Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mas Ganteng


Dering telepon kembali menginterupsi, entah sudah ke berapa kali, entah itu Nina, Ibu, atau Bude, membuat Kira semakin jengah. Mereka tidak sabar ingin melihat suami Kira. Selain karena berkali-kali mendapat telepon, tetapi karena dua makhluk yang sedang asyik menyantap makanan yang mereka pesan, mengabaikan tatapan kesal dari Kira.


Ingin rasanya, segera keluar dari rumah makan ini, ini bukan lagi makan, tapi arena temu penggemar. Apa hebatnya sih, kedua lelaki ini? Berkaki dua, sama dengan laki-laki yang sedang membakar ikan itu. Tapi, penghuni rumah makan ini, mengeluarkan ponsel dan mengarahkannya kepada kami, eh, bukan, tapi hanya pada dua makhluk bernama lelaki di hadapan Kira. Menyesal memang datang terlambat, andai dia datang tepat waktu, pasti ngga di marahin ibu guru. Ups!


Kesal, saking kesalnya Kira pada dua pria di depannya, yang dengan santai dan acuh makan dengan lahap, ingin rasanya menimpuk mereka dengan batu. Seolah belum makan berhari-hari, bahkan sampai menambah 2 porsi lagi. Kira mengaduk-aduk nasinya dengan sambal, tanpa sadar. Dan menyuapkan ke mulutnya dengan asal, tanpa melihat, kedua matanya masih terpaut dengan laki-laki di depannya.


Semakin kesal karena ada yang terang-terangan mengambil foto dari jarak dekat. Dan ketika mereka sudah selesai makan, mereka asyik melayani ajakan gadis-gadis yang pupilnya melebar, berteriak histeris, dan melompat kegirangan. Sedangkan Kira, diabaikan.


Kira membuang nafas kasar, seperti banteng yang siap menyeruduk warna merah di depannya. Dia berdiri dan menghalau entah gadis atau ibu-ibu yang asyik menempel pada suaminya.


"Maaf, semuanya, jumpa fans sudah usai. Kami harus segera pulang," Kira menyibak kerumunan dan menyambar tangan dua orang itu. Membawa mereka seperti emak yang menyeret anaknya pulang setelah bermain tak ingat waktu.


Di ikuti teriakan kecewa dari mereka, Johan melambai di balik kemudi. Sedangkan, Harris, sudah tak bisa berkutik di bawah tatapan marah istrinya.


"Marah ya? Masa gitu aja marah, Yang. Itu 'kan hanya foto, tidak melakukan apa-apa?," Harris mengerutkan bibir seksinya, memelas, lingkaran matanya mengerut, dan mengerjap berulang.


"Oh, jadi berharap mau melakukan apa-apa, begitu?," Kira mendelik sebal, kedua bola matanya membulat sempurna. Menciutkan nyali Harris yang sama sekali tidak ciut. Dia hanya berakting saja. Dia sebenarnya risih juga, tapi melihat efek yang di hasilkan sangat memuaskan, Harris merasa senang.


"Cemburu yah?," Harris mengerjap, wajahnya yang tegas itu sama sekali tidak imut, namun, cukup membuat Kira hampir menarik sudut bibirnya. Nyaris saja. Namun, dia segera menepisnya.


"Aku marah, bukan cemburu. Kau bilang apa saat mendesah di atasku, tadi? Kau lupa? Biar aku ingatkan lagi," Kira mengulurkan tangannya secepat kilat ke arah kepala Harris dan menjitaknya.


"Auh, sakit, Yang. Aku lupa, apa yang aku ucapkan, bagaimana kalau di ulang lagi? Biar aku ingat,"  Harris meringis, menggoda, bukan sakit. Jitakan di kepala Harris hanya seperti usapan saja.


"Jangan harap!," Kira menghadap ke depan dengan tangan bersedekap.


"Oke, kita lihat siapa yang merengek duluan," Cibir Harris.


Huh, dasar laki-laki. Kira masih cemberut dan diam hingga sampai di sebuah persimpangan. Johan, yang bingung, melambatkan laju mobilnya.


"Nyonya Bos, kita ambil jalan yang mana ini?," Johan sedikit menoleh ke belakang.


