
Ada yang bertambah, ada pula yang berkurang. Ada yang berkembang, ada pula yang masih jalan di tempat, bahkan mengalami surutnya kehidupan. Hidup selalu begitu bukan? Mengikuti hukum samudra, yang pasang dan surutnya ditentukan purnama. Hidup manusia, mengikuti tindak tanduknya.
****
"Kau sudah siap?" Kira menoleh ke arah suaminya yang menegang. Tak bisa disembunyikan oleh senyum yang merangkak naik ke pipinya.
Kira merapatkan bibirnya, diedarkan pandangannya ke luar kaca mobil. Rumah ini terasa asri dan sejuk. Tak ada yang aneh. Tak ada yang mencurigakan.
"Ini rumah siapa, Bang?" Kira menoleh secepat kilat. Kejutan apa yang dia siapkan untuk istrinya kali ini?
"Kau akan tahu sebentar lagi!" Harris mengulurkan tangannya. Yang segera di sambut oleh istrinya. Walau ragu dia mengikuti saja. Meski rasa was was seakan mengekor di belakangnya.
Segera diraihnya tubuh istrinya, dituntunnya perlahan. Seolah tengah melintasi danau es yang rapuh.
Pemandangan di dalam ruangan yang baru saja dipijakinya terasa kontras dengan suasana di luar. Pintu tinggi berwarna cokelat mengkilap itu menutup lembut, berganti interior bernuansa kelam. Sambutan yang cukup membuat bulu kuduk merinding.
Sofa tinggi besar dan gelap adalah satu-satunya isi dari ruangan pertama yang di singgahinya. Sedikit membelok, ada ruangan lain yang lebih ramai oleh beberapa orang, yang membisu dan tegang. Mengerubungi sofa panjang yang berukuran lebih kecil dari yang di depan. Warnanya sama. Gelap.
"Abang," Kira menahan tangan suaminya. Dia berhenti ketika matanya mengenali siapa yang sedang duduk tertunduk.
"Kau ingin melihat mereka bukan?" Harris menaikkan alisnya sebelah. "Jangan takut, mereka ada untuk melindungimu!" Ucap Harris saat merasakan genggaman erat di pergelangan tangannya. Ekor matanya melirik ke arah pria-pria bertubuh tegap yang berada di sekeliling sofa.
Kira menggigit bibir, tak disangka suaminya masih menyimpan dua orang itu untuknya. Kira yang tak siap dengan keadaan ini, melangkah pelan disamping suaminya.
Melihat kedua orang itu yang seakan hangus. Kira menelisik, tak ada luka.
"Abang menyekap mereka di sini?" Kira berbisik. Meski Kira yakin mereka tak akan mendengar dari jaraknya kini.
"Tidak, mereka ditangani Hendra!" Harris buru-buru membuang muka dan menarik Kira yang masih setia menatapnya. Berharap suaminya tidak berbohong.
Tentu saja, Harris tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Setidaknya untuk saat ini. Dia takut istrinya akan meledak sebab emosinya yang masih suka naik turun.
Kira mengusap perutnya yang masih rata. Amit-amit, batinnya. Saat melihat Riana dengan sendu menatapnya. Kulitnya benar-benar seperti sawo matang. Pria disebelahnya apalagi. Kira bahkan nyaris tak ingat bagaimana wajahnya dulu.
Kira menoleh ke arah suaminya lagi, tak tahu apa yang akan dilakukan pada dua orang ini.
Harris mendekat dan mengulas senyum, "Katakan sesuatu, paling tidak!"
Riana yang mendengar suara Harris, mendongakkan wajahnya. Rambutnya yang kusut masai membingkai wajahnya. Tetapi, pakaiannya masih layak.
Kira menarik nafas, sebelum menghadapi keduanya.
"Riana," Panggil Kira pelan. "Andai saja, aku kehilangan bayiku, aku tak peduli meski harus berakhir buruk sepertimu. Ku pastikan kau tak bisa menikmati harimu meski kau bernyawa."
Kira menjeda ucapannya. Setidaknya itulah yang dia pikirkan saat tahu dirinya hamil dan mengalami pendarahan. Harris bahkan tak menyangka istrinya memiliki pemikiran seperti itu.
"Apa kau sudah menyadari apa kekeliruanmu?" Tanya Kira datar. "Jika belum, sebaiknya, kau menungguku melahirkan. Kita akan selesaikan dengan caramu!"
Riana menggeleng kuat. Tak ada kata yang terucap, hanya titik air mata yang perlahan jatuh.
