Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 59. Bertamu Di Pagi Buta


Bab 59


Sehabis selesai berjamaah sholat Subuh, Arga tidak langsung pulang ke rumah. Dia memilih jalan-jalan menelusuri sawah sambil menikmati dinginnya udara pagi hari, karena matahari belum muncul. Tanpa sadar kini dia sampai di halaman belakang rumah Bagas.


Senyum laki-laki itu mengembang saat melihat Marsha sedang mengaji. Dia sangat merindukan suara wanita itu saat membaca Alquran. Arga saat ini berdiri di depan jendela kamar mantan istrinya.


"Ayah!" panggil Alva yang baru bangun tidur dan menghadap ke arah jendela.


Arga pun tersenyum sambil melambaikan tangan kepada jagoannya. Laki-laki itu pun memberikan senyum tampannya untuk Marsha.


Alva pun turun dari ranjang lalu berlari ke arah jendela yang terbuka sedikit. Bocah itu naik kursi meja rias agar bisa membuka jendela lebih lebar lagi.


"Kenapa Ayah berdiri di sini?" tanya Alva sambil menjulurkan kedua tangannya ingin digendong.


"Ingin melihat Bunda sama Alva," jawab Arga sambil menggendong bocah itu melewati kusen kayu.


Marsha tentu saja terkejut dengan kedatangan Arga di pagi buta seperti ini. Semburat putih di ufuk timur saja belum terlihat.


"Ada apa?" tanya Marsha setelah selesai melipat mukena.


"Rindu sama kalian berdua. Jadi, tanpa sadar kakiku melangkah ke sini," jawab Arga.


Jika lewat pematang sawah dari rumah Arga ke rumah Marsha akan lebih dekat. Berbeda jika lewat jalan raya, akan sangat jauh.


"Perasaan kemarin kita main lama," tukas Marsha sambil mengulum senyum. 


Entah kenapa dia senang melihat penampilan Arga saat ini. Laki-laki itu memakai baju muslim dan sarung. Kopiah hitam menghiasi kepalanya. Tampan, itu yang ada di benak Marsha tadi saat melihatnya.


"Bawaannya selalu rindu sama kalian berdua," kata Arga dengan tatapan penuh damba kepada pujaan hatinya.


Marsha menyuruh Arga masuk ke rumahnya. Dia akan menyiapkan sarapan. Ternyata Alva malah mengajak mandi bersama. Tanpa Arga duga, pakaian miliknya yang dahulu pernah di simpan di lemari Marsha masih ada.


"Kamu tidak membuangnya?" tanya Arga dengan penuh haru.


"Aku juga lupa kalau ada pakaian Kak Arga di dalam lemari," jawab Marsha setelah memberikan baju milik laki-laki itu.


Marsha sendiri jarang membuka lemari bagian bawah yang dahulu digunakan oleh Arga untuk menyimpan barangnya. Jadi, dia tidak tahu masih ada.


Hati Arga berdebar-debar saat Marsha mengambilkan nasi dan lauk pauk untuknya. Rasa bahagia terlihat jelas dari pancaran matanya yang berbinar-binar sambil memperhatikan sang mantan.


Berbeda dengan kemarin malam saat Dewi mengambilkan sayur lodeh untuknya. Bukan bahagia yang dia rasakan, yang ada malah kesal. Mungkin karena cinta yang membuat dia seperti ini.


"Kak Arga nanti berangkat ke ibu kota jam berapa?" tanya Marsha.


"Sepertinya sore hari. Bukannya kita akan pergi jalan-jalan bersama hari ini?" Arga balas bertanya.


Marsha tersenyum lebar. Hari ini mereka memang janjian mau pergi jalan-jalan bersama. Apalagi kemarin kedua mantan mertuanya gagal ikut. Jadi, hari ini adalah kesempatan mereka akan pergi bersenang-senang. Namun, tiba-tiba wajah wanita itu muram saat mengingat eyangnya Arga. Kemarin terdengar jelas ucapan wanita tua itu menghina dan merendahkan dirinya. Sepertinya dia akan kembali makan hati jika bertemu dengan Sari.


