
Warning!!!!! Banyak kata-kata kasar, mohon kebijakan dalam membaca.ππ
Johan membanting gelas bening, di meja bulat itu. Sehingga meja itu berguncang, membuat gelas-gelas itu saling beradu, menimbulkan bunyi yang berdenting.
"Duda, lo kenapa, ha? Biasanya, lo anti minum kalau besok lo masih kerja," Hendra mendorong pelan tubuh Johan. Menatap mata terpejam milik Johan. Ya, Johan memang paling susah di ajak keluar sekedar nongkrong, tetapi hari ini, Johan yang mengajak mereka ketemuan.
"Sakit lo?" Rio menimpali. Rio sedikit cemas melihat Johan yang tampak frustrasi.
Johan masih terdiam, matanya masih terpejam rapat, seakan ada kupu-kupu di dalam matanya, yang akan terbang jika dia membuka matanya.
"Gua sakit, sakit banget, di sini," Johan menepuk dada kirinya, kuat, sangat kuat. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendobrak rongga dadanya, seakan tinjunya bisa merontokkan sakit yang menghujam jantungnya.
"Lo kenapa sih, Jo? Gua liat lo tuh, santai aja hari-hari? Gak nyangka lo bisa cengeng kaya gini?" Hendra menepuk pundak sahabatnya yang tengah meringis menahan sakit di hatinya.
"Lo patah hati, Jo?" Rio melongok ke arah Johan yang semakin tertunduk dalam.
"Kenapa sih dia?" Rio menyodok siku Hendra, yang langsung di balas gelengan oleh Hendra.
Johan menumpu kepalanya di atas meja. Bayangan bosnya yang tengah bermesraan dengan istrinya tadi, memenuhi otaknya. Kenapa harus dia? Batin Johan. Bukan salah mereka juga, mereka pasangan menikah, tapi perasaan Johan yang salah. Cemburu melihat kemesraan mereka.
Johan masih ingat betul, saat dia melihat Kira yang rambutnya masih basah, bibirnya pucat, kulitnya bersih seakan dia baru keluar dari air. Matanya yang sendu itu seperti tempat yang teduh untuk bernaung. Senyumnya yang merekah sempurna tanpa di buat-buat, membuatnya hampir gila. Menyangka Kira adalah wanita bersuami. Ya, Johan hampir gila saat memikirkan dia menyukai wanita yang masih milik orang.
Harris adalah orang yang menyelamatkan Johan saat hendak mencoba mengakhiri hidupnya. Ya, Johan kehilangan istri dan anak yang di kandungan istrinya, saat kecelakaan lalu lintas. Sebuah truk ugal-ugalan menerobos lampu merah dan menabrak sisi kiri mobil Johan. Istrinya meninggal di tempat dan Johan tak sadarkan diri beberapa hari.
Saat tahu istrinya meninggal, Johan mencoba mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri dari lantai paling atas rumah sakit. Tetapi, Harris yang juga berada di atap saat itu, menariknya. Menggagalkan aksi bunuh diri Johan.
Sejak saat itu, keduanya semakin dekat dan menjadikan Johan sebagai ketua geng mereka waktu itu. Harris mengangkat Johan dari ketidak berdayaan menjadi orang yang kuat dan tabah. Sejak kematian istrinya, Johan menjadi berhati dingin dan kejam di balik gayanya yang santai dan terkesan sembrono. Tidak ada yang menyangka memang.
Johan mengangkat kepalanya, air matanya menetes seperti bocah kehilangan mainannya. Pilihan yang sulit, bukan? Satu urusan hati, yang satu urusan hutang budi.
"Lo pada, pernah ngga sakit hati kaya gua, tapi ngga bisa ngelakuin apa-apa?" Johan menyeka hidungnya yang berair.
"Pernah," Jawab Hendra dan Rio berbarengan.
"Apa yang lo lakuin?"
"Ngga ada sih, gua pasrah aja. Kaya gua sekarang. Gua mau di nikahin sama perawan tua, cupu di rumah sakit lo," Hendra menujuk Rio.
"Siapa? Karyawan gua cantik semua, mana ada yang cupu?" Rio melotot ke arah Hendra.
