Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Rahasia Kecil Riana


Riana pulang dalam keadaan mabuk berat dan tidak sadar. Raka, suaminya geleng-geleng kepala di buatnya. Mabuk-mabukan, pulang pagi, bahkan tidak pulang adalah kebiasaan Riana berapa tahun terakhir.


Raka bahkan sudah tidak mampu lagi menasehati Riana. Setiap nasehatnya bagai angin lalu di telinganya. Jika bukan karena kedua anaknya, Raka sudah menceraikan Riana. Entah apa yang membuat Raka enggan menceraikan Riana. Bukan alasan anak-anak, tanpa Mamanya anak-anaknya tetap terurus. Raka hanya menjaga nama baik keluarga Riana dan keluarganya.


Raka, adalah suami Riana, mereka menikah sudah hampir 6 tahun lamanya. Tapi, Raka seolah baru mengenal istrinya. Fakta demi fakta terungkap seiring bertambahnya usia pernikahan mereka.


Raka bekerja di grup WD, setelah lulus kuliah. Dan mengenal Riana karena Rian. Rian dan Raka bekerja pada orang yang sama, dan mereka sering bertemu. Riana gadis yang manis, tapi Raka seperti terjebak dengan wajah Riana. Manis tapi penuh racun. Raka merasa tertipu. Meskipun awal-awal pernikahan, Riana masih terlihat seperti madu, tapi semakin hari, Raka  selalu mendapat kejutan darinya.


Benar, jangan menilai buku dari sampulnya. Raka benar-benar menyesal. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, tinggal di tambah kuah, ayam yang banyak, kerupuk dan sambal, pasti akan enak, begitu prinsip Raka.


Mereka tinggal terpisah dari orang tua Raka meski masih dalam satu komplek perumahan. Sehingga Raka tidak perlu khawatir dengan urusan di dalam rumah tangganya. Tanpa ada yang tahu, Raka dan Riana sudah pisah ranjang sejak 2 tahun terakhir, setelah Raka tahu, bahwa Riana suka menjajakan diri demi beberapa lembar uang dan kepuasan batinnya.


Raka memang hanya pegawai biasa, namun gajinya di WD luar biasa. Mobil dan rumah adalah hasil keringatnya selama bekerja di WD. Namun, bagi Riana berapapun uang itu, yang ada hanya selalu kurang. Meski semua sudah di genggam, hidup berkecukupan, dan suami yang pengertian, itu tak membuat Riana bersyukur.


Awalnya, Raka masih bisa sabar menghadapi sifat konsumerisme Riana. Masih menuturinya dengan lembut, tetapi, dia mulai menunjukkan sifat aslinya. Kasar dan arogan. Tak segan dia menghancurkan barang bila keinginannya tidak terpenuhi.


Dan, tanpa sepengetahuan Raka, Riana mulai mencari uang tambahan dengan instan, bersama beberapa orang temannya. Kemudahan di dalam dunia telekomunikasi, benar-benar memberi manfaat kepadanya. Tanpa perlu meninggalkan rumah, dia bisa mendapatkan uang. Raka, seperti badak yang kehilangan cula. Merasa di injak harga dirinya sebagai suami dan pemimpin keluarga. Namun, Raka memilih memendam semua, Riana adalah tanggung jawabnya.


Raka menghempaskan tubuh wanita yang dulu pernah di cintainya setulus hati. Tanpa menyentuhnya, Raka meninggalkanya di kamar Riana.


Sudah hampir subuh, dan Raka belum juga memejamkan mata, pikiran pria 31 tahun itu di penuhi dengan masalah hidupnya. Namun, untuk mengalihkan pikiran dari Riana, Raka memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Sering membawa pulang pekerjaannya.


Sejak pisah ranjang, Raka memang tak pernah menyentuh Riana. Dia merasa jijik, membayangkan Riana di jamah laki-laki lain.


Pernah Raka meminta Riana untuk berhenti, tetapi Riana mengajukan syarat yang sangat sulit. Meskipun hanya materi yang di mintanya, tetapi, itu juga tidak sedikit. Melebihi gajinya sebulan. Riana memang mendapat jatah dari Ayahnya, entahlah, Raka sendiri bingung, setiap bulan, pendapatannya tidak mencukupi bahkan terkadang minus.


