
Jeje sedang berusaha bangkit saat Kira masuk setengah memaksa ke ruang ganti.
"Mama ...." Jeje ketakutan setengah mati ketika melihat wajah mamanya penuh kecemasan.
"Apa mereka—management—menghubungi rumah sakit? Apa parah?"
Kira menghampiri Jeje dan memeriksa keadaan putranya dari atas sampai bawah, depan dan belakang. Selalu berlebihan sampai membuat Jeje tidak nyaman, tetapi kali ini dia membiarkan saja mamanya bertingkah berlebihan. Jeje merasa senang dan tersentuh.
"Harusnya tidak perlu panggil ambulans, sih, Ma ... tapi kalau ke rumah sakit, sepertinya memang perlu, deh," kata Jeje cengengesan, mengurangi perasaan salah tingkahnya.
Kira menatap putranya serius.
"Sungguh," kata Jeje memastikan. "Tapi aku nggak keberatan jika Mama mau membawaku periksa."
Kira berpikir sejenak, "kalau begitu siapa yang sakit parah?" gumamnya dalam hati.
"Ma ...."
Kira segera sadar dari pikirannya sendiri. "Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo ke rumah sakit sekarang!"
"Mama nggak ngomelin aku, gitu?" tanya Jeje takut sekaligus heran. Kenapa tidak asa omelan? Atau dia harus mempersiapkan diri jika sepanjang perjalanan ke mobil, telinganya akan penuh oleh omelan mamanya. Di sini terlalu banyak orang, jadi mungkin mamanya menahan diri.
Kira menaikkan alisnya. "Memangnya kau mengharap Mama ngomel? Yakin siap kena omelan Mama? Kalau mau, Mama akan lakukan nih?"
"Eh, tidak-tidak!" Jeje segera melangkah seraya tersenyum lebar.
Kira langsung mengekor dengan ekspresi penuh kemenangan. Siapa suruh menantang. Sudah baik tidak ada lagi kekesalan di hatinya, kalau tidak Jeje pasti tidak akan bisa tidur karena omelannya. Lagian Kira lebih khawatir akan cedera itu dari pada marah-marah.
Setibanya di tempat parkir, Jeje langsung masuk ke mobil dan mendapat ucapan selamat dari Excel, Jen, dan juga Agus. Sedangkan Kira, tanpa sengaja melihat Darren yang membawa sesuatu di tangannya sepertinya hendak menuju ruang ganti.
"Darren!" panggil Kira. Tujuannya memberitahu Darren bahwa Jeje sudah di sini, tetapi sepertinya Darren salah mengartikan panggilan itu.
"Tante." Darren terkejut bukan main. Pikirannya mendadak kacau. Apa ketahuan semuanya? Tetapi dia tidak punya pilihan selain mendekat, meski badannya menggigil seperti terserang demam tinggi.
"Darren, ikut Tante ke rumah sakit?" Kira mengisyaratkan bahwa Jeje akan kesana. Tanpa ada indikasi yang dikhawatirkan Darren.
"Ru-rumah sakit?" Darren melongok tidak sopan ke dalam mobil. "Sa-saya pulang saja, Tan ... sepertinya mobilnya sudah tidak muat."
Darren berusaha tersenyum dan mengalihkan perhatiannya dari mobil.
Karena setelah Jeje naik, mamanya tidak segera menyusul, Jen menyembulkan kepalanya, berniat protes. Namun, melihat Darren dia langsung mundur dan berkata keras-keras.
"Cepetan, Ma ... urusan Jeje lebih penting, kan?"
Kira menatap Darren sungkan. "Maaf, ya, Ren ... Tante tinggal duluan."
"Tapi kalau muat, saya ikut, Tan ... soalnya ada barang Jeje masih saya bawa dan beberapa hal yang harus saya sampaikan sendiri sama Jeje."
Darren menyeringai seraya mengusap tengkuknya.
Kira sejenak menatap Darren, lalu mengangguk. Ada apa dengan anak ini?
"Ayo kalau begitu."
Kira duduk di sebelah Jeje sementara Darren duduk di depan. Setelahnya, dia hanya fokus dengan ponsel, sebab dia harus memastikan siapa yang sakit parah.
Atmosfer kabin mobil menjadi tegang dan sunyi. Jeje tak banyak bicara, sebab apapun yang dia katakan akan membuat Jen—yang tau segalanya, tak akan sungkan membongkar rahasianya dengan Darren di depan Mamanya.
Jeje tahu, Darren selalu berusaha mendekati Jen, yang sayangnya, Jen sama sekali tidak mau menanggapi, bahkan terkesan membenci.
Mata Jen sama sekali tidak menatap ke depan, dia tau sedang diawasi Darren.
"Mas Agus, nyetirnya cepetan! Aku kok mual dan pengen muntah ya, ada bau-bau tidak mengenakkan disini." Jen berkata sangat keras, sampai Excel di sebelahnya ikut membaui.
Jen tidak peduli, "Mas Agus ngangkut sampah, ya?" sindir Jen yang langsung membuat Darren berdehem pelan.
"Jen, apaan sih, Nak?" Kira tidak terlalu paham apa maksud Jen, tapi dia tau Jen sedang menyindir. Sekalipun kepada Jeje, itu sangat tidak sopan.
"Bau sampah, Ma!"
Jen tidak takut pada teguran sang Mama, lalu menjatuhkan dirinya lebih dalam ke jok mobil. Dia menutup mata. Disana, dia membayangkan membuang Darren ke laut dan langsung disambar ikan hiu paling besar.
Excel melihat itu dan tersenyum. Tapi dia tidak melakukan apa-apa.
