Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sang Penghancur.


Warning!!!!! 21+ only. Mohon kebijakan dalam membaca.


Harris mendudukkan Jen di kursi sebelahnya, ketika Kira menyuguhinya secangkir kopi hitam pekat, dengan aroma khas. Sangat menggugah semangat, tak heran rasanya jika kopi menjadi idola menemani suasana pagi. Baik saat cerah ataupun hujan.


Harris fokus memeriksa kabar perkembangan pasar melalui ponselnya, dan sebelah tangannya mengetuk-ketuk meja. Sedangkan Jen, bersandar malas di kursinya dengan memainkan ponsel Mamanya. Excel dan Jeje menyapa mereka tepat saat Harris menyeruput kopinya.


"Pagi, Pa, Ma," Sapa mereka berbarengan.


"Pagi juga kesayangan Mama. Udah ganteng aja nih cowok-cowok Mama," Kira menoleh, menyambut mereka dengan pelukan hangat. Excel masih membalas dan menerima ciuman Mamanya, tetapi Jeje, segera menghapus bekas ciuman Mamanya. Dengan gerakan samar tentunya. Kemudian mereka, duduk berseberangan dengan Papanya.


Excel sedikit tidak nyaman saat Papanya tidak membalas sapaannya, bahkan mengabaikannya.


"Mungkin Papa marah kerena ulah Jeje," Batin Excel.


Ujung kaki Excel melayang, membentur ke arah kaki Jeje di sampingnya, hal itu di ulanginya hingga beberapa kali. Sampai akhirnya Jeje menoleh, dengan sengit ke arah kakaknya.


Dengan dagu terangkat, seakan bertanya, "Ada apa?"


Excel menggerakkan manik mata dan kepalanya ke arah Papanya berada. Jeje, dengan gerak lambat mengikuti isyarat kakaknya. Kedua matanya memandang Papa dan Mamanya yang sedang menikmati sarapan. Juga Jen yang asyik mengigit roti lapisnya, tanpa mengalihkan padangan dari ponsel.


Jeje menghela napas, pusing, tidak paham maksud kakaknya, sehingga dia menggeser duduknya, lebih dekat.


"Ada apa sih, Kak?" Jeje berbisik meski Jen langsung mengangkat wajahnya dari layar ponsel.


"Sepertinya, Papa marah lho, Je. Lihat saja, Papa tidak menyapa atau membalas sapaan kita tadi!" Excel berbicara di sudut bibirnya. Namun, Jeje masih bisa menangkap dengan jelas ucapan Kakaknya.


Jeje seketika menoleh ke arah Papanya yang sedang fokus dengan ponselnya. Dan, itu seperti bukan Papanya, biasanya, meski harus mengurusi urusan kantor, Papanya lebih mementingkan sarapannya. Atau berbincang dengan Mama, ataupun dengan mereka.


Jeje merasa ada yang salah, dan tidak nyaman, melihat Papanya mendiamkan dirinya dan Kakaknya. Tetapi, Jeje segera sadar dengan tujuan awalnya, meski harus bermusuhan dengan Papanya. Demi Mama, apapun akan ku lakukan. Tak peduli Papa, atau siapapun, jika Mama di sakiti, aku akan melawannya, Pikir Jeje.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," Johan berjalan ke arah meja makan dengan ekspresi datar.


"Pagi, Jo," Jawab Kira, "Sarapan dulu, Jo. Nih masih banyak makanan. Atau mau ku buatkan kopi dulu."


"Terimakasih, Nyonya. Jika tidak merepotkan-,"


"Sarapan saja di kantor, kita sudah kesiangan," Potong Harris dengan cepat. Dia segera beranjak meninggalkan meja makan tanpa berpamitan dengan anak-anaknya.


Johan menggaruk belakang kepalanya, merasa canggung.


"Salah lagi," Desahnya.


"Maaf, Jo," Ekspresi Kira menurun, seakan memohon pemakluman dari Johan akan sikap suaminya.


"Tidak apa, Nyonya. Kalau begitu, saya berangkat dulu. Permisi Nyonya," Johan membungkuk semestinya. Sebelum melenggang keluar ruang makan dengan langkah panjang. Pun dengan Kira, yang buru-buru mengikuti keduanya, mengantar suaminya berangkat bekerja.


"Jen, kamu ngga bilang apa-apa kan, sama Papa?" Jeje menyergap Jen dengan pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.


