
Masih 21+ lagi ya gais...plis under 21, jangan menerobos...Warning jelas yaa!!!
.
.
.
.
Inspired by Masihkah ada cinta Ada Band.
.
.
"Mas, ada orang diluar!" Nina menahan dada Rio yang masih berbalut kemeja putihnya. Nina benar-benar cemas sekarang.
"Yang, bisa ngga aku egois sekarang? Nanggung nih!" Pinta Rio dengan wajah sendu, tanpa mengalihkan tubuhnya. Kelihatan sekali dia tak mampu menahan diri.
"Tapi..."
"Biar saja, harusnya dia datang setengah jam lagi!" Rio kembali menyalakan api. Sisa bara masih terasa hangat, tinggal memberi sedikit percikan lagi. Atau, menimpakan bahan bakar yang lebih kuat, agar nyala semakin menggelora.
Nina begitu terbuai, melayang, sesekali dia menyebut kekasihnya ini. Dibalut rasa takut tapi tetap tak mau berhenti, Nina memantapkan hati. Menyerahkan sepenuhnya dirinya, hatinya dan cintanya. Jiwa? Suaminya bukan pemilik jiwa, ada yang lebih berhak atasnya.
"Sayang, setelah ini, kau hanya akan jadi milikku! Hanya ada aku dan namaku dihatimu!" Sapuan terakhir menyatukan keduanya. Rio benar-benar menulikan telinga. Hanya ada rintihan tertahan yang mengiris tipis rasa, bagai candu yang membuatnya ingin dan ingin melakukannya lagi.
"Maaf, Cinta!" Rio tahu ini sakit, tergambar jelas di wajah polos Nina yang memerah.
Dan sempurna, sekalipun suara dibalik pintu kembali terdengar, mereka tak mau peduli. Pria yang begitu berkharisma dan dingin itu, menunjukkan aslinya. Yang begitu hangat dan lembut, penyanyang tapi bukan penyabar.
Di ujung pelarian, Rio dan Nina tak mampu lagi mengelak dari rasa yang baru pertama mereka cecapi, yang terus saja memburunya. Terdesak, hanya saling bertaut, keduanya mampu meredam. Ini lah akhirnya.
"You're mine, Nina!" Tanda terakhir menjejak diatas lembutnya siluet indah. Ah, pikirannya masih waras diantara percikan panas yang berlompatan. Dia tidak mau membuat Nina kerepotan dengan perbuatannya.
"Love you, Cintaku!" Rio mendaratkan bibirnya di atas kening Nina yang berpeluh. "Apa sakit sekali?" Rio mengusap keringat dengan ujung ibu jarinya setelah memindahkan diri ke samping Nina.
Nina memejamkan mata rapat-rapat takut Rio akan tahu seperti apa "rasanya" tadi. Menarik bibirnya sedalam mungkin, agar suara tak membeberkan betapa semua ini sangat indah. Meski menyisakan jejak rasa sakit. Nina mencoba memilah, mana yang sebenarnya dia rasakan tapi, semua bercampur menjadi satu. Nina menggeleng, sambil menarik selimut sebatas leher.
"Kau membuatku khawatir, Yang!" Hentakan yang begitu keras mendarat di bantal lembut berwarna putih. Terlalu tegang menunggu reaksi Nina.
"Makasih ya, Yang! Sudah menjaga dirimu untukku," Rio mengulurkan tangannya mengusap kening Nina. Manik mata Rio lekat memandang langit-langit kamar. Seakan melukis bahagianya. Juga rasa bersalah pernah menempatkan wanita ini sebagai pelampiasan rasa sakitnya sebab kandasnya cinta yang bahkan baru sebesar kecambah.
"Maaf jika sebelumnya aku membuatmu sakit! Aku bodoh karena pernah membunuh harapanmu, tapi kini aku bersyukur, Yang! Kau mau memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu!"
Hening.
Seakan tersadar, Rio bangkit dengan tergesa, memeriksa napas Nina yang memejamkan mata. "Astaga, kupikir sudah membunuh anak gadis orang!" Rio meraup wajahnya, sambil tersenyum dia melangkahkan kakinya ke kamar mandi, membasuh tubuh yang terasa lengket.
***
Rio terhenyak, saat pintu di gedor dengan sangat keras. Pun dengan dering ponsel yang bersahutan. "Astaga, ketiduran lagi!"
Matahari sudah sangat rendah saat ini, meski masih terasa silau di balik kaca kamar hotel ini. Rio sedikit berlari menuju pintu, dan membukanya sebatas dirinya.
"Tunggu sebentar, istri saya masih mandi!" Rio menutup kembali pintu, membiarkan perias itu menahan gondok di kerongkongannya. Sekalipun menunjukkan wajah yang begitu manis, tapi tak mampu menutupi kekesalan dari sorot matanya.
"Yang, bangun!" Rio mengguncang pelan tubuh Nina di balik selimut tebal.
Nina menggeliat, tubuhnya terasa lemas dan sakit semua. "Jam berapa?"
"Jam 4 sore, Yang!" Nina bangkit dengan mata melebar sempurna.
"Mas, periasnya mana? Pasti udah ditungguin aku! Duh, janjinya kan jam 3 sore!" Nina mendorong Rio yang menghalangi langkahnya, lalu berlari dengan selimut membalut tubuhnya. Menyisakan pemandangan yang indah, yang membuat Rio mengukir senyum kepuasan.
Rio memunguti pakaian Nina dan menarik bantal untuk menutupi sesuatu yang membuat Rio sangat senang. Lalu membuka pintu lagi dengan suasana hati yang lebih baik.