"Ada, noh si Dokter Obygin," Hendra meneguk minuman yang tinggal setengah di gelasnya, meneguknya hingga tandas.
"Dia cantik, Bro. Memang sudah tua, tapi dia pinter dan mandiri," Puji Rio membayangkan Dokter yang di maksud. Dia memang menggunakan kaca mata tebal saat keluar dari rumah sakit. Hanya saat bekerja saja dia melepasnya. Cantik, pintar dan tegas, pikir Rio.
"Lo aja sono, yang nikahin. Gua jamin masih-," Hendra seperti tersedak gelas minumannya.
"Masih apa?" Rio penasaran.
"Pasti mau sama lo," Hendra berkelit. Nyaris saja dia membongkar aibnya di sini.
"Lo denger gua gak sih?" Johan sebal karena dua sahabatnya asik ribut sendiri.
"Denger, Jo. Lo cerita aja, kita dengerin kok."
"Siapa sih yang bisa patahin hati lo, Jo?" Hendra menaruh perhatian penuh pada Johan, sekaligus menghindari tatapan penuh kecurigaan dari Rio yang belum menyentuh minuman beralkohol itu setetespun.
"Ada, gua suka sama dia sejak pertama kali gua melihatnya. Gua pikir gua suka sama bini orang, pas nganter anaknya yang hampir ketabrak gua. Eh, gak taunya dia udah janda, malah nikah sama bos- eh orang lain," Johan meralat ucapannya dengan cepat, tetapi Rio dengan cepat pula menangkap ucapan Johan.
"Lo suka sama Kira, Jo?" Rio menatap Johan dengan tajam.
"Eh, bukan, gua salah omong tadi," Johan menutup mulutnya dengan menenggak segelas cairan bening itu.
"Lo suka dia juga, Jo? Gua yang nemu dia duluan, baru elo," Hendra menunjuk dada Johan dengan sedikit dorongan.
"Gua duluan baru Johan," Rio menimpali.
"Lo juga suka dia?" Johan dan Hendra berucap bersamaan.
Rio megap-megap, kelepasan bicara, "Bu-bukan, gua cuma bilang kalau gua ketemu Kira lebih dulu daripada Johan."
"Ngeles lo," Hendra menepuk belakang kepala Rio, hingga Rio meringis.
"Abang lo itu yang nikung kita, Yo. Lo tahu, gua pengen nimpuk Abang lo tuh, bentak-bentak Kira mulu, kasian gue," Johan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Dia mah untung, dapat barang jadi, dewasa dan cantik. Kira tuh tipe gua banget, status ngga masalah buat gue," Hendra menuang isi gelasnya ke dalam perutnya. "Bukan si cupu itu, kesel gua sama dia, pasti kaku, ngga bisa apa-apa."
Hendra terdiam lagi, seperti memikirkan atau membayangkan sesuatu.
"Maksud lo? Lo udah begituan sama dia?" Rio menelisik wajah Hendra yang memerah,
"Ngaco lo, mana mau gua begituan sama dia. Maksud gua, dia kan kerjanya cuma baca dan baca doang, apa iya dia bisa masak? Gua suka bini gua pintar masak," Hendra mengalihkan pandangannya ke arah Johan.
"Nyebelin lo, Yo," Batin Hendra.
"Jo, Harris tahu gak lo suka sama bininya?"
"Gila, ya gak tau lah. Kalau tau gua langsung dipecat. Secara gua yang di suruh-suruh dia buat ini itu. Seneng sih gua, tapi nyesek, lo deket tapi lo gak bisa nyentuh. Ngenes gak tuh?"
"Lo berdua diem ya, jangan sampai bos tahu, jujur sih andai gua ngga hutang nyawa sama dia, gua bakal rebut tuh bininya. Gua gak takut. Sayangnya, hutang nyawa hanya bisa di balas dengan nyawa dan kesetiaan."
"Lo benar Jo, Harris dan Paman Dirga udah banyak bantu kita, mereka selalu ada saat kita butuh, lagian cinta kan ngga harus memiliki, ada tuh lagunya," Hendra tertawa, dia sudah mulai terpengaruh alkohol.
