Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Sweet Husband


Matahari tergelincir ke ufuk barat, namun bocah-bocah itu masih belum bosan dengan mainannya. Tak karuan lagi rupa mereka, berkeringat, dan berantakan.


Mama muda yang masih setia berlama-lama di halaman belakang tampak berkerumun di satu tempat. Sekalipun acara ini tidak menarik, namun terlalu sayang untuk dilewatkan. Penampilan hot daddy yang tampak lelah itu adalah magnet tersendiri untuk mereka.


Hal ini membuat seorang Ivy mendadak jengah. Apalagi hanya tersisa mereka yang terkikik sambil curi-curi pandang ke arah Harris. Entah apa yang mereka bicarakan namun Ivy tidak suka. Sehingga langkahnya yang sudah berpamitan pulang, beralih ke gerombolan itu


"Mbak-mbak, acara sudah selesai loh! Masih betah aja duduk dimari? Kagak di cari suami?" Ivy berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka. Sambil bersedekap dia menghardik wanita kecentilan dan agak tidak tahu diri, menurutnya.


Mendengar ini, tak kurang lima orang itu saling lirik dalam pandangan meremehkan. Salah seorang dari mereka berdiri dengan lagak malas yang menyebalkan, melirik Ivy dengan bibir atasnya tertarik ke atas.


"Kamu siapa? Tuan rumah bukan? Main usir saja! Mau di cari suami apa enggak kan ngga ada urusannya sama situ! Kenapa repot-repot mikirin urusan kita?"


Suara dukungan dari bawah menggema, membuat wanita itu serasa diatas angin.


"Emang situ juga siapa? Sodara? Bukan juga kan? Atau mau bantu beres-beres tempat ini?" Wanita itu membelalak lebar menghadapi Ivy yang tampak acuh.


"Sebaiknya segera pulang, Mbak! Disini kalian juga ngga dianggep kok sama Nyonya rumah!"


Gebrakan di meja membuat semua orang menoleh ke sumber suara. Tak terkecuali Kira dan Harris yang masih menyelesaikan beberapa urusan dengan EO yang menggarap acara sore ini.


"Jaga mulut lo ya! Kau siapa berani ngusir kita? Dimanapun kami ingin berlama-lama, ngga ada yang bakal keberatan! Lo ngga tau kami ini siapa?"


"Ngga tahu, dan ngga mau tau!" Jawab Ivy santai.


"Stop, Vy!" Kira menghentikan Ivy yang lagaknya akan kembali memprovokasi tetangga kompleksnya.


"Lo punya temen ngga bener ya, Ra! Jangan-jangan lo juga setipe sama dia?" Wanita itu menuding Ivy tepat di depan hidungnya.


"Sebaiknya kalian pulang! Acara sudah selesai, dan kami juga ingin segera beristirahat!" Lembut, Kira mengusir tetangganya. Inilah yang membuat Kira malas mengundang tetangga mereka. Terlalu angkuh.


"Wah, Nyonya Harris angkuh juga ya! Kami akan pergi semau kami! Tak perlu menyuruh kami pergi!" Lebih angkuh wanita itu menyilangkan tangan didada.


"Mengertilah, Nona! Kami punya privasi dan kepentingan lain! Anda cukup mengganggu dengan kehadiran anda!"


"Astaga kau jahat sekali Nyonya Harris, kami hanya ingin mengenal anda lebih dekat!"


Kira mengernyit, melihat sikap wanita itu yang tiba-tiba melunak dan memelas. Tetapi, saat tangan kokoh mengait pinggangnya, Kira mengerti.


"Apa apa, Yang?" Harris menarik tubuh istrinya mendekat. Bahkan tanpa malu dia mengecup sisi kepala Kira dengan lembut.


"Nona-nona ini ingin berpamitan, Yang!" Kira menatap suaminya penuh kelembutan, lalu melirik ke arah wanita-wanita itu. "Bukan begitu, Nona?"


