Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 53. Bucin


Bab 53


"Kenapa?" tanya Ayu kepada Marsha.


"Apanya yang kenapa, Bu?" Marsha balik bertanya.


Wanita setengah paruh baya itu tersenyum tipis. Dia tahu kegamangan Marsha karena kehadiran Dewi di sekitar Arga.


"Dewi itu anak yang baik. Dia juga sejak dulu dekat dengan Arga dan Sakti. Mereka sudah seperti saudara. Jadi, kamu jangan cemas. Arga maunya sama kamu," jawab Ayu sambil berbisik menghoda mantan menantunya.


Pipi Marsha kemudian bersemu merah. Dia tidak sadar akan hal ini. Ada rasa malu, tetapi diikuti rasa senang yang dia rasakan setelah mendengar ucapan Ayu.


"Marsha." Seseorang memanggil


Hal ini membuat Dewi yang sudah berdiri di dekat Ayu ikut melihat ke arah orang yang memanggil. Dia penasaran dengan laki-laki yang terlihat dekat dengan Marsha.


"Eh, Gunawan," panggil Ayu.


"Bu. Sedang apa di sini?" tanya Gunawan basa-basi.


"Ini, bapak ingin makan awug," jawab Ayu.


Marsha dan Gunawan berbicara sebentar hanya saling menyapa dan menanyakan kabar setelah itu mereka berpisah. Marsha mengajak pulang Alva dan Gunawan melanjutkan perjalanan ke rumah temannya.


***


Perasaan Arga sedang berbunga-bunga karena akan mendapatkan balasan pesan dari Marsha. Dia bertingkah layaknya anak remaja yang baru saja jatuh cinta. Laki-laki itu merasa cinta kali ini agak berbeda dengan perasaan cinta kepada Valerie. Dia berpikir mungkin karena cintanya yang sekarang memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya.


"Ih, cantik sekali kekasihku ini!" 


Ya, Marsha mengirimkan foto dirinya bersama Alva saat pergi bermain di dekat perkebunan sayur milik Bagas. Tadi, dia ingin dikirim foto dan permintaannya dikabulkan.


Arga mengaku dirinya adalah kekasih Marsha secara sepihak. Meski wanita itu protes dibilang sebagai kekasihnya, tetapi dia masa bodoh. Yang penting ibunya Alva ini tahu akan perasaannya.


Ada pesan dari Dewi masuk. Arga lalu membukanya. Alis dia mengkerut saat membaca beberapa kata di sana.


Mas Arga, apa kenal dengan orang yang bernama Gunawan?


Dia dekat dengan Mbak Marsha, ya? Soalnya aku melihat mereka berdua sangat akrab.


Tidak lama kemudian masuk foto Marsha dan Gunawan yang sedang tertawa. Hanya terlihat muka mereka berdua, karena Alva berdiri di samping ibunya.


'Apa benar hubungan Marsha dengan Gunawan itu dekat? Seberapa dekat hubungan mereka? Setahu aku mereka cuma saling kenal saja,' batin Arga.


Lalu dia pun menelepon Marsha karena ingin tahu hubungannya dengan Gunawan. Cemburu, tentu saja itu yang sedang dirasakan oleh laki-laki itu. Namun, dia masih bisa mengendalikan perasaan cemburunya itu. Arga tidak mau karena kebodohannya nanti malah akan menghancurkan dirinya.


"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari seberang sana.


"Wa'alaikumsalam. Kekasihku sedang apa?" tanya Arga langsung mengeluarkan gombalannya.


"Siapa kekasihku itu? Maaf salah sambung!" balas Marsha dengan nada ketus.


"Aku tidak salah sambung. Ini benar nomor Bidadariku. Kalau tidak percaya, yuk, kita video call! Pasti nanti wajah bidadarinya akan muncul di layar," ucap Arga lalu terdengar suara tawa renyah milik Marsha.


Hati Arga terasa menghangat saat mendengar tawa sang mantan. Senyum dia pun langsung mengembang dengan perasaan berbunga-bunga. Rasanya dia ingin berteriak mengungkapkan kebahagiaannya ini.


"Kangen sama Bidadariku. Apa aku pulang kampung besok pagi, ya?"


"Jangan ngegombal terus. Baru juga bertemu beberapa hari yang lalu. Terus tadi pagi juga kita video call."


Arga tersenyum malu karena selalu melakukan hal yang bodoh jika berhubungan dengan Marsha. Pandu juga sudah mengatainya dengan “bucinnya Marsha”. Namun, dia tidak peduli mau disebut dengan panggilan itu.


"Aku dengar kamu bertemu dengan Gunawan, ya?" tanya Arga.


"Gunawan? Oh, iya. Tadi kita bertemu tidak sengaja di alun-alun kota. Saat aku dan Alva sedang bersama Ibu Ayu juga Dewi. Lalu, datang Gunawan menyapa aku dan Ibu. Memangnya kenapa? Apa Gunawan menanyakan sesuatu kepadamu? Atau Dewi memberi tahu akan pertemuan itu?" tanya Marsha.


"Ya, barusan Dewi menanyakan tentang Gunawan," jawab Arga jujur.


"Oh."


Setelah itu keduanya saling terdiam. Kening beberapa detik sampai Arga berkata, "Aku tidak ingin ada laki-laki yang mendekatimu, Marsha. Hanya aku yang boleh memiliki dirimu. Aku akan menikahimu jika sudah waktunya tiba."


"Lalu, bagaimana dengan dirimu? Kamu melarang aku dekat dengan laki-laki. Lalu, kamu sendiri dekat dengan perempuan lain."


"Apa maksudmu, Marsha? Sudah lama aku tidak pernah menjalani hubungan atau dekat dengan wanita lain. Bahkan aku juga menjauhi Valeri dan tidak pernah berhubungan apa pun lagi dengannya!" Arga mulai tersulut emosi karena dituduh yang tidak-tidak oleh Marsha.


"Pikir saja sendiri!" 


Marsha langsung memutuskan pembicaraan mereka. Saat Arga menghubunginya kembali nomor itu tidak aktif. Hal ini membuat Arga kesal dan marah. Lalu, dia pun mengambil kunci motor dan pergi meninggalkan apartemen.


***


Terdengar suara salam dan ketukan di pintu depan rumah. Marsha pun membuka gorden untuk memastikan siapa yang datang. Matanya membulat saat melihat ada Arga yang kini sedang melihat ke arahnya.


'Mau apa dia datang malam-malam ke sini?' tanya Marsha di dalam hati.


"Marsha buka pintunya!" pinta Arga.


"Siapa yang datang bertamu malam-malam begini, Marsha?" tanya Bagas sambil mendekati pintu.


"Ada Arga, Yah," jawab Marsha.


Senyum Arga langsung mengembang begitu pintu dibuka. Namun, senyumannya langsung hilang karena yang membuka itu adalah Bagas. Tidak terlihat ada Marsha di ruang depan itu.


"Marsha, mana, Yah?" tanya Arga.


"Sepertinya dia ke dapur untuk buat minuman," jawab Bagas.


Arga melupakan etika bertamu. Sudah datang malam hari, malah masuk ke dapur. Dia melihat kalau Marsha sedang membuatkan minuman.


"Marsha," bisik Arga tepat di belakang wanita itu.


Marsha terlonjak kaget mendengar bisikan di telinganya. Lalu, dia membalikkan kepalanya dan hal tidak terduga pun terjadi di antara kedua insan itu.


***


Apa yang terjadi di antara Marsha dengan Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!