"Ambil kiri, Jo, satu kilo meter lagi kita sampai," Kira melongok ke depan, telunjuknya menunjuk jalan aspal di sebelah kiri mereka.


"Baik, Nyonya," Johan mengangguk paham.


Kira sibuk mengetik sesuatu di ponselnya, sedangkan Harris melihat ke luar jendela, merasa bahwa kampung ini sangat indah. Sepanjang perjalanan ke sini, Harris mendapati panorama pegunungan yang menyejukkan mata. Indah, sangat indah.


Jalanan menanjak dan menurun, berkelok dengan cepat, membuat kepala pusing. Hingga sampailah di sebuah gapura,


"Masuk ke sana, Jo," Kira menujuk gapura, Johan mengangguk dan mengarahkan mobilnya memasuki gapura.


Jalan aspal berganti dengan jalan cor-coran, berlubang, dan sedikit berlumut karena rindangnya pohon. Bau lembab menusuk hidung, dan gerimis menyambut mereka.


Anak-anak kecil berlarian saat melihat ada mobil yang memasuki kawasan mereka. Mereka yang hendak pergi mengaji ke sebuah surau, berbalik untuk melihat siapa yang datang.


Rumah-rumah berjajar berjauhan di kiri kanan jalan yang mereka lewati. Rumah yang rata-rata sudah berdinding bata.


"Rumah yang ada tendanya itu, Jo. Kita berhenti di sana," Kira menunjuk rumah terbuat dari kayu, besar dan klasik. Ya, rumah Bude adalah rumah peninggalan orang tua Ibu Kira. Rumah yang di pertahankan seperti itu sejak dulu. Johan mencari tempat untuk memarkirkan mobil, sedangkan Kira dan Harris sudah turun.


Kira dan Harris berjalan beriringan, dan ya, makhluk di belakang Kira langsung menjadi pusat perhatian. Apa sih yang menarik?, pikir Kira. Dia memandang sinis ke arah Harris yang di balas Harris dengan mengangkat bahu. Harris meletakkan kedua tangannya di masing-masing saku celananya. Berjalan dengan tegak mendahului Kira.


"Assalamualaikum," Harris menyapa orang-orang yang berkerumun di depan rumah Bude. Menyambut Kira dan suaminya.


"Wa alaikum salam," Jawab mereka serempak.


"Waduh, bagus tenan bojomu, Ra," Bude orang pertama yang maju menyambut Harris, di susul Ibu dan Ayah, juga Pakde, Ayah Ardi. Bude, ibunya Lilis yang paling antusias, wanita baya itu, mencubit gemas pipi Harris, mengelus bahu dan memeluk erat. Harris meringis, tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.


Harris menyalami mereka satu persatu. Dan semua orang itu, semua orang yang mengulurkan tangannya.


"Dia selalu jadi idola, Nyonya, Anda harus terbiasa," Lirih Johan yang baru saja tiba. Dia berdiri sejajar dengan Kira yang bersedekap, memandang suaminya.


Kira berdecih, jika di sini saja dia jadi idola, bagaimana dengan di tempat asalnya? Hati Kira mencelos, memikirkan bagaimana Harris di kehidupannya yang glamor. Pasti banyak wanita cantik yang mengelilingi, dan dia hanya upik abu. Upik abu yang meminjam gaun sang putri.


Kira mendesah pelan, lalu ikut masuk di ikuti Johan. Bahkan Johan juga mendapat sambutan yang luar biasa.


"Bungkus satu, Jo, saranku, itu yang berkerudung biru, cerai mati, anaknya baru 2," Bisik Kira sembari dagunya menunjuk wanita seusia Kira yang terlihat malu-malu, melihat mereka dari balik pintu.


"Tidak, Nyonya. Aku masih ingin menghabiskan masa dudaku dengan nyaman. Di tambah mengurus suamimu, aku takut istriku tidak kebagian waktu," Balas Johan sambil berbisik juga.


Kira mencebik, alasan Johan benar, Johan terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Harris.


Harris dengan cepat akrab dengan saudara-saudara Ibu. Bude adalah kakak tertua Ibu, Pakde, ayah Ardi, adalah Kakak kedua Ibu, dan Ibu anak terakhir. Ada Lilis dan suaminya yang baru saja menikah kemarin, juga dua Kakak Lilis yang sudah berkeluarga. Mereka semua menginap di rumah ini, rumah yang masih mempertahankan bentuk aslinya ini, sangat luas di bagian ruang tamu, dan ruang tengah yang di kelilingi kamar-kamar, terakhir dapur yang juga sangat luas.


