Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Tidak enak di makan!


Mereka makan dalam diam, hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang menggema di seluruh ruangan.


Hingga akhirnya makan malam pun berakhir, Harris menyesap pelan minuman yang berwarna merah, Kira mengikuti apa yang Harris lakukan, tetapi belum sempat cairan merah itu menyentuh bibir Kira, Harris buru-buru mencegah. Kira memutar kepalanya ke arah Harris, seakan bertanya, "Kenapa tidak boleh?"


Harris melambai kepada salah seorang maid, "Boleh saya minta air putih atau minuman lain?"


Sontak saja itu membuat Tuan dan Nyonya Darmawan saling pandang dan tertawa.


"Kenapa Nak?" Tanya Tuan Darmawan penuh keheranan kepada Harris.


"Dia belum pernah minum sebelumnya," Jawab Harris dengan tangan memegang gelas piala yang berwarna merah pada dasarnya dan sedikit mengguncangnya.


Tuan dan Nyonya Darmawan, menatap Harris penuh pujian. Harris memperlakukan istrinya seperti berlian.


Kira mengerjap bingung. Entah apa yang dia lewatkan saat melihat ekspresi ketiga orang di depannya. Dia memperhatikan cara Harris menyesap kembali minuman yang sering dia lihat saat perjamuan seperti ini, dia tahu itu apa, tapi belum pernah merasakannya. Kira membasahi bibirnya dengan salivanya. Menahan diri untuk tidak meraih cairan yang seakan melambai padanya. Namun, Harris mengerti rasa penasaran istrinya, sehingga dia menahan tangan Kira di bawah. Meremas telapak tangan Kira dengan kencang, sehingga Kira meringis tertahan.


***


Keempatnya berpindah ke ruang tengah, melanjutkan obrolan yang tertunda. Ruangan ini sangat luas dan lega, sama dengan ruang tengah di rumah Papa mertuanya. Hanya saja, disini, di penuhi miniatur kapal yang mengkilap di balik lemari kaca. Lusinan, jika Kira tidak terlewat menghitung.


"Kau boleh ambil satu jika kau mau, Sayang," Nyonya Darmawan menyentuh lengan Kira yang terbalut kain, menyisakan getaran lembut di kulit Kira.


"Ah, saya hanya mengagumi saja, Mi," Kira sedikit sungkan saat ketahuan menaruh minat pada miniatur kapal itu, tangannya menyisihkan helaian rambut yang menutup pelipisnya.


Nyonya Darmawan menatap Kira dengan lembut, dan penuh kasih. Sehingga membuat Kira salah tingkah.


"Kau adalah wanita yang sangat beruntung, Nak. Dua wanita yang di bawa Harris ke sini, adalah wanita yang memiliki ciri khas sendiri. Dan, kamu, adalah yang paling di sayangi dan di lindungi olehnya. Mami sangat mengenal suamimu, Nak. Dia sangat setia meskipun pemarah. Dari gelagatnya, dia sudah menyatu denganmu," Nyonya Darmawan bergantian memandang Kira dan Harris di seberang ruangan, sedang berbincang dengan Tuan Darmawan.


"Dua Mi?" Kira mengulangi ucapan Nyonya Darmawan.


"Ya, dua," Nyonya Darmawan mengangkat jarinya yang sedikit keriput membentuk huruf V.


"Satu kamu dan satu lagi kekasihnya sebelum kamu. Tapi, Mami yakin, jika Dirga yang memilih, pasti dia sudah melalukan survei tentang kehidupanmu. Mami belum pernah melihat binar bahagia di mata Harris sampai hari ini," Nyonya Darmawan menggenggam jemari Kira, meyakinkan bahwa, semua yang ada di masa lalu Harris, tidak akan mengubah cintanya kepada Kira.


"Boleh Mami jujur?" Nyonya Darmawan membawa Kira ke lemari di sebelahnya. Dia menunjukkan koleksi foto dan benda-benda bernilai artistik lainnya.


Kira mengangguk.


"Dirga membenci Viona karena dulu keluarganya hancur karena seorang public figure. Ayahnya lebih memilih kekasih gelapnya yang seprofesi dengan Viona. Dirga dan Ibunya diusir tanpa di beri apapun. Hingga Dirga bertemu dengan suamiku, mereka berteman sejak SMA, mereka berdua menjalani hidup yang keras, semua pekerjaan kasar mereka lakukan, demi menyambung hidup dan bersekolah. Bekerja mulai dari nol sampai seperti sekarang adalah hasih memeras keringat mereka sendiri," Kira manggut-manggut mendengar penuturan Nyonya Darmawan. Kini, Kira mengerti mengapa Papa mertuanya menikahkan Harris dengannya.