Kira menoleh ke belakang setelah semua pesannya pada Harris sama sekali tidak mendapat jawaban. Pun dengan Riko yang sama sekali tidak membalas.
"Jen, tidak baik wanita bersikap seperti itu. Tidak peduli pada siapa, Jen tidak boleh mengatai orang seperti barusan. Mama tidak pernah mengajari kamu bersikap nyinyir begitu!"
Kira merasa percuma saja berbicara pada Jen. Gadis itu pasti tidak mendengarkan kata-katanya. Jadi dia segera beralih ke depan, dengan perasaan marah. Ini pasti karena Harris terlalu memanjakan Jen.
Rumah sakit sepertinya benar-benar dalam keadaan genting. Giza menangis saat melihat ke arah mobil ambulans yang masih sibuk menempatkan posisi dengan benar. Disampingnya, ada Rega yang memandang ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong menyedihkan.
Harris dan Riko sibuk memberikan instruksi, bahkan Harris membantu ranjang dorong tersebut naik ke ambulans.
"Reno," gumam Kira, yang bahkan tak menunggu mobil terparkir sempurna, meminta Agus membuka pintu.
Wanita bertubuh tinggi itu berlari dan melupakan Jeje yang seharusnya juga diprioritaskan.
"Giza, maafkan kami."
Suara Harris itu terdengar lirih dan penuh luka. Kira bahkan bisa merasakan dari posisinya kini, betapa suaminya itu sangat merasa bersalah. Meski selama ini, Harris sudah melakukan banyak hal untuk membuat Reno pulih kembali.
"Tidak perlu mengatakan apa-apa, Harris ... kau sudah melakukan banyak hal untuk Reno dan kami. Sudah jalannya harus seperti ini." Giza berkata lemah.
"Aku harusnya bisa melakukan banyak hal lain, waktu itu. Aku ceroboh, Giza. Aku yang seharusnya di posisi Reno."
Kali ini Harris bersimpuh, menyentuh kaki Giza dengan air mata meleleh. Dia merasa menjadi orang yang paling buruk karena tidak bisa membuat Reno kembali pulih.
Giza menegarkan dirinya, badannya menjadi tegak. Dia berkata keras dan tegas. "Semua rencana bisa rusak kapan saja, tergantung bagaimana cara kita percaya pada seseorang. Aku mengerti keadaanmu, Harris! Dan aku tidak menyalahkanmu karena yang dilakukan Reno adalah tugasnya. Dia harus melindungimu sekuat tenaga bahkan sekalipun nyawa sebagai taruhannya."
Kira yang mendengar itu menjadi merinding, apalagi semua orang tampaknya tidak mampu bersuara. Bagian depan rumah sakit ini menjadi sangat hening.
"Maafkan aku, Giza." Harris sekali lagi menyentuh kaki Giza, yang sedari tadi terus mundur.
"Jangan begini," kata Giza tenang. Air matanya pun mulai menggenang. "Kau dan Tuan Dirga sudah banyak membantuku selama ini. Sudahlah, aku tidak merasa kau yang salah."
Giza menuntun Harris berdiri. "Sebaiknya aku segera berangkat, dan sampaikan salamku pada Jeje, ya ... dia anak yang hebat."
Giza segera menarik Rega ke arah ambulans. Kendati ada mobil lain, Giza dan Rega memilih mendampingi Reno.
"Aku akan mengantarkanmu, Giza." Harris berinisiatif.
"Tidak usah." Giza menoleh dan tersenyum tenang. "Biar aku bersama Reno saja. Aku tidak tahu kapan dia akan benar-benar pergi, jadi aku akan berada di sisinya. Aku tidak pernah meninggalkan dia, Harris."
Kira mendekat perlahan, Giza menyadari kehadiran Kira dan tersenyum lemah.
"Doakan saja yang terbaik untuk kami. Aku yakin apapun yang terjadi itu sudah ditakdirkan, kalian jangan merasa bersalah terus."
Usai berkata, Giza segera naik ke ambulans, dan meminta petugas pengantar menutup pintunya. Giza bersandar dan menangis.
Reno baik-baik saja selama ini, meski dia tidak bisa lagi berjalan dan berbicara. Giza begitu syok melihat Reno mendadak kejang kemudian tak sadarkan diri.
Giza sudah banyak berharap setelah Reno menujukkan sedikit perubahan beberapa bulan terakhir. Dia bisa makan sendiri, mengeluarkan suara, dan tatapannya tak lagi kosong.
Kini Giza bagai dijatuhkan ke dalam jurang kenyataan yang menyakitkan. Reno bisa saja pergi sewaktu-waktu, dan dia harus menyiapkan diri bila waktu itu tiba. Giza sejujurnya tidak pernah ikhlas atas semua yang menimpa Reno, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak.
Mengingat ini, hati Giza kembali dipenuhi dendam. Dimana wanita jahat itu sekarang? Setelah berhasil merayu keluarga Kira dan menikahi Johan, kemana wanita itu pergi? Giza bertanya-tanya akan persahabatan antara suaminya, Harris, dan Johan. Dia ragu kalau mereka tulus, melihat situasi sekarang.
Giza mengerang, hatinya sangat sakit.
Rega memeluk mamanya yang menangis. Dia tidak memahami benar apa yang terjadi, tapi jelas keluarga yang selama ini dianggapnya baik, ternyata menjadi penyebab kecelakaan Papanya. Dia harus meminta pertanggungjawaban pada mereka nanti.
Giza mengelus kepala putra semata wayangnya. Dia harus kuat demi Rega.
*
*
*