"Gua ngga ya, gua di paksa-paksa sama Abang dan Paman. Mereka nindas gua, udah tau gua ngga suka kerja di bawah tekanan kaya gini," Rio meneguk minuman pertamanya.
"Itung-itung lo balas budi sama Paman, jika bukan karena Paman, lo gak bakal ada di dunia ini. Kakek lu ngga rido emak lu kawin sama bapak lu. Lo ngga tau itu kan?"
"Tau gua."
"Makanya, baek-baek sama Paman, dia cikal bakal lo di dunia ini."
Rio mematung, "Tumben omongan lo bener."
"Pas otak gue gesrek, gue selalu bener," Hendra menepuk paha Johan yang masih menatap kosong langit-langit gelap ruangan yang terasa hingar bingar ini.
"Bangun, lo. Lo kesini cuma mau rebahan? Pulang sono, ngadu sama emak lo," Hendra masih waras, tetapi dia mulai melantur. Dia bahkan masih bisa berdiri tegak.
"Mau ke toilet, ikut?"
"Ogah banget," Jawab Johan yang pasti tidak bisa di dengar oleh sahabat karibnya itu.
"Lo juga suka sama Kira kan, Yo?" Johan memandang Rio yang mengedarkan pandangan ke seluruh area bar. Matanya tertuju pada seorang gadis yang sejak tadi memperhatikannya. Namun, dia segera memutus kontak mata terlebih dahulu.
"Dia ipar gua sekarang, Jo. Sampai matipun, Abang ngga akan melepaskan dia, gua pilih mundur Jo, nyerah," Rio meneguk gelasnya lagi.
"Gua pikir juga begitu, tapi, gua tiap hari ketemu dia, Yo. Ngambilin sarapan buat gua, nyuruh gua istirahat, bikinin kopi, perhatian banget dia sama gua. Perhatian dia, gua artikan lain. Padahal, gua tahu, dia itu hanya cinta sama Abang lo."
Rio melamun, benar, Johanlah yang paling terluka diantara mereka bertiga. Jika Rio yang ada di posisi Johan, dia pasti sudah kabur, menghilang.
"Lo tahu, Yo. Sore ini, dia cantik sekali, baju yang gua pilih buat dia sangat pas dan di tambah dengan sedikit polesan make up, dia semakin anggun. Gua yang buat dia cantik, Abang lo yang nikmatin. Lo bisa bayangin gak sakitnya gua?"
"Lo yang sabar ya, Jo. Gua gak tau sih, gimana perasaan lo, tapi gua yakin, lo bisa lewati semua ini. Perasaan lo ngga bakal sia-sia, buat dia."
"Gua udah janji sama diri gua sendiri, buat jaga dia, melindungi dia, meski dia bisa melindungi dirinya sendiri. Ah, andai lo tahu gimana dia menderita karena mantan suaminya, lo ngga bakal bisa move on dari perasaan lo deh."
"Lo tahu semuanya, Jo?"
"Tahulah, gua tahu semuanya, bahkan dia nikah sama Abang lo karena bebasin adiknya yang di tahan, dia di tuduh menggelapkan uang perusahaan Paman lo."
"Nina maksud lo?"
"Lo kenal dia?"
"Kenal sih, pas nikahan itu gua taunya," Rio kembali megap-megap, kelepasan lagi.
"Yakin lo kenal pas di nikahan Abang lo? Lo kan cuma sebentar di sana?"
"Yakin lah, emang gua bisa kenal dia dimana?" Rio berkelit. Membasahi tenggorokannya dengan cairan di gelasnya, mengosongkan gelas yang setengah penuh.
"Lo bukan orang yang bisa berbohong, Yo."
"Gua ngga bohong kok, lo aja yang lagi sensi," Rio mengalihkan pandangannya ke tempat dimana Hendra menghilang.
"Hendra lama banget sih? Apa yang dia buang coba?"
Johan masih memperhatikan Rio yang sesekali mencuri lirikan padanya. Johan tersenyum miring. Pasti ada apa-apa antara Nina dan Rio, tapi Rio masih saja berkelit.