Riana bangun saat hari sudah sore dan perutnya terasa lapar. Di dengarnya suara kedua anaknya sedang bermain di ruang tengah bersama pengasuhnya. Riana masih menggunakan bajunya semalam, baju super mini dengan tali menggantung di pundaknya dan rok jeans pendek. Dia merangkak bangun, menguap dan memijat pelipisnya, ketika di rasakannya kepalanya masih berdenyut. Dia berjalan malas menuju meja makan, dengan rambut masih acak-acakan. Menguap lebar sekali lagi, sembari membuka tudung saji.


Riana membanting tudung saji ketika tidak ada makanan di dalamnya. Kesal, ia berjalan gontai namun lebih cepat, sehingga hampir membuatnya menabrak sekat antara ruang makan dan ruang tengah.


"Kamu ngga masak, Yul?," Riana menempelkan  bagian depan tubuhnya di sekat ruang tengah, mata yang masih buram dan kepala yang masih pusing, membuat langkahnya tidak sinkron. Hanya batas itu yang mampu dia capai.


"Maaf Nona, saya hanya memasak nasi, kata Tuan, nanti akan membeli makanan dari luar," Jawab Yuli takut-takut. Dia menarik kedua anak asuhnya di belakangnya. Dua bocah perempuan itu juga tak kalah takutnya. Terlebih mata Mamanya yang merah dan penampilan acak-acakan itu membuatnya semakin mengerikan.


Riana berdecak, kesal, dia kembali lagi ke kamar, mencari-cari ponsel miliknya. Tidak ketemu, membalik tasnya hingga keluar semua isinya. Tidak ada, dompet dan uang tunai yang dia dapat semalam lenyap. Riana terbelalak, sakit di kepalanya hilang, matanya yang buram mendadak menjadi terang.


Riana mencoba mengingat lagi kejadian semalam, laki-laki yang bersamanya terakhir kali membuatnya minum banyak hingga tidak sadarkan diri. Dan dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.


Riana merosot ke lantai, semua yang dia punya, yang akan di gunakan untuk hidupnya kedepan, lenyap tak bersisa. Riana berpikir untuk berpisah dari Raka, dan memulai hidup baru di tempat lain. Tidak terkait dengan siapapun termasuk orang tuanya. Namun, kini dia harus gigit jari, dan mengubur impiannya.


Ya, Riana memang berkerja di sebuah kelab malam, menemani pria kaya yang kesepian menghabiskan malam. Namun, sejak kejadian terakhir di rumah orang tuanya, Riana semakin menggila dan tidak terkendali. Dia bahkan memendam dendam kepada Kira, wanita yang sangat di bencinya. Namun, dia tidak menemukan Kira di manapun, hingga kebencian yang menumpuk di hatinya menguap begitu saja. Setidaknya sampai dia mempunyai cukup kekuatan untuk membalasnya.


Riana bergerak gelisah, mencari-cari uang yang mungkin terselip di tasnya, namun nihil. Hingga saat dia usai mandi, di rok yang dikenakannya tadi menyembul lipatan uang. Riana tersenyum senang, dia bisa bertahan sampai nanti malam, sampai dia meraup uang lebih banyak lagi.


Raka tiba di rumah saat Riana berjalan keluar, hendak membeli makanan di depan kompleks.


"Mau kemana?," Tanya Raka. Menyapa sekedarnya, setidaknya Raka masih punya kepedulian kepada Riana. Lagipula mereka bukan pasangan yang hangat, dan di penuhi kasih sayang, sekarang. Tetapi dulu, Riana adalah segalanya untuk Raka.


"Cari makan, pembantu itu tidak masak, dan kau pasti tidak akan memberiku makan," Sembur Riana. Raut wajahnya penuh ejekan saat menatap Raka.


Raka yang sedang dalam mode lelah dan mungkin penuh tekanan, tiba-tiba saja mendidih saat mendengar ucapan Riana. Meski Riana acap kali berkata seperti itu, tetapi kali ini, entah mengapa, ucapan Riana itu sangat mengganggunya. Raka turun dari mobil, membanting pintu mobil dengan kasar.