"Ri, seharusnya kita tidak berakhir seperti ini. Aku tahu kau membenciku. Tapi apa harus sampai melakukan hal-hal diluar batas? Kita hanya melakoni peran kita, Ri. Semua sudah digariskan. Semua sudah ada jalannya. Seharusnya, akulah yang iri padamu, Ri. Kau memiliki segalanya dan aku tidak. Apa yang tidak kau miliki di dunia ini? Kecantikan, harta benda, dan keluarga yang utuh," Kira menatap lurus Riana yang masih menitikkan air mata. Hening. Bahkan detak jam begitu terdengar nyaring. Menggema di seluruh ruangan.
"Aku yakin Ri, kau hanya tersesat. Tersesat dengan pikiranmu sendiri. Buka mata hatimu, Ri. Tidak semua orang yang kau anggap baik adalah orang baik dan apa yang kau anggap buruk itu tak ada artinya, Ri."
"Maaf, Ra. Maaf," Lirih Riana sembari terisak. Tangannya bebas mengusap air matanya.
Kira mendesah. "Kau minta maaf karena kau tak ada kesempatan untuk bebas kan?"
Benar, Riana mengakui itu. Tapi, seakan ada seutas benang yang dapat dia simpulkan. Mantan kakak iparnya tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dia hanya dilibatkan. Tanpa tahu apa kesalahannya. Tanpa tahu apa sebabnya, sehingga Kira mengalami nasib buruk. Kira, keponakannya, dan penikahannya.
Andai Ibu tak membawa Melisa ke dalam bahtera rumah tangga kakaknya. Dan, jika saja, dia mau berpikir, bahwa apa yang dilakukan Ibu dan dirinya adalah salah, mungkin saat ini dia sedang menikmati hari yang cerah dengan Raka dan kedua anaknya.
"Maafmu tidak berguna di sini, Ri! Aku memaafkan kamu, tapi, kau tahu kan? Setiap perbuatan ada balasannya. Kurasa, tak ada yang keberatan jika kamu, mendekam lebih lama di balik jeruji besi," Kira bangkit dan kembali ke sisi suaminya. Meninggalkan Riana yang sudah pasrah pada nasibnya. Berharap matahari tak sudi untuk menyentuh kulitnya lagi.
Sambutan lengan berotot itu singgah di pinggang Kira. Ketat. "Kau sudah selesai?"
"Pastikan saja, mereka dihukum berat," Kira menaikkan wajahnya. Menatap suaminya yang mengulas senyum.
"Tanpa kau minta, aku akan melakukannya. Kau tidak menyapa Tuan Winata, Sayang?" Harris melirik pria berkharisma kuat itu dengan sinis.
Kira hanya melirik sekilas. Entahlah, dia sangat jijik dengan pria yang disangkanya terhormat. "Aku lelah, Bang! Kita pulang saja!"
Tak ada yang tersisa dari seorang Winata, satu persatu kaedoknya mulai terungkap. Skandal dirinya dan beberapa sosialita wanita, diungkap sempurna oleh Harris. Trik-trik halus, memanfaatkan istri-istri koleganya, yang terpesona oleh kharisma seorang Winata. Mengeruk kekayaan suami mereka tentu bukan hal yang sulit setelahnya.
Tetapi, berbeda hasilnya pada Kira. Sejak awal, Winata sudah salah langkah. Menggunakan Riana, untuk menculik Kira yang tenyata tidak serapuh kelihatannya. Meruntuhkan dominasi Dirgantara dan mendapatkan wanita milik Harris Dirgantara. Wanita itu memang beda, seharusnya Winata menyadari itu sejak pertama melihatnya.
***
Seorang wanita berusia lanjut, tengah duduk di sebuah kursi besi. Di sampingnya, berdiri anak lelakinya. Berdua saling menguatkan. Tak di nyana, lelaki tangguh ini tumbang pada akhirnya. Hanya alat medis yang menjadi penopang kehidupannya.
Usai kehilangan uang yang tak sedikit jumlahnya, lelaki tua ini menyerah pada kehidupannya. Apalagi fakta-fakta baru mulai terungkap. Dan, lebih mengerikan lagi, anak perempuannya, yang di kasihinya, menjelma menjadi monster.
Kebencian merasuki jiwa hingga ke sumsum tulang. Bercampur bersama aliran darah. Dialah yang menyebabkan putrinya seperti ini. Dialah yang membuat putrinya hilang arah. Dan lebih buruk, kehilangan nurani.
Satu minggu sudah, Atmaja yang tangguh, tak berdaya di bawah garisan nasib. Kondisinya yang lemah, semakin parah saat mengetahui, Riana di penjara. Atmaja tak habis pikir, bagaimana bisa Riana berpikir sejauh itu. Beban yang dipikulnya begitu berat hingga akhirnya, Atmaja menyerah pada Sang Pemilik Kehidupan.