Begitu mereka selesai sarapan, Arga membantu mencuci piring. Sementara itu, Marsha membereskan dapur, menyapu dan mengepel lantainya. Terlihat seperti pasangan suami istri yang kompak saat membereskan rumah. Hal ini tidak asing bagi kedua orang itu. Dahulu saat di apartemen Arga sering membantu mencuci piring atau memasak. 


"Arga, ayahmu barusan menelepon. Dia menjadi keberadaan kamu," kata Bagas mendatangi area dapur.


"Oh, iya. Makasih, Yah. Setelah ini Arga juga akan pamit pulang. Nanti jam sembilan pagi akan datang kembali untuk menjemput kalian," balas Arga.


"Iya. Alva sudah tidak sabar kayaknya," tukas Indah yang menggendong sang cucu yang sudah tampan.


***


Begitu Arga masuk ke rumah sudah ada Sari duduk di sofa dan menghadap ke arah pintu. Mata wanita tua itu melotot saat Arga melewati tempat itu. 


"Habis dari mana kamu? Pagi-pagi sudah kelayapan!" tanya Sari dengan suaranya yang menggelar.


Dahulu wanita tua itu tidak pernah meninggikan suaranya jika bicara dengan anak cucunya. Apalagi Arga adalah cucu kesayangan, karena dia merupakan cucu pertama. 


"Habis mencari calon bidadari surga, Eyang," balas Arga kemudian dia pergi karena tidak mau bertengkar dengan neneknya.


"Hei, kembali Arga! Eyang belum selesai bicara," teriak Sari.


Dewi membawakan teh manis hangat untuk Sari. Perempuan itu melihat rasa kekesalan dari raut wajah sang eyang. Lalu, dia pun memijat lengan keriput itu dengan pelan.


"Eyang jangan marah-marah terus. Kenapa, sih, Eyang sering sekali memarahi Mas Arga?" tanya Dewi dengan lembut.


"Arga pasti menemui wanita murahan itu! Eyang tidak suka," jawab Sari dengan nada kesal.


Dewi pun menyuruh Sari untuk meminum teh manisnya dahulu agar emosi mereda. Jika eyang marah maka imbas ke semua penghuni rumah.


"Kalau Eyang marah-marah terus sama Mas Arga, nanti yang ada dia akan benci dan melawan sama Eyang, loh!" Dewi sedang membujuk wanita tua itu.


Sari pun terdiam dan memikirkan ucapan Dewi. Dia membenarkan itu, karena selama ini baik Arga mau pun Sakti selalu menyayanginya juga penurut. Kedua cucunya itu tidak pernah membantah. Justru mereka sering bermanja kepadanya jika sedang bersama.


Mengenang masa lalu membuat Sari rindu dengan masa-masa itu. Kebersamaan selalu dipenuhi dengan gelak tawa dan senda gurau keluarganya. Namun, kini yang ada justru sebaliknya.


"Bu, aku mau jemput Alva dulu," kata Barata karena permintaan Sari semalam.


"Ah, iya. Bilang sekalian kalau Alva akan menginap juga di sini!" titah Sari kepada putranya dan Barata pun mengangguk.


Dewi hanya terdiam menatap Barata pergi ke luar rumah. Besok Senin dia mulai bekerja di koperasi dan gudang milik laki-laki itu.


"Ada apa, Wi?" tanya Sari.


"Apa sebaiknya Mas Arga secepatnya menikah lagi? Pakdhe sekarang cuma punya Mas Arga. Nanti siapa yang akan meneruskan usaha miliknya? Kayak eyang kakung yang punya anak satu, sekarang usahanya dikelola oleh orang lain. Bukannya dengan memiliki banyak anak nanti akan ada yang membantu usaha keluarga? Apalagi Alva itu bukan anak Mas Arga. Anak yang terlahir dari hasil hubungan di luar nikah tidak memiliki hak waris, Eyang. Jika Mas Arga tidak memiliki anak, maka siapa yang akan mewarisi semua harta kekayaan keluarga Wibowo?"


Dewi berbicara panjang dan jelas. Dia sedang mencoba mengambil hati Sari. Perempuan itu tentu saja berharap kalau ucapannya ini mengena di hati Sari.


***


Apakah Sari akan termakan ucapan dari Dewi? Apa Marsha akan mengizinkan Alva untuk menginap di rumah Wibowo? Ikuti terus kisah mereka, ya!