"Iya, aku memang tidak akan memberimu makan, sana cari makan di luar, cari saja sampai kau puas," Raka menafsirkan makan dengan makna lain. Raka yang gusar, mencengkeram kuat lengan Riana. Tak ayal, Riana yang ringkih, mengerang kesakitan.


"Kau mengusirku? Baik, aku akan pergi dari rumahmu yang mulia ini, tidak sudi aku tinggal dengan lelaki sepertimu," Riana yang juga masih di liputi amarah atau mungkin efek alkohol masih mempengaruhinya, seperti singa yang di ganggu tidurnya, membalas tatapan garang dari suaminya. Meronta agar cekalan tangan Raka terlepas.


"Pergi! Pergilah yang jauh, jangan kembali lagi,"  Teriak Raka. Matanya tak lepas memperhatikan Riana yang berlari menjauh. Seluruh tubuhnya bergetar, tangannya mengepal kuat hingga otot di tangannya menunjukkan uratnya, amarah benar-benar menguasainya.


Riana keluar rumah menenteng koper di tangan kirinya dan tas tangan kecil di tangan kanannya. Berjalan melewati Raka begitu saja, namun tatapan nanar Riana menusuk Raka. Ada setitik rasa bersalah di hati Raka, bukan maksudnya untuk mengusir Riana. Ketika bertengkar sampai menghancurkan seisi rumahpun, Riana tidak pernah berniat pergi. Tetapi, kali ini, hanya karena pertanyaan sepele, Riana pergi, benar-benar pergi.


Mencegah Riana? Raka pun enggan. Raka menatap kotak makanan yang di belinya, ya, lima kotak makanan untuk mereka berlima. Raka sengaja menyuruh Art untuk tidak memasak, dan fokus mengurus kedua buah hatinya. Namun, Riana memaknai semua berbeda. Raka menghela nafas, kacau. Kesal, marah dan tidak tahu harus berbuat apa, bercampur menjadi campuran komplit gumpalan rasa sesak. Raka menendang ban mobilnya berulang-ulang, sampai kakinya terasa sakit. Menumpu kedua tangannya di atas pintu mobil, menangis. Dialah laki-laki yang gagal. Gagal sebagai suami dan pemimpin keluarga.


Raka membiarkan Riana pergi, dengan semua rahasia dalam dirinya. Selama 2 tahun terakhir, mereka berdua, dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama. Riana semakin liar dan tidak terkendali. Raka, semakin sibuk dan tidak peduli. Hanya anak yang dia kasihi dan dirinya yang menanggung sesal akan pilihannya yang dia ratapi.


Taksi terus melaju sejalan dengan Riana yang terus berpikir. Kemana dia akan pergi, tanpa uang, dia tidak bisa apa-apa. Kakinya terlalu takut melangkah dalam kerasnya hidup, dan merangkak dari bawah. Dia takut sengsara dan sakit. Meski hidupnya keras, tapi uang selalu menghiburnya. Jalan-jalan, dan berbelanja adalah obat yang sangat mujarab mengobati kesendiriannya.


"Maaf Nona, kemana saya harus mengantar anda?," Tanya supir taksi, saat melihat pandangan kosong penumpangnya. Dari lagak lagunya, dia seperti orang yang di usir dari rumah atau kabur. Dan berdasarkan pengalamannya selama menjadi supir taksi, mereka tidak punya tujuan dan uang yang pada akhirnya dia tidak mampu membayar. Sehingga dia dengan sopan, menegur penumpangnya itu agar tidak tersinggung.


"Perumahan B, Pak," Ucap Riana tanpa sadar. Tetapi dia sadar, jika terus berputar, uangnya tidak akan cukup untuk membayar ongkos taksi.


Rumah orang tuanya adalah tujuan terakhir dan satu-satunya. Dia adalah merpati yang tahu kemana harus kembali. Tidak peduli harga diri, yang dia mengerti, hanya bagaimana dia berjalan nanti. Riana yang selalu berjalan tegak dengan kemewahan melekat pada dirinya. Dia tidak tahu, sambutan macam apa di rumah ini, nantinya. Meski harus memohon, dia tidak peduli