Jen yang habis mandi, begitu tahu Harris datang langsung menghambur memeluk leher Papanya, di balas ciuman memenuhi pipi bulat Jen.


"Ra, bawa suamimu mandi, nanti kalau kemalaman dingin," Ibu sedikit berteriak di sela riuhnya suara orang yang berkumpul lesehan di ruangan ini.


Kira mengangguk, lalu menghampiri Harris, di tengah-tengah arena.


"Jen, biar Papa mandi dulu, sejak kemarin Papa belum mandi."


Jen memandang Mamanya, heran, "Masa sih, Ma? Papa wangi, kok,"


"Jangan dengarkan Mama, Papa memang harus mandi sekarang, tapi bukan karena belum mandi sejak kemarin," Ucap Harris lembut, memegang pipi Jen yang bulat.


"Ya sudah, Papa mandi dulu, airnya dingin lho, Pa," Jen beranjak dari pangkuan Harris. Membiarkan Harris pergi mandi.


"Ra, kamu yakin, aku harus mandi di sini?," Harris memandang heran yang di sebut kamar mandi di sini. Kamar mandi memang terpisah dari dapur, dan hanya di tutupi oleh selembar tirai. Lantainya terbuat dari tatanan batu, dan Harris harus menunduk jika tidak ingin mengenai asbes sebagai atap.


"Kau mau mandi di sungai, jika tidak di sini?," Jawab Kira dari luar.


"Ra, ini air dari kulkas ya? Dingin banget?," Teriak Harris yang tidak di sahuti Kira.


"Ra, kau masih di situ?."


Hening.


"Kira?," Teriak Harris sekali lagi.


"Berisik banget, sih," Jawab Kira sengit.


"Kirain kabur,"


Harris bergelung dalam selimut, udara dingin di sini menusuk-nusuk, di pangkuannya, ada Jen yang sedang bermain dengan ponselnya.


"Kau tidak kedinginan?," Tanya Harris saat Kira masuk kamar usai mandi.


"Tidak, memangnya kenapa?," Kira mengurai ikatan rambutnya yang basah terpercik air.


"Bohong, aku saja yang mandi agak siangan kedinginan, apalagi kamu yang mandi saat sudah malam," Harris masih mengawasi Kira. Stempel yang dia bubuhkan, masih terlihat jelas. Harris tersenyum penuh kepuasan. Bayangan istrinya saat mengejang hebat menari-nari dalam ingatannya.


Kira diam saja, masih asyik memoles wajahnya dengan krim dari dokter untuk menghilangkan bekas jerawat.


"Biasanya itu di pakai sebelum tidur, kenapa di pakai sekarang?."


"Sejak kapan kau cerewet seperti ini?," Kira menghentikan tangannya dan memandang Harris melalui cermin. Kesal.


"Sejak menikah denganmu," Jawab Harris enteng.


Kira mendelik, tapi melihat Jen ada di sini, Kira memilih mengatupkan bibirnya yang sudah setengah terbuka, diam, tidak jadi membalas.


Keluarga besar ini, tidak semua menempati kamar, ada yang tidur di depan televisi, ada juga yang menggelar karpet di ruang depan. Excel, Jeje, Ardi dan dua orang cucu laki-laki Bude, tidur di rumah Ardi yang tidak jauh dari sini, di sana ada kamar Ardi yang luas dan hangat.


Jen, malam ini ikut tidur dengan Mama dan Papanya. Tanpa banyak merengek, Jen tidur di lengan Papanya, memeluk erat tubuh Papanya. Harris adalah sosok pengganti Papa yang sempurna bagi Jen. Ya, Harris sangat menyayangi Jen.


"Yang, kenapa Jen ikut tidur di sini? Bagaimana dengan kita?," Ucap Harris berbisik. Dia hanya memutar lehernya sedikit saja, namun Kira bisa mendengar dengan jelas.


"Kita? Ya, tidur di sini. Memangnya mau tidur di mobil dengan Johan?," Jawab Kira. Dia tahu maksud Harris, tapi mengingat bagaimana mereka berduel, lebih baik tidak usah selama di sini. Pasti semua orang akan mendengar suara mereka. Harris pun berpikir demikian, sehingga dia memilih segera memejamkan matanya.