"Viona sebenarnya wanita baik, entah apa yang di alaminya sebelum seperti sekarang, tapi jika anak Mami masih hidup, Mami dengan senang hati akan menjadikannya mantu. Terlebih, Harris sudah memilikimu," Nyonya Darmawan tersenyum, namun sorot matanya layu seakan kesedihan menaunginya.


"Maaf, Mi. Putra Mami sudah meninggal?" Kira mengerti akan kesedihan Nyonya Darmawan, tetapi, Kira juga penasaran sejak tadi, rumah ini terlalu besar untuk di tempati berdua saja.


"Iya, Evan, anak kami satu-satunya, dia meninggal karena sakit yang di deritanya. Dia lebih banyak tinggal di luar negeri dan sempat beberapa tahun pulang pergi, Mami rasa, saat itu dia sedang menyukai seorang gadis. Tapi, Mami tidak pernah berhasil menemukan gadis itu. Rahasianya di bawa hingga ke dalam kuburnya," Nyonya Darmawan menyeka bulir bening yang menggenangi wajah ayunya.


"Maaf, Mi. Kira tidak seharusnya mengingatkan Mami tentang putra Mami," Kira mengusap tangan Nyonya Darmawan, sebagai tanda permohonan maaf yang tulus. Kira sungguh menyesal.


Nyonya Daramawan menatap foto seorang pria dengan kepala plontos, terlihat pucat dan kurus, alat bantu pernafasan terhubung ke hidung mancungnya. Namun, dia masih mengukir senyum hingga menampakkan lesung pipinya. Pasti dia sangat manis saat masih sehat, pikir Kira.


"Mami masih ingat, saat foto ini di ambil, dia bilang, jangan sampai ada yang tahu kalau dia  meninggal suatu hari nanti. Dia juga mengatakan mimpinya menikahi seorang gadis dan memiliki seorang putri yang mirip dengannya," Nyonya Darmawan semakin tergugu saat mengatakan itu. Membuat Kira semakin menyesal, dia hanya bisa mengusap pelan pundak wanita yang tingginya hanya sampai di bahunya, sehingga Kira harus menunduk untuk merangkulnya. Cerita Nyonya Darmawan akan kenangan tentang putranya, tak pelak membuat Kira juga ikut menangis. Dia tak bisa membayangkan jika semua itu menimpa dirinya.


"Sayang," Harris menghampiri istrinya tergesa-gesa. Raut wajahnya tegang, meskipun dia tahu apa yang membuat Maminya menangis.


"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud mengingatkan Mami tentang putranya."


"Tidak apa-apa, Nak. Mami kok yang mau cerita, Kira tidak bersalah apa-apa. Kira juga anak Mami sekarang, jadi Mami pikir, dia juga harus tahu siapa saja keluarga Mami," Nyonya Darmawan kini tersenyum sembari menyeka sisa-sisa air mata di pipinya. Dengan di tuntun Tuan Darmawan, Nyonya Darmawan melangkah menuju sofa.


Harris dan Kira masih mematung di tempat dengan tangan Harris di bahu Kira, kedua pasang mata itu mengekori dua tubuh renta yang saling merangkul dan saling menguatkan.


"Kuharap, kita bisa seperti itu, saat kita tua nanti," Harris meremas bahu Kira dan mengecup pelipis istrinya. Keduanya beradu pandang sejenak, lalu mengukir senyum di kedua sudut bibir mereka.


"Semoga, Mas," Batin Kira. Tangannya mengusap jemari Harris yang masih terpaku di pundaknya.


***


"Apa yang kau pikirkan, hem?" Harris membelai rambut istrinya yang tengah bersandar di dadanya. Mereka sudah dalam perjalanan kembali ke rumah mereka. Kira menarik nafas dalam-dalam, alih-alih menjawab suaminya.


"Jangan berpikir terlalu jauh, Evan memang meminta kematiannya di rahasiakan dia tidak mau orang yang di cintainya, menderita. Dia bilang kalau dia memilih di benci oleh wanita itu, karena dia adalah pria yang lemah," Harris mengecup kening Kira, tanpa menghentikan usapannya pada surai hitam itu.


"Tahu, dong. Meski kita ngga deket banget tapi Mami selalu cerita tentang dia. Evan itu kena leukimia, awalnya dia dinyatakan sembuh, tapi beberapa tahun kemudian, dia kena lagi, akhirnya dia meninggal," Harris menjelaskan secara singkat apa yang terjadi pada Evan.


"Kasihan banget sih, masih muda loh dia itu. Pasti dia sangat tampan, jika masih hidup." Ucap Kira tanpa sadar. Sebenarnya dia hanya menilai saja, tidak ada maksud apa-apa.


