Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 137.


Bab 137


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa kepada Mutiara. Aku akan meminta bantuan kepada teman-temanku untuk mencari tahu kabar Mutiara. Jadi, kita berdoa semoga Mutiara dan keluarganya dalam keadaan baik-baik saja," kata Alva dan Safira mengangguk.


"Aku merasa bersalah kepada Mutiara dan kamu, Fira. Gara-gara aku, kalian menjadi kerepotan begini," ucap Intan dengan tatapan nanar.


"Kalian jangan bersedih begitu. Hiduplah untuk memikirkan masa depan yang lebih baik. Kejadian yang sedang menimpa kita saat ini semoga menjadi ladang ibadah untuk kita. Asal ... kita ikhlas dan ridho saat menjalani semua ini, maka pahala balasan yang akan kita dapatkan," kata Alva dan kedua gadis itu pun mengangguk.


Alva mencoba menenangkan Safira dan Intan. Sebenarnya di dalam pikiran dia saat ini sudah terpikir sesuatu dengan apa yang terjadi kepada Safira.


Pemuda itu mengatakan akan mencari cemilan dahulu dan meminta izin kepada mereka berdua. Padahal dia sedang meminta bantuan kepada Alfarizi dan Alvin.


"Bisa minta bantuan kalian berdua saat ini?" tanya Alva lewat sambungan video call


"Ada apa?" tanya Alfarizi.


"Emangnya apa yang kamu inginkan dari kami di kala waktu luang," lanjut Alvin.


"Ini agak rahasia dan kalian harus melakukan apa yang akan pinta itu dengan hati-hati jangan sampai diketahui oleh orang lain," jawab Alva.


"Baiklah. Katakan apa itu? Kok, kayak permintaan yang sangat berbahaya, ya?" Alvin tertawa terkekeh.


"Ya, bisa saja nyawa kalian menjadi taruhannya," balas Alva.


Terlihat wajah kedua pemuda itu berubah pucat. Mereka juga langsung terdiam.


"Aku ingin kalian cari tahu tentang Mutiara dan keluarganya saat ini juga. Selain itu cari informasi daftar orang hilang, perempuan berusia sekitar belasan sampai dua puluh tahunan," kata Alva.


"Kamu yakin Safira tidak akan ngamuk mencari informasi tentang Mutiara dan para gadis belia itu?" timpal Alvin.


"Dia sudah tahu tentang ini. Makanya aku minta bantuan sama kalian berdua," ucap Alva.


Alfarizi mencari data orang hilang dan Alvin mencari informasi tentang Mutiara dan keluarganya. Mereka langsung bergerak begitu selesai menerima panggilan video call, tadi.


Alfarizi seorang anak pemilik pesantren, tempat di mana Alva dan Alvin belajar mengaji dahulu saat beranjak remaja. Sementara Alvin, teman sekamarnya Alva saat di pesantren. Persahabatan mereka bertiga terjalin kuat sampai sekarang, meski fakultas yang diambil oleh mereka itu berbeda-beda.


***


Semalam Safira dan Intan tidur dengan nyenyak karena kelelahan menangis. Sementara Alva, duduk manis sambil membaca informasi yang diberikan oleh Alfarizi dan Alvin.


Untuk kondisi Mutiara dan keluarganya tidak ada yang aneh. Mereka semua baik-baik saja dan beraktivitas seperti biasa.


Sementara laporan dari Alfarizi begitu sangat banyak daftar perempuan yang dilaporkan menghilang. Sampai hari hampir subuh, laporan dari Alfarizi belum juga selesai.


Safira dan Intan sarapan bersama terlebih dahulu. Apalagi kedua orang tua Intan membawa banyak sekali makanan untuk mereka


"Alva, makan dulu. Kerjanya bisa dilanjutkan nanti lagi," kata mamanya Intan.


"Pasti Alva ini laki-laki bertanggung jawab. Dia tidak akan diam jika pekerjaan miliknya belum selesai," puji Om Zamzam.


Alva hanya tersenyum ramah. Memang benar dia lebih suka menyelesaikan terlebih dahulu semua pekerjaan, lalu bersantai.