"Oh, terimakasih atas kehadirannya! Maaf jika acaranya membosankan! Salam untuk suami-suami anda, Nyonya!" Harris menunduk sedikit tanpa berniat menyalami atau mengubah posisi tubuhnya.


Wanita-wanita itu saling pandang, sedikit malu atas usiran halus si Tuan Tampan. Menahan kecewa, mereka beringsut pelan, lalu segera meninggalkan halaman belakang setelah memanggil anak-anak mereka.


"Thanks Vy! Kamu emang sahabatku paling baik!" Kira beralih dari dekapan suaminya, merangkul Ivy yang masih menatap kepergian wanita sosialita tadi.


Ivy merengut, tangannya membalas rangkulan sahabat karibnya, "Harusnya kau tidak menahanku tadi!"


"Ingat udah tua!" Lirikan penuh ejekan disertai senggolan dari pinggul Kira membuat Ivy berdecak.


"Iya sih, aku harusnya lebih sabar," Ivy menusuk hidung sahabatnya. "Kaya kamu."


"Dia makin galak, Vy!" Cetus Harris. Pria tampan itu menggesek hidungnya dengan punggung jemarinya.


Tentu saja itu membuat bibir Kira mengerucut hebat.


Ucapan Harris tak pelak membuat Ivy tergelak. "Dia galak dari dulu, Bro! Hanya saja dia menutupinya darimu!"


"Andai aku tahu, Vy! Udah aku-"


"Melipir pulang ah, takut kena amukan juga!" Tanpa pamit lagi, Ivy melintasi halaman dengan cepat. Membiarkan pasutri itu melanjutkan pertikaiannya.


***


Tujuh malam semua kembali normal. Ketiga balita itu sudah meringkuk di atas kasur usai makan malam. Mereka terlalu lelah sepertinya.


Kira membenarkan posisi mereka dan melebarkan selimut membalut tubuh mereka bertiga. Kecupan hangat mendarat di masing-masing kening mereka.


Meski lelah, Kira membereskan kamar yang masih berantakan setelah mendadak menjadi kamar ganti tadi siang. Mengumpulkan baju yang berserak dan mainan yang tak pernah bisa diam di salah satu tempat.


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan suaminya yang sudah segar berbalut piama.


"Mandilah, Yang! Biar aku yang melanjutkannya," Harris mendorong keranjang mainan mendekati Kira yang berlutut di bawah kaki ranjang.


"Tanggung, Bang! Tinggal dikit kok!"


Tangan Harris mengangkat tubuh Kira, memaksanya berdiri. "Mandilah!"


"Baiklah!" Kira mengecup sudut bibir suaminya. Sebelum melangkah ke kamar mandi. Tetapi, dering ponselnya mengurungkan niatannya tersebut. Sedikit berkerut, Kira menyambangi ponselnya.


"Rose?" Gumam Kira saat melihat nama Rose si pemilik butik menelponnya. "Abang, aku jawab telpon dulu ya!"


Tanpa menunggu jawaban dari Harris, Kira berjalan menuju balkon. Harris hanya menggeleng pelan. Samar-samar Harris mendengar istrinya memberi ceramah pada si penelpon, sehingga membuat Harris penasaran.


Dan benar saja, istri tersayangnya tengah bersitegang dengan penelponnya.


Dengan langkah panjang, Harris mendekati istrinya. Mengambil alih ponsel yang masih menempel di telinga Kira.


"Istri saya sedang lelah, tolong jangan diganggu dulu! Nanti akan saya hubungi lagi!" Ibu jari Harris menekan ikon berwarna merah tanpa menunggu jawaban si penelpon.


Dengan sabar, Harris menuntun istrinya yang tampak kesal ke dalam kamar mandi. Menyiapkan air hangat dan memberi wewangian.


"Segera mandi dan tidurlah! Kau terlalu lelah hari ini!" Harris membantu Kira menanggalkan pakaiannya. Mendorongnya ke arah bath up.


"Biar Abang membantu mu mandi, Yang!"


.


.


.


.


.


.


.


.



visual Harris Dirgantara


credit photo by pinterest


@Song Seung-heon