Nina keluar kamar mandi dengan balutan handuk kimono, dia merasa sungkan dengan tim MUA yang kini tengah sibuk mempersiapkan alat perang mereka.
Perlahan Nina melangkah memdekati mereka, "Maaf Mbak, sudah menunggu lama!"
"Tidak masalah, kami sudah pernah berada di situasi yang lebih buruk dari ini!" Jawab salah seorang wanita yang tampak anggun dan glowing. Wanita yang sangat cantik dengan rambut yang diikat asal.
Wanita itu tersenyum, "Jangan melihatku seperti itu! Ayo, segera kita mulai, aku khawatir tidak selesai pada waktunya!"
Nina mengikuti arah tangan si perias cantik itu. Dengan cekatan, dia mulai memasang apron mengait di leher Nina. Tangan kurus panjang itu mulai bekerja, sambil sesekali melempar candaan pada Nina.
Nina menunjuk meja dengan ponsel berwarna hitam diatasnya. Salah seorang asisten perias itu mengambilnya, lalu menyerahkan pada Nina.
"Makasih Mbak!" Nina tersenyum singkat, lalu membuka ponselnya membuka menu kalender.
"Masih 4 hari lagi jadwal bulananku, tapi kok rasanya aku sedang haid ya?" Nina berdiskusi dalam hati. "Apa mungkin karena tadi itu?"
Wajah Nina terasa panas dibalik make up yang membingkai wajahnya. Lalu dia mengetik pesan kepada Rio, bukan untuk bertanya sebab haidnya yang tiba-tiba datang, tapi untuk membelikan pembalut.
"Mbak lagi datang bulan?" Tanya si Mua yang kebetulan melihat isi chat Nina.
"Eh,...!" Nina sedikit malu, "tadi belum Mbak, ini rasanya kok keluar ya?!"
"Biar di belikan oleh asisten saya saja Mbak! Kasihan suaminya, nanti malu lagi!" Tawar si Mua sambil melambaikan tangan ke asistennya.
"Eh, maaf mbak, merepotkan jadinya!" Nina melirik perias tadi dengan sungkan, "Uangnya di dompet dalam tas itu Mbak!"
Nina menunjuk tas selempang yang setia menemani Nina, dengan cepat si asisten meraih tas sesuai petunjuk Nina. Setelah memberitahu pembalut apa yang biasa digunakan Nina, asisten itu segera berlalu.
Rio mendengar semuanya, "Untung udah buka gembok, kalau belum ngenes gue! Bisa-bisa di ketawain Johan nanti!"
Rio mengulurkan senyum, sambil terus memainkan ponselnya. Menunggu gilirannya berbusana.
***
Tujuh malam lewat beberapa menit, Rio dan Nina berjalan dikoridor menuju tempat resepsi digelar. Nina mencengkeram lengan Rio saking gugupnya.
"Lebih gugup sekarang daripada tadi pas berduaan dikamar!" Bisik Rio di telinga istrinya. Membuat Nina blushing dan terbakar.
"Jangan diingat lagi! Aku gugup juga kok tadi, kamu aja yang ngga sempet lihat, saking buru-burunya!" Balas Nina tak kalah lirih.
Rio terkekeh pelan. Benar, Rio sangat terburu-buru tadi. "Kita bisa mengulanginya lagi!"
"Tapi tidak malam ini!"
"Aku akan menunggumu, Sayang! Berbulan-bulan aja sanggup masa beberapa hari ngga sanggup?"
Jawaban Nina tertelan oleh sambutan dari tamu undangan yang sebagian kecil sudah hadir. Pujian diiringi tatapan penuh kekaguman terarah pada keduanya hingga mencapai pelaminan.
Satu persatu mereka menyalami dan memberi ucapan selamat. Teman-teman Nina, rekan kerja Rio dan kerabat Nina dari kampung juga turut hadir.
Salah satu tamu yang hadir di sana tampak sendu memandang Nina yang begitu bahagia. Bagaimanapun, Nina terlanjur mengakar dihatinya. Dua kali dia harus menelan kecewa karena wanita. Masih adakah cinta untuk pria seperti dia?
Raka berjalan seakan terpaksa menghampiri mempelai pengantin. Kekuatan yang terkumpul seakan menguap bersamaan dengan rekahan bahagia di sudut bibir wanita yang sangat dicintainya. Sekalipun belum pernah terlontar untuknya.
"Raka..." Nina sedikit terkejut melihat Raka di pesta pernikahannya. Namun, bahasa tubuh Rio mengatakan dengan jelas siapa pelaku yang membuat Raka hadir disini.
"Selamat ya, Nin...semoga kau bahagia!" Raka tersenyum lemah dengan tangan terulur ke arah Nina, tapi Rio bergegas meraihnya.
"Makasih, Bro...sudah bersedia hadir dan mendoakan kami! Nina berada di tangan yang tepat. Kau jangan khawatir, aku akan membuatnya menjadi wanita paling beruntung di dunia ini!" Jabatan tangan Rio begitu erat bertaut. Menegaskan bahwa Raka tak punya kesempatan bahkan seujung rambut untuk memiliki Nina.
Raka tak menjawab, dia hanya tersenyum lemah sambil berlalu dari hadapan mereka.
"Kau berlebihan Mas!" Nina merengut, malu, dengan tingkah konyol Rio. Tapi juga senang mendengar ucapan Rio. Ah, bahagianya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut lagi ya gais....🥰