah kecil itu berlari menghampiri Marsha.


"Aduh." Tangan wanita itu teriris pisau saking terkejutnya mendengar ucapan Alva.


"Astaghfirullahal'adzim. Alva, ada apa ini?" tanya Marsha sambil menggenggam jarinya yang berdarah.


"Ayah akan memberikan adik bayi untuk Alva katanya asal tidur sendiri di kamar," jawab Alva dengan gaya khasnya anak kecil.


Arga hanya menyeringai saja sambil menggaruk kepala. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan muka saat melihat Marsha melotot kepadanya.


"Nanti, Sayang. Bayi akan lahir dari perut Bunda. Seperti Aisyah yang lahir dari perut Tante Asma, dahulu," kata Marsha sambil berjongkok di depan putranya.


"Jadi, masih lama?" tanya Alva dengan wajahnya yang sendu.


"Alva harus rajin berdoa kepada Allah agar adik bayinya bisa cepat lahir dari perut Bunda," jawab Marsha sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Ya Allah, semoga adik bayi cantik cepat lahir dari perut Bunda," ujar Alva sambil menengadahkan kedua tangannya.


"Aamiin," ucap Arga dan Marsha bersamaan.


Mereka bertiga pun tertawa bersama. Baik Arga maupun Marsha menginginkan kebahagiaan selalu menyertai keluarga ini.


***


Akankah ada badai menerpa rumah tangga Arga dan Marsha? Adik bayi pesanan Alva akankah segera hadir atau dipending dahulu? Ikuti terus kisah mereka, ya!