"Memang aku harus bilang apa? Aku kan juga terlibat rencana kalian! Aku cari aman saja," Jawab Jen dengan kesungguhan.


"Itu rencana Jeje, Jen. Kak Excel ngga ikut-ikutan," Excel menimpali, dia juga tidak mau ikut di salahkan nantinya.


"Kak Excel ngga asyik. Giliran urusan salah di salahkan, pada kabur, lepas tangan," Jeje mencibir, sebal, melihat mereka berdua tidak konsisten.


Eh, tapi konsisten pada apa, Je? Kan dari kemarin-kemarin, Kak Excel ngga setuju dengan usulanmu -Author said-


"Kakak sudah berulang kali mengingatkan, Je. Kamu hanya berlebihan, dan mungkin Jen benar, Mama lagi kerokan," Excel memperingati Jeje, sekali lagi. Berharap Jeje mau berhenti, jika ingin hidup tenteram dan nyaman.


"Pokoknya, Jeje ngga mau berhenti, sampai Mama benar-benar selamat," Jeje berapi-api. Seakan tak ada air maupun hujan yang mampu memadamkannya.


Baik Jen maupun Excel hanya diam saja. Enggan menanggapi kata-kata saudaranya. Selama tidak berlebihan, Excel akan menolerir tapi jika sudah melewati batas, Excel akan langsung melapor kepada Papa dan Mamanya.


****


Kira sedang dalam perjalanan dari Rumah Sakit, ke kafe Ivy, sebelum ke klinik dimana mereka akan menyervis tubuh mereka. Sedianya, Kira akan melakukan tes kesuburan. Entahlah, Kira merasa perlu melakukan itu, meski Harris tidak mengatakan malah meminta Kira untuk tidak khawatir, tapi ketika Harris meraba sayatan tipis di bawah pusar, Kira merasa bahwa suaminya sangat mendamba kehadiran keturunan darinya.


Tetapi, sayang, Vivian meng-cancel secara tiba-tiba, sebab dia harus membantu Operasi Caesar. Kira juga tidak menanyakan lebih jauh, atau meminta dokter pengganti. Sebab Kira sangat nyaman konsultasi dengan Dokter Vivian yang terkesan tidak menggurui atau membuat pasiennya merasa tertekan. Sehingga apa yang menjadi keluh kesah pasien, bisa di ungkap secara jelas.


Kira menepi di sisi jalan, tanpa berbelok terlebih dahulu ke pelataran kafe, sebab Ivy sudah berdiri di tepi jalan seperti patung selamat datang, menunggu dirinya.


"Hai, Sayangku, Cintaku yang suka kabur sama Tuan Tarzan," Ivy memeluk Kira dan mendaratkan pipinya di kedua pipi Kira, saat duduk di sebelah Kira yang mengemudi.


Kira mengangkat sebelah bibir atasnya, "Iya, Tuan Tarzan yang kasar,"


"Ih, biar kasar tapi mantap, kan? Buktinya mau servis segala!" Ivy menaik turunkan alisnya berulang, menggoda Kira.


Kira ragu menjawab, "Ya juga sih. Usaha Vy, takut kaya yang sudah-sudah."


Kira segera melajukan mobilnya menuju klinik kecantikan tempat mereka melakukan treatment.


***


Kira benar-benar menikmati segala bentuk perawatan yang di pesankan Ivy untuknya. Ada beberapa treatment yang Kira baru pertama kali mengalaminya. Sehingga dia sedikit risih ketika hal-hal pribadinya terusik.


Berkat Ivy, mereka mendapat perawatan terbaik dan pelayanan yang prima. Sebab Ivy, mengatakan siapa Kira.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Kira dan Ivy benar-benar lupa. Kini mereka berdua sedang memakai kembali pakaian mereka sebelum membayar semua treatment menyeluruh mereka.


Hingga sebuah pesan masuk melaui aplikasi hijau. Rupanya, suaminya memintanya untuk datang ke kantor. Kira hanya mengiyakan saja, kebetulan posisinya tidak terlalu jauh dari kantor suaminya.


"Siapa Ra?" Tanya Ivy saat melihat ekspresi Kira berubah usai melihat ponselnya.


"Tuan Tarzan, aku di suruh ke kantornya," Jawab Kira santai.