Pagi ini, semua orang sibuk, karena akan ada acara kirab pengantin. Pengantin akan di antar ke rumah orang tua mempelai pria. Karena jarak ke rumah suami Lilis jauh, jadi mereka berangkat lebih pagi.


Dan, benar perkiraan Kira mengenai pajak tambahan, Harris harus menyewakan bus untuk membawa rombongan ke rumah suami Lilis. Semula, hanya beberapa orang yang ikut, namun begitu tahu akan menyewa bus, mereka menjadi berkali-kali lipat jumlahnya.


Kira hanya mengangkat bahu, "Itu hanya recehan buatmu," Ketika Harris melihat Kira dengan pandangan memelas.


Dan Ibu-ibu yang berada di belakang Kira mulai berisik. Memanggil "Mas Ganteng, Mas Ganteng". Mas Ganteng, julukan untuk Harris, yang membuat Kira memutar bola matanya, malas, jengah.


Acara di rumah suami Lilis tak kalah heboh, dengan adanya Mas Ganteng yang di palak untuk "saweran" di panggung. Di sini, lazim jika ada hajatan ada orkes atau organ tunggal, sebagai hiburan. Lagi-lagi, Harris tidak bisa mengelak, dia hanya pasrah saat Pakde, Ardi, dan Kakak Lilis, mendorongnya paksa. Kira hanya tertawa, hingga akhirnya, Harris menyeret Kira, kabur dari tempat itu.


Pantai, mereka berdua, duduk di pantai berpasir putih, menikmati angin yang menerpa wajah mereka. Harris merebahkan kepalanya di pangkuan Kira. Kacamata hitam yang membingkai mata Harris, memantulkan bayangan ayu wanita di atasnya. Surai hitamnya melambai-lambai di terpa angin. Pohon pandan yang menaungi mereka, bergesekan menimbulkab bunyi gemerisik.


"Apa yang kau pikirkan?."


"Tidak ada, memangnya aku terlihat berpikir?," Jawab Kira tanpa mengalihkan pandangannya pada ombak yang menggempur pantai.


"Apa kau bahagia?," Tangan Harris mengusap pipi yang bersemu merah karena sinar matahari.


"Sedikit," Jawab Kira sambil tersenyum.


"Kenapa hanya sedikit?."


"Apa ya?," Kira menggigit bibir bawahnya, dia tidak tahu jawabannya. Bohong sih, jika hanya sedikit, saking banyaknya, Kira tidak bisa menghitungnya.


Harris menyangga tubuhnya dengan siku, melabuhkan isapan di bibir yang di gigit istrinya, "Kau tidak boleh menggigitnya, itu milikku."


Kira tersipu, beberapa orang, yang melihat ini menutup tawa malu-malu mereka dengan tangan.


"Kenapa? Dia istriku," Seru Harris pada beberapa orang yang melihat adegan barusan. Membuat orang-orang itu saling pandang dan tertawa.


"Kau membuatku malu," Kira menepuk pelan bahu lebar suaminya.


Harris tertawa, istrinya benar-benar pemalu, tapi dia sangat suka. Mungkin puber ke dua itu benar-benar ada, dan semoga ini benar puber kedua dan terakhir mereka.


Harris menarik tangan Kira, membiarkan kaki telanjang mereka menginjak pasir yang panas. Berguling, berlarian, saling memeluk, dan memagut. Mengabaikan orang-orang yang melihatnya. Hingga kulit mereka berubah cokelat, baru mereka keluar dari air.


Harris menyewa sebuah homestay untuk membersihkan diri dari pasir.


"Ada kamar mandi umum, kenapa menyewa homestay segala sih?," Kira melayangkan protes. Homestay di sini sangat mahal bagi Kira. Dan itu hanya membuang uang, jika hanya untuk membersihkan diri.


"Sekalian bulan madu," Harris menarik Kira ke dalam kamar mandi, menghabiskan sore yang panas di dalam dinginnya guyuran air. Bersama Harris, Kira merasakan bahagia yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Setiap harinya, dia selalu mendapat kejutan. Dan, setiap harinya adalah bahagia.