Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 92. Menghindari Dokter Rama


Bab 92


Hampir setiap pagi Arga membantu memandikan Alva. Kadang mereka mandi bersama jika waktu sudah siang. Laki-laki itu begitu menikmati peran seorang ayah.


"Alva, di sekolah suka main sama siapa?" tanya Arga.


"Sama semua teman. Kata Bunda jangan suka membeda-bedakan teman. Jika teman itu baik kita ajak bermain, jika teman itu nakal kita nasehati. Itu yang sering Bunda katakan," jawab Alva.


Arga memakaikan seragam sekolah anaknya. Minyak telon, bedak, dan minyak rambut tidak lupa diaplikasikan ke badan bocah tiga tahun itu. Tangan Arga yang sudah terbiasa sangat cekatan dalam mengutus anaknya.


"Benar. Alva tidak boleh meniru sesuatu yang buruk. Jika ada teman berbuat sesuatu yang tidak benar, kasih tahu dengan baik-baik. Jangan main bentak-bentak. Apalagi main pukul dan tendang," ucap Arga dan Alva pun mengangguk.


Senang hati Arga karena Alva sudah paham apa yang diucapkan olehnya barusan. Sejak anak itu masih di dalam perut ibunya, Marsha sering mendoakan banyak kebaikan untuk calon bayi. Dia juga jadi sering ikut mendoakan di setiap sujud atau menengadahkan tangan meminta kepada Allah. Meski anaknya terlahir bukan dari benihnya, tetapi bagi laki-laki itu sudah dianggap anak kandung sendiri.


Arga dan Alva begitu lahap makan sarapan buatan Marsha. Setiap oleh bahan makanan yang dimasak oleh wanita itu selalu bisa memanjangkan lidah semua orang.


"Sayang, ini bunda buatkan dua kotak bekal. Satu untuk kamu dan satu lagi untuk Safira, ya!" titah Marsha yang memasukan bekal ke paper bag yang sering dia bawa ke sekolah anaknya.


"Kenapa Safira dibuatkan bekal juga, Bun?" tanya Alva.


"Kemarin dia bilang suka sama rasa masakan bunda. Bahkan makannya sampai nambah dan papanya senang melihat dia makan banyak. Jadi, kamu kasih satu bekalnya untuk dia, ya, Sayang," jawab Marsha.


Marsha atau Arga akan mengantarkan Alva ke sekolah. Lalu, nanti saat waktunya pulang, akan dijemput oleh Marsha. Semua murid di sana tidak ada yang ditunggui oleh walinya. Mereka akan datang saat menjelang waktu pulang. Marsha sendiri manfaat waktu ini untuk membersihkan semua ruangan, mencuci baju, mencuci pakaian, atau membuat cemilan jika masih ada waktu.


Saat Arga keluar dari kelas Alva, dia melihat ada Dokter Rama menggandeng Safira. Betapa terkejutnya dia kalau anak kecil yang pernah dia lihat di apartemennya, ternyata anak dokter yang pernah memeriksa kesuburannya.


"Gawat. Aku harus jalan lain agar tidak bertemu dengan dokter itu!" pekik Arga lalu segera bersembunyi.


Arga milih lewat jalur lain untuk mencapai tempat parkiran. Untung saja mobil dia di parkir jauh dengan kendaraan milik Dokter Rama. Setelah memastikan tidak terlihat lagi sosok Dokter Rama, laki-laki itu dengan secepatnya pergi dari sana.


***


Pandu membawa Arga pergi ke kampung Sukacita dengan menggunakan motor. Kata Arga lebih baik bawa motor yang bisa dipakai di semua medan, karena mereka tidak tahu jalan seperti apa yang akan mereka lalui nanti. Sudah tiga jam mereka berkendara dengan kecepatan cukup tinggi karena kampung itu sangat jauh ke pedalaman.


"Assalamualaikum, Pak. Mau tanya kampung Sukacita, kecamatan Sukaasih di mana, ya?" tanya Pandu karena sejak tadi tidak menemukan petunjuk nama tempat itu.


"Wa'alaikumsalam. Lurus saja terus nanti ada belokan ke kanan, lurus belok ke kiri lurus. Nah, setelah ada jalan bercabang belok ke kanan kalau mau ke kampung Sukacita," jawab laki-laki yang memakai caping sambil membawa cangkul.


Pandu dan Arga melanjutkan kembali perjalanan. Jangan yang berapa lama mereka berkendara untuk menemukan satu belokan ke kanan. Hampir 25 menit belokan pertama baru ke temu. Lalu, belokan kedua lebih dari dari 35 menit dari belokan pertama. Ke jalan bercabang sekitar 45 menit dari belokan kedua. Di jalan ini baru terlihat nama kampung Sukacita.


"Akhirnya setelah menempuh perjalanan lima jam lebih naik motor sampai juga ke kampung ini," ucap Pandu senang.


Perut kedua orang itu keroncongan karena belum makan. Mereka pun mampir ke salah satu warung nasi yang ada di pinggir jalan. Kampung di sini masih dipenuhi oleh lahan persawahan dan juga kebun-kebun jagung, kacang, dan tanaman holtikultura.


"Bu, mau tanya apa di kampung sini ada wanita paruh baya yang bernama Bi Ayu yang kerja sebagai pembantu di ibu kota. Suaminya sudah meninggal karena jatuh dari pohon kelapa dan punya dua orang anak perempuan?" tanya Arga.


Pandu otomatis menyenggol Arga. Dia berpikir kenapa malah tanya tentang  ART di rumahnya. Mereka saat ini sedang mencari informasi tentang Jelita ibunya Ratu.


Arga balas menyenggol temannya agar diam dan ikuti saja apa yang dia lakukan. Laki-laki ini sedang menguji pedangan warung nasi itu saja.


"Oh, Bi Ayu janda almarhum Bang Oni? Dia masih kerja di ibu kota. Punya majikan yang baik jadi betah dia di sana. Daripada di sini hidup sendirian lebih baik dia hidup di kota. Begitu katanya," jawab tukang warung nasi.


"Kalau Jelita yang diceraikan oleh suaminya dan ditinggal oleh suami dan anaknya itu, apa ibu tahu kabarnya?" tanya Arga.


***


Apakah pedang itu tahu tentang Jelita? Apakah Arga akan mengakui kepada Marsha tentang gangguan kesuburan dirinya? Ikuti terus kisah mereka, ya?