
Bab 71
Suara teriakan Arga membuat orang-orang mengalihkan perhatian kepadanya. Termasuk Marsha dan Alva.
"Ayah!" teriak Alva sambil merentangkan kedua tangannya ingin digendong olehnya.
Arga malah menghampiri dahulu Marsha. Wanita berwajah pucat dengan sorot mata yang ketakutan itu membuatnya lupa kepada keadaan sekitar. Bahkan dia tidak sadar kalau menarik tubuh sang pujaan hati dari rangkulan ayahnya. Laki-laki itu memeluk erat tubuh perempuan berjilbab merah muda.
Bagas rasanya ingin memukul Arga yang sudah seenaknya sendiri menarik tubuh Marsha ke dalam pelukannya. Hal yang membuatnya kesal adalah kelakuan itu. Bukannya segera dibawa ke ruang UGD ini malah berpelukan mesra di depan umum.
"Apa ada yang terluka?" tanya Arga.
Marsha hanya menggelengkan kepala. Isak tangisnya kini kembali terdengar. Wanita itu tadi sungguh sangat ketakutan. Namun, kini merasa tenang berada di dalam dekapan mantan suaminya.
"Ayah … Bunda!" teriak Alva lagi dan menyadarkan keduanya.
Alva langsung menggendong bocah itu dan menciumi pipi gembulnya. Mereka pun bergegas masuk ke ruang UGD. Tadinya Arga hendak membopong Marsha, tetapi perempuan itu tidak mau. Selain itu, Bagas juga melotot terus kepadanya dan mengingatkan mereka belum menjadi pasangan halal kembali.
Malam itu Marsha mendapatkan perawatan. Bagas di bantu oleh Barata mengurus orang yang sudah membeli mobilnya. Kini yang menunggui Marsha di rumah sakit adalah Arga dan Indah.
"Ayah, pokoknya jangan biarkan orang yang sudah membeli mobil itu lolos. Paksa dia mengaku siapa orang yang sudah menyerahkan mobil itu kepadanya. Tidak mungkin mobil yang harganya mahal itu bisa dijual dengan mudah kepada orang asing. Kecuali, jika dia orang yang dikenal atau orang dekat," kata Arga kepada Bagas dan Barata.
Bagas dan Barata membenarkan hal itu. Harga mobil milik Bagas sekitar 400 juta, dengan merek ternama dan tipe terbaru, pastinya harga jual juga pasti masih tinggi. Kedua orang tua itu pun pergi untuk menemui orang tadi.
Arga duduk di samping brankar sambil menatap Marsha yang tidur sambil memeluk Alva. Ada rasa sedih dan kesal kepada dirinya karena tidak berada di samping sang pujaan hati ketika dia sedang ketakutan.
"Kak, kenapa belum tidur?" Marsha membuka matanya dan mendapati Arga sedang menatapnya.
"Aku ingin menjaga kamu dan Alva," jawab Arga berbisik.
Hati Marsha jadi berbunga-bunga kembali hanya karena satu kalimat itu. Dia kadang bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, kenapa bisa-bisanya suka sama laki-laki yang sering membuatnya sakit hati dan kesal. Namun, kembali lagi dia percaya kalau Allah 'lah yang membolak-balikkan hati semua makhluknya.
Melihat Marsha yang diam saja membuat Arga mengerutkan kening. Ada rasa bahagian dan sedih dari pancaran sinar mata wanita itu. Dia yakin kalau sudah terjadi sesuatu kepadanya. Akan tetapi, dia tidak mau membebani pikiran perempuan itu dengan mengingatkan akan kejadian buruk yang sudah menimpanya.
"Tidur lagi, ya! Aku akan berjaga agar tidak ada yang berani membawamu atau menyakitimu lagi," titah Arga berbisik.
Marsha malah menitikan air matanya. Ucapan Sari tadi sore kembali terngiang-ngiang. Dia takut jika Arga akan kembali menyakiti dirinya, setelah dia benar-benar jatuh cinta kepadanya.
"Marsha, ada apa? Mana yang sakit?" tanya Arga panik melihat wanitanya menangis.
"Sakitnya bukan di sana, tapi di sini," jawab Marsha menunjuk dadanya.
Muka Arga langsung merah padam. Mana berani dia menyentuh bagian itu, apalagi sampai melihatnya. Itu terlalu berbahaya baginya.
"Apa di sana ada luka?" tanya Arga gugup setengah mati dan Marsha mengangguk.
"Aku akan panggilkan dokter. Sepertinya tadi bagian itu terlewat saat dilakukan pemeriksaan," lanjut Arga hendak menekan bell nurse.
Marsha menggelengkan kepala. Tentu saja. Ini membuat Arga menjadi merasa heran.
"Kamu harus diperiksa sama dokter. Aku takut kalau lukanya nanti malah membahayakan dirimu," kata Arga dengan lembut.
"Dokter tidak akan bisa mengobati lukanya. Hanya Kak Arga yang bisa mengobati lukanya," ucap Marsha dengan malu-malu.
Arga terdiam sejenak untuk mengulangi kembali ucapan Marsha. Lalu, senyum tampannya menghiasi wajah yang kini memerah.
"Katakan bagaimana aku bisa mengobati luka kamu itu?" tanya Arga dengan lembut.
Kini giliran muka Marsha yang memerah. Mana mungkin dia bilang jangan mau dijodohkan dengan Dewi, jika Sari memintanya untuk menikahi wanita itu. Dia juga gengsi kalau harus bilang cinta duluan kepada Arga.
"Hmm, apa yang harus aku lakukan untuk mengobati dadamu itu?" tanya Arga yang terdengar ambigu. Ditambah tatapan matanya terarah ke dada. Itu membuat Marsha melotot karena merasa kesal sambil menutup bagian atas tubuhnya.
"Jangan macam-macam, Kak!" Marsha memberikan peringatan.
"Bukannya kamu bilang tadi sakit di dada dan hanya aku yang bisa mengobati lukanya. Nah, aku tidak tahu harus melakukan apa untuk mengobatinya," kata Arga dengan nada menggoda.
Marsha malah kehabisan kata-kata. Dia malu jika harus jujur untuk saat ini. Nanti, yang ada Arga malah besar kepala.
"Sepertinya kamu bohongan sakitnya. Jika beneran–"
"Aku tidak mau Kak Arga menerima perjodohan dengan Dewi," potong Marsha akhirnya.
Mulut Arga belum juga menutup karena di sela oleh Marsha. Kini dia kembali dikejutkan oleh ucapan wanita itu.
***
Bagaimana reaksi Arga saat tahu hal yang menimpa Marsha saat di rumah orang tuanya? Ikuti terus kisah mereka, ya!