Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 151. Mencari Keberadaan Safira


Bab 151


Safira dan Mutiara yang pingsan langsung dibawa oleh Leonard dan Fery pergi. Mobil milik Safira dibiarkan begitu saja di sana. Keduanya takut ada orang yang memergoki kejahatan mereka.


Setelah melakukan perjalanan sekitar 45 menit, mobil Leonard masuk ke sebuah pekarangan rumah model minimalis yang berukuran sedang. Seperti rumah lainnya milik laki-laki itu, bangunan ini juga dikelilingi oleh benteng yang tinggi.


"Kamu yakin tidak membawa mereka ke rumah sakit atau klinik?" tanya Fery sambil menggotong tubuh Mutiara.


"Apa kamu bodoh?" bentak Leonard kepada saudaranya itu.


Fery tidak memedulikan ucapan sepupunya, dia jalan terus memasuki sebuah kamar kedua. Leonard yang membopong tubuh Safira, mengikuti dari belakang. Kini kedua gadis itu dibaringkan di atas tempat tidur.


"Aku akan menghubungi Dokter Erik untuk mengobati dan merawat mereka," ucap Leonard lalu keluar dari kamar itu.


Kini hanya ada Fery yang memandangi kedua gadis yang sedang tidak sadarkan diri. Dia mengamati wajah Safira, lalu berganti kepada Mutiara.


"Ternyata kamu lebih cantik aslinya dibandingkan dengan yang difoto," ucap Fery yang memandangi wajah Safira.


"Sayang sekali gadis cantik seperti kamu akan dijual oleh Leonard. Tapi, itu sepadan dengan apa yang sudah diperbuat oleh teman-teman kamu itu," lanjut Fery sambil menyentuh pipi Safira.


Laki-laki itu menatap Safira dengan berbinar. Jika saja Leonard tidak ada keinginan untuk melelang gadis ini, tentunya dia akan dengan senang hati menjadikan Safira sebagai pasangannya.


***


Alva menghubungi teman-temannya untuk membantu mencari keberadaan Safira. Dia takut kalau ada orang jahat yang mengincar gadis itu. 


"Kakak akan pergi. Kamu jaga Alfi baik-baik. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun kecuali orang yang benar-benar sudah kamu kenal dengan baik," kata Alva kepada Arshy.


"Kakak mau mencari ke mana?" tanya Arshy dengan perasaan khawatir.


"Kakak akan mendatangi rumah Mutiara dahulu, siapa tahu dia tahu di mana Fira saat ini," jawab Alva.


"Berhati-hatilah, Kak! Jika tidak berhasil menemukan Kak Safi, minta bantuan polisi. Aku takut kalau penjahat itu mengincar Kak Safi," kata Arshy dan Alva mengangguk.


Pemuda itu mencari keberadaan Safira dengan mengendarai motor untuk memudahkan dia saat melakukan pengejaran dan menyalip. Alva mengabaikan tubuhnya yang merasa kelelahan, rasa khawatir kepada gadis itu lebih besar. 


"Alvin, saat ini kamu sedsng ada di mana?" tanya Alva.


"Jika kamu sudah senggang tolong bantu aku mencari keberadaan Safira. Dia belum kembali ke apartemen sejak pulang dari kampus tadi," kata Alva.


"Apa? Kenapa kamu baru beri tahu aku sekarang?" Alvin bicara dengan nada tinggi.


"Aku baru tahu. Sejak tadi aku merasa kepikiran dia terus, saat aku hubungi dia tidak menjawab. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Makanya aku menghubungi Arshy dan ternyata Safira belum pulang," ujar Alva.


Alvin yang langsung mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi mencari keberadaan Safira. Dia takut kalau Leonard dan Fery ada hubungannya dengan hilangnya Safira.


Handphone milik Alva bergetar, dia melihat ada nama Alfarizi. Langsung saja dia menggeser tombol berwarna hijau.


"Bagaimana?" tanya Alva setelah mengucapkan salam.


"Ternyata Mutiara juga tidak ada di rumah. Kata orang tuannya, dia juga belum pulang dari kampus," jawab Alfarizi.


Alva menjadi semakin yakin kalau mereka berdua dalam keadaan bahaya. Dia takut kalau Safira dan Mutiara jatuh ke tangan Leonard dan Fery. Lalu, mereka melakukan kepada keduanya seperti yang dilakukan kepada para korban.


'Ya Allah, aku mohon lindungi Safira dan Mutiara.' Alva di dalam hatinya berdoa.


***


Sementara itu, Shinta sedang berada di dalam pesawat. Dia akan datang ke Indonesia untuk menemui Safira. Dia akan mencoba merayu putrinya itu agar mau ikut dengannya untuk tinggal di Amerika. Pernikahannya dengan laki-laki bule itu tidak membuahkan hasil satu orang anak pun.


'Apa yang harus aku lakukan agar Safira bisa aku bawa ke Amerika, ya?' tanya Shinta di dalam hatinya.


'Aku harap Rama dan Dewi tidak menghalangi keinginan aku kali ini,' lanjutnya di dalam hati.


Shinta melihat ke luar jendela, hanya gumpalan hitam yang bisa dia lihat karena hari sedang malam. Bayang-bayang penyesalan kembali memenuhi pikiran Shinta dan membuat dadanya sesak.


Menyesal pun sepertinya sudah tidak berguna bagi Shinta. Wanita itu lebih mementingkan karir dari pada keluarganya.


Shinta melirik laki-laki yang kini sedang tertidur lelap di sampingnya. Laki-laki yang kini sudah menjadi pendamping hidup dan dia merasa sudah salah memilih.


***