"Lo pantes kok sama Nina. Gua jamin lo bakal budek dalam sehari," Johan tertawa, menertawakan Rio yang seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Gila lo."
"Lo dari mana aja sih, Ndra? Lama bener?" Rio memprotes Hendra yang lama ke toilet. Membiarkan dia berdua saja dengan Johan, yang berakhir dia kena ejekan dari Johan.
"Toilet penuh, ngantri," Hendra seperti salah tingkah mendapat tatapan dari kedua sahabatnya.
Johan melihat Hendra melambai di belakang kepalanya, ke arah pintu toilet.
"Lo dapat gebetan baru di toilet?"
"Cuma bantu dia, pas di keroyok hidung polkadot,"
"Cantik," Puji Johan saat melihat wanita yang tengah tersenyum pada Hendra.
"Di sini yang jelek ngga ada, Jo. Buat lo aja, gua udah pun-,"
Johan dan Rio menoleh ke arah Hendra bersamaan. "Gua udah punya calon bini, meski gua ngga suka."
"Kapan lo nikah?"
"Bulan depan, tanggal 15, lo pada hadir ya! Itung-itung buat menghibur gua,"
"Kepaksa banget lo kayanya?"
"Kalau ngga kepaksa gua ngga bakal nikah."
Ketiganya tertawa, menertawakan nasib mereka. Nasib yang sungguh lucu, andai saja sinetron, pasti susah buat nentuin judulnya.
"Cabut yuk, besok gua kerja pagi-pagi. Ada meeting,"
Mau tak mau, Hendra dan Rio menurut pada Johan. Tempat ini, tidak akan asyik jika formasi mereka tidak lengkap. Minus Harris yang kini jadi kucing rumahan, dan Reno yang masih dalam pemulihan. Meskipun suka nongkrong di sini, tapi mereka tidak pernah lebih dari ini. Mereka sadar, mereka sudah berumur, dan bukan saatnya bermain-main. Di sini mereka, bisa bebas menceritakan keluh kesah mereka tanpa takut orang lain menguping.
Tidak ada yang tidak menaruh perhatian pada ketiganya, Johan bertubuh tinggi kekar dan berwajah sangar. Hendra, meski tubuhnya tak sekekar Johan, tapi wajahnya yang ke barat-baratan, menjadi nilai tersendiri buatnya. Dan, Rio, pria bertubuh langsing tapi tetap berotot, dan berwajah imut bak oppa-oppa Korea, dia juga yang paling muda di sini.
Jeritan para bunga saat kumbang-kumbang itu berlalu tanpa mempedulikan mereka, terdengar nyaring penuh kecewa. Kumbang tampan dan berdompet tebal menjadi pujaan bunga-bunga yang menatap mereka penuh damba. Sayang mereka tidak mudah tergoda.
Mereka keluar dari tempat yang mendentumkan dada, menuju tempat sepi, hanya terdengar suara samar dari dalam ruangan yang mereka tinggalkan. Ketiganya menaiki kendaraan mereka sendiri-sendiri. Mengingat ketiganya berangkat secara terpisah.
Ketiganya beriringan, membelah jalanan malam, hingga di persimpangan jalan, mereka berpisah, menuju tujuan mereka sendiri-sendiri. Dengan pikiran yang berbeda mereka menatap jalanan di depannya. Lega, kesal dan terbebani.
β’
β’
β’
β’
Nah kan, Author lancar otak dan jempolnya, begitu dapat support komentar dari Para pembaca semua. ππ
Selamat malam, happy satnite, selamat beristirahat, doa terbaik untuk kalian semua, πππ
Maaf untuk part yang terkesan kasar dan kurang sopan. Author cuma bayangin 3 orang cowok ketemuan, pasti sama lah kaya cewek kalau udah gibah. Author bayangin diri sendiri pas nongki sama temen Author yang cuma beberapa bijiπππ. Pasti semua di omongin, ye kan?π€
Okey, happy reading semuanya. Sekali lagi, maafkan jika ada kata-kata yang kurang berkenan.π
Jangan bosen-bosen cek kadar kemanisan gula anda di rumah ya, reader tersayangπ
Love you Allππππ
Salam Manis Dari Author.π©βπ¦°