Dokter sudah menyarankan agar alat medis itu segera di lepas, sejujurnya itu hanya akan menambah derita si pasien. Jiwanya sudah menyeberang. Nyawanya sebatas nafas dilehernya.
"Kami masih mampu membayarnya, Dokter! Jangan pernah sekalipun anda mengucapkan kalimat itu lagi!" Wanita tua itu meraung di hadapan Dokter yang bertanggung jawab di ICU.
Dokter itu mengerti, dia tersenyum ke arah pria yang tengah memengangi lengan atas ibunya. Rian tersenyum canggung, memohon pemakluman sang Dokter.
"Rian, kenapa harus Ayah? Kenapa bukan Ibu saja yang di sana?" Lirih Bu Atmaja kepada putranya.
Rian tak mampu menjawab, selain mengusap lengan ibunya. Keduanya menatap pahlawan keluarga yang tengah tidur dengan damainya.
Ibu menangisi kehangatan yang belum lama dirasakannya. Yang baru sebentar dicurahkan kepada suaminya. Tahun berlalu yang tak pernah dihiraukannya. Terlalu banyak waktu berharga yang terbuang, terlalu banyak masa yang sia-sia.
Siapa yang memasang belenggu keangkuhan di dalam hati? Siapa yang melesatkan panah bermata api ditengah ikatan suci? Siapa yang memberai kasih sayang yang sudah terajut begitu indahnya? Siapa yang menyedot badai kedalam rumahnya?
Ibu terisak dalam. Bahunya terguncang-guncang. Dirinya. Semua karena dirinya. Menyadari ini. Kenapa baru sekarang semua terlihat di matanya? Bertanya pada siapa? Si pemilik jawaban sudah setengah jalan menuju kedamaian.
Ibu memandangi suaminya dengan isak sesal yang dalam. Saat raga hampir terpisah dengan ruhnya, saat itu juga terasa nyata betapa pentingnya orang itu bagimu. Sangat terasa. Bahkan mampu menyibak labirin gelap dalam hati. Menyentuh sisi yang beku.
Maaf? Saat nafas saja sudah tak mampu menyentuh ujung rongga dadanya, bisakah maafmu diterima? Jika jasad saja tak bisa saling memahami, mungkinkan jiwanya bisa saling menyentuh? Mereka terikat janji, tapi tidak dengan hati. Tidak dengan jiwa. Jika iya, bagaimana bisa, kau begitu abai akan lisannya?
Sentuhan di pundaknya menyudahi diskusi hati. Ibu menoleh, saat dilihatnya suaminya menatapnya dengan senyum damai. "Sudah Bu, ikhlaskan Ayah,"
Ibu mengusap matanya pelan, menolak percaya apa yang dilihatnya. Bergantian, Ibu melihat Ayah yang berbaring dan Ayah yang di samping belakangnya. Keduanya sama. Ibu tidak mimpi.
"Ibu baik-baik saja?" Rian melihat ibunya kebingungan, sedikit khawatir.
Sekali lagi dia menoleh, tetapi, itu Rian. Bukan suaminya. Di lihatnya sekali lagi, dan Rianlah yang menyentuh pundaknya. Bukan suaminya.
"Ibu pasti lelah! Ibu pulang saja ya, biar Rian yang menunggu Ayah!" Ujar Rian. Dia setengah memaksa ibunya bangkit.
Ibu membeku, tubuhnya kaku. Saat garis di layar berubah datar. Bunyi kecil nan nyaring itu begitu menghujam dalam. Sang Pemilik Dunia lebih menyayangi suaminya. Cukup banyak dia menderita kerusakan yang di sebabkan olehnya.
•
•
•
Hai gais, mulai besok tanggal 8 januari 2021 BUKAN WONDER WOMAN, ganti cover dan judul yah....🥰
Bukan sok-sokan atau apa, setelah mendapat pencerahan dari author femes di MT/NT, bisa jadi karena judul dan cover kurang menjual🤗 jadi susah naik. Awalnya aku kira ini ngga ada efeknya, tetapi rupanya cover dan judul sangat mempengaruhi.
Biar ngga ilang, simpan di rak ya dengan cara pencet ❤, biar kita tetap terhubung...🥰😘😘
Atau bisa search "Misshel" di kolom pencarian, dijamin langsung ketemu...
Okey, terimakasih atensinya. Tetap dukung diriku ya gais...😘
Yang mau kasih kritik dan saran yang membangun bisa follow ig ku ya @Misshel_88.
Love You All😘