"Mulut micin mulai mengacau" Pikir Harris. Sebal, kesal karena memuji pria lain di depannya.


Tanpa aba-aba, Harris melahap habis bibir yang mulai menampakkan warna aslinya. Pink pucat dengan garis bibir yang tegas. Menyesap habis hingga terasa berdenyut nyeri. Kira menarik paksa dirinya.


"Kau gila, Mas," Kira melotot, tangannya mengusap bibirnya yang terasa asin.


"Jangan memuji pria lain di depanku. Hanya aku, dan aku. Kau tidak boleh memandang pria lain. Mengerti!" Harris mencengkeram kedua tangan Kira dengan satu tangannya. Dan tangan yang lain, mencapit dagu Kira yang masih memandangnya dengan tatapan kesal.


"Dia sudah meninggal, Mas. Masa kamu cemburu sama orang yang bahkan belum pernah ku lihat, sih?"


"Belum pernah lihat saja, kau memujinya, bagaimana kalau kalian sudah bertemu?" Harris melepas pegangannya. Sebagai gantinya, dia menarik lagi wanita itu ke dalam pelukannya. Menempatkan lengan istrinya di pinggangnya.


"Melihat reaksimu, kupikir dia memang sangat tampan," Kira tersenyum, membenamkan wajahnya di dada suaminya. Menghindari amukan gelombang kedua dari pemilik tubuh ini. Tangan Kira melingkar ketat di pinggang suaminya. Desis dan gemeletuk gigi beradu, terdengar jelas dari posisi Kira saat ini.


Hingga beberapa saat, saat di rasa Harris sudah mulai menguasai amarahnya, Kira mengendurkan pelukannya. Mengangkat kembali wajahnya, yang terasa engap saat jalan nafasnya terhimpit dada kokoh itu.


"Maaf, Sayang," Kira mengecup bibir suaminya yang masih terpaku pada jalanan di sisi kanannya.


Harris terkesiap, dan langsung membalik tubuh Kira. "Kau benar-benar mengujiku."


Tatapan tajam itu mengoyak-koyak jantung Kira, membuat debarannya semakin menggedor kuat rongga dadanya, seakan ingin melompat dari tempatnya. Harris melabuhkan lagi bibirnya di atas bibir istrinya.


"Sialan, kumat tuh penyakitnya, bisa kempes semua ni roda," Batin Johan yang mengawasi mereka dari kaca di depannya, sejak tadi.


Johan perlahan menepi, di jalanan yang minim pencahayaan, saat melihat posisi dua orang di belakangnya. Siapapun yang melihat pasti salah paham akan posisi itu.


"Kau mau kemana?" Tanya Harris pada Johan yang hendak keluar dari mobil.


"Keluar Bos, aku merasa seperti kebo di sini," Jawab Johan yang setengah badannya sudah berada di luar mobil.


"Dia sedang tidak enak di makan," Ucap Harris masam. Sembari menarik Kira ke posisi duduk yang siaga, seolah tidak terjadi apa-apa.


Johan bernapas lega, setidaknya dia tidak menjadi teman nyamuk-nyamuk nakal di luar.


"Kita jalan lagi, Tuan?" Johan berdehem, sebelum bertanya. Menyembunyikan rasa senang, yang akan ikut tersirat dalam pertanyaannya.


"Iya, kalau kau tidak ingin tinggal di gudang kosong itu," Johan segera menoleh ke kiri, melihat gudang terbengkalai tampak mengganga menyeramkan. Johan menelan ludah, membayangkan makhluk apa yang tinggal di dalam sana.


Tanpa pikir panjang, Johan menyalakan lagi mesin mobilnya, menginjak pedal gas sekencang mungkin agar segera menjauh dari tempat itu. Johan memang pandai berkelahi dan jago menembak, tapi, dia paling takut dengan hantu dan sejenisnya.


"Dasar penakut," Cibir Harris.






Hai-hai, 👋👋 selamat malam semuanya🌇 selamat beristirahat 😴, semoga mimpi indah ya,😍😍


Betewe, boleh tau dong, Apa alasan kalian menyukai ceritaku?😘😘 Atau alasan kalian menunggu ceritaku?👉👈 sama aja ngga sih?hehehehe.


Meskipun kata Mama Kira, tidak butuh alasan untuk menyukai sesuatu, wkwkwkwk😆😆


Tulis komentar kalian pada tempatnya ya!!😘😘😘


Salam Manis dari Author👩‍🦰


Note: Stok gula masih aman kan? karena Author udah kasih salam manis hampir tiap hari😆😆😆👋👋👋!!!!!