"Siap-siap lo bakal di garap di sana, ngga tahan nunggu nanti malam, say,"


"Jangan gila, mungkin aja dia tahu kalau posisi kita tidak jauh dari kantornya,"


Ponsel Kira berbunyi lagi, namun Kira enggan menjawabnya. Dia malah menghembuskan nafas, menggerutu, merasa suaminya tidak sabaran.


"Buruan cabut, ntar kelamaan dia nunggunya. Udah ngga tahan beneran deh, kayanya," Ivy menyenggol lengan Kira dengan ujung bahunya berulang-ulang.


"Apa sih, Vy," Kira merasa jengah, apalagi beberapa pegawai dan pengunjung memperhatikan mereka.


Kira membiarkan Ivy pulang naik taksi, sedangkan dia segera melaju menuju kantor suaminya. Dari parkir bawah tanah, Kira langsung menuju lantai paling atas, dimana Harris bekerja.


Harris berpapasan dengan Kira di koridor tepat saat Harris menyelesaikan rapat.


"Sayang, kau sudah datang," Harris segera meraih Kira dalan pelukannya. Mengabaikan tatapan sungkan para stafnya, yang masih mengekori Harris.


Kira mengangguk patuh, tanpa suara dan sedikit menghindari serangan Harris. Dia tidak ingin membuat orang lain tidak nyaman, melihat keintiman mereka.


"Jo, pesankan aku makan siang, juga untukmu sendiri," Harris berucap tanpa menoleh ataupun berhenti.


"Baik, Tuan," Dengan sadar diri rombongan setengah lusin pria dan wanita itu membubarkan diri. Johan pun segera kembali ke posnya. Dia bisa memesan makan siang melalui aplikasi, dan dia bisa istirahat barang sekejap, sementara bosnya menikmati madu.


Benar saja, Harris langsung menekan Kira ke dinding begitu pintu tertutup. Meski tidak sabar, namun dia tidak membelah baju atau kasar pada istrinya itu.


Kira menyambut sapuan, menjelajah isi bibirnya, membalas setiap isapan ataupun cecapan yang dilakukan Harris padanya. Sehingga menimbulkan decak-decak khas yang menambah syahdunya suasana, memompa gairah sampai ke ubun-ubun.


Kira merasa merinding, dia polos sedangkan suaminya masih lengkap. Ah, apa ini? Memalukan. Kira mengawasi seluruh ruangan, memeriksa CCTV di sudut-sudut langit-langit.


"Jangan melihat yang lain, Yang. Aku di sini. Percaya saja padaku," Lagi, suara sarat gairah itu terasa indah di telinga Kira. Bak sebuah titah, Kira patuh saja, hanya menikmati suaminya. Mengosongkan pikirannya, membiarkan semua hanyut bersama.


Di topang sepatu haknya yang sedikit tinggi, tubuh mereka nyaris sejajar. Harris mengaitkan sebelah kaki Kira ke pinggangnya, menyisakan satu untuk menyangga tubuhnya.


Kira yakin, orang di luar tembok ini, merasakan dindingnya bergetar. Saat punggung Kira menabrak tegas, dinding itu.


"Yang,"


Kira sedikit membuka matanya, saat suaminya lirih memanggilnya. Dia sudah tak tahan lagi saat semua terasa semakin sengit menyerangnya.


"Sayangku, Kiraku, Sayang," Ucap Harris berulang-ulang. Tak ada jawaban, hanya desis layaknya ular.


Sofa, dan meja kerja adalah arena pertempuran selanjutnya, sesi kedua, dan ketiga, masih sama sengitnya. Percuma, semua terasa percuma, apapun treatmentnya, jika seperti ini perlakuannya, akan rusak sekejap mata.


"Destroyer," Desis Kira.


"Kau harum sekali, Sayang. Kau sangat menggigit,"


Kira tak menjawab, pikirannya kacau, dan berputar-putar dalam kenikmatan. Kira memejam, meraba-raba jalan keluar. Entah sudah berapa kali, Kira tidak tahu, dia lupa cara berhitung, saat nikmat tiada duanya itu merajai dirinya. Hanya ada dia dan suaminya mengambang di udara. Melintasi mega-mega.


"Sayang, aku datang." Kira benar-benar menjerit, tubuhnya sangat lelah, di selimuti kenikmatan. Makan siang yang sangat nikmat.