Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 65. Mencari Tahu


Bab 66


"Kak Arga jangan sampai punya pikiran kalau Sakti adalah pelakunya, ya?" Marsha menatap Arga dengan penuh curiga.


"Hm, enggaklah. Mana mungkin Sakti melakukan perbuatan keji seperti itu," bantah Arga. Padahal tadi itu yang terlintas di dalam pikirannya.


"Dahulu Sakti sempat bilang kalau sampai kehamilan aku diketahui oleh orang lain dan itu membuat nama aku juga keluargaku menjadi buruk di pandangan masyarakat, maka dia akan mengusut kejadian malam itu dengan menjadikan semua orang yang ada di tempat pertemuan itu sebagai tersangka. Dia sangat marah sekali waktu itu, tapi marahnya bukan sama aku," ucap Marsha sambil menyeringai.


'Iyalah, mana mungkin Sakti marah sama kamu. Dia 'kan suka sama kamu, Marsha,' batin Arga.


Bagas pun akan ikut menyelidiki masalah ini. Dia dekat dengan aparatur desa dan kecamatan, juga beberapa orang yang punya jabatan di tempat tinggalnya. Meski kejadian itu sudah lebih dari tiga tahun, setidaknya masih ada arsip tentang data kegiatan yang sering dilakukan di kampungnya ini. Apalagi kegiatan yang melibatkan uang, meski sedikit pasti akan ada catatannya.


"Ini sudah larut malam. Sebaiknya Arga cepat tidur agar besok tidak kesiangan. Bukannya kamu harus pergi di pagi buta." Indah menatap kedua sejoli yang masih asyik berbicara.


"Iya, Bu." Arga tersenyum tipis. 


Sebenarnya laki-laki itu masih ingin berbicara dengan sang pujaan hati. Namun, sudah kena peringatan secara tidak langsung dari calon mertuanya.


***


Begitu sampai ke ibu kota, Arga langsung masuk ke kantor. Pandu tidak memperbolehkan dia untuk libur. Meski raga dia di sana, tetapi pikirannya masih di desa. Laki-laki itu memikirkan siapa orang yang sudah berani berbuat jahat kepada Marsha dan Sakti.


"Jangan melamun! Atau kamu mau aku potong gajimu bulan depan?" Pandu tiba-tiba saja muncul tanpa permisi.


"Silakan saja. Maka aku akan berhenti bekerja dari perusahaan ini," balas Arga dengan senyum mengejek.


Ancaman balik dari Arga membuat Pandu bungkam. Dia paling suka dan nyaman jika bekerja dengan temannya ini. Keduanya saling terbuka tidak suka dengan kemunafikan. Bagi sang CEO, orang-orang di sekitarnya itu banyak yang suka memanfaatkan dirinya. Berbeda dengan sahabatnya yang tidak pernah memanfaatkan kekuasaan dan jabatan yang dia miliki, meski mereka memiliki hubungan yang sangat baik.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sampai segitunya? Pasti ada hubungannya dengan Marsha, iya, 'kan?" tanya Pandu dan Arga pun mengangguk.


"Ceritakan, ada apa dengan Marsha?" Pandu begitu bersemangat ingin mengetahui wanita yang pernah membuat dia mati kutu oleh kata-katanya.


Arga pun menceritakan apa yang terjadi kepada Marsha dan Sakti, tanpa memberi tahu kalau wanita itu hamil akibat kejadian yang menimpa mereka. Pandu mendengarkan dengan seksama.


"Benar apa yang dipikirkan oleh Marsha dan mantan ayah mertuamu. Pelakunya pasti ada di antara orang-orang yang hadir di pertemuan malam itu. Aku baru tahu kalau Marsha sudah tidak perawan saat menikah dengan kamu," kata Pandu.


Pandu pun mengangkat kedua jarinya sambil menyeringai. Dia meminta berdamai, karena akan menyusahkan dirinya jika mereka sampai bertengkar.


"Kenapa kamu mempermasalahkan kejadian di masa lalunya Marsha?" tanya Pandu.


Terlihat ada keraguan pada Arga untuk menceritakan yang sebenarnya sedang terjadi di keluarga mereka. Dia tidak mau kabar Marsha yang hamil diluar nikah semakin tersebar.


"Eyang aku menuduh Marsha wanita tidak bener. Dia tidak setuju aku rujuk kembali dengannya," jawab Arga dengan ketus karena mengingat kembali sikap neneknya kepada Marsha.


"Hah. Emang Eyang Sari tahu Marsha dan Sakti pernah melakukan hubungan badan dari siapa?" tanya Pandu kaget.


"Dari buku catatan milik Sakti," jawab Arga sambil memijat kepala.


"Eyang Sari bisa dapat buku catatan milik Sakti dari mana atau dari siapa?" tanya sang CEO yang merasa semakin penasaran.


Arga yang duduk bersandar langsung duduk tegak. Dia baru berpikir ini, bagaimana caranya buku catatan milik Sakti bisa sampai ke tangan neneknya.


"Iya, bener juga! Dari mana eyang tahu buku catatan itu? Apakah dari Dewi? Dia, 'kan yang tinggal di kamar Satria," gumam Arga.


Terdengar bunyi pesan masuk di handphone milik Arga. Tertera nama sang pujaan hati di layar. Mata laki-laki itu terbelalak saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Marsha.


"Apa maksudnya ini?"


Arga langsung menghubungi Marsha. Dia tidak mau kalau hubungan mereka kembali merenggang. Dia sudah sudah payah untuk mendapatkan hati dan kepercayaan sang pujaan hati. Jadi, dia tidak akan pernah mau melepaskan wanita itu lagi.


***


Pesan apa yang dikirimkan oleh Marsha kepada Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!


Bantu vote karya mana yang ingin kalian baca dari semua cover yang pernah aku post di sini.