Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Unspoken Love


Plak!


Kaki Giza berhenti, tapi tidak dengan tangannya. Kemarahan tertahan di dada sehingga dadanya menjadi sesak. Mata Giza menguarkan seluruh kemarahan.


"Aku membencimu seumur hidup! Seluruh hidupku menyumpahimu tidak pernah bisa merasakan kedamaian!"


Viona memegang pipinya, dia tidak menangis atau marah. Hatinya dengan lapang menerima sumpah Giza. Dia tidak berkata apa-apa, hanya membalas Giza dengan tatapan rumit.


"Kuharap kita tidak bertemu lagi!" Giza mundur dengan perasaan hampa.


Wisnu Dirgantara menghela napas saat menyambut Giza kembali ke sisi Reno. Dia tidak berkata apa-apa saat wanita itu menatapnya dengan kebencian menyala.


"Kenapa anda menghentikan saya, Tuan?" Giza duduk di dalam ambulans. Tangannya kembali meraih tangan Reno yang mulai dingin.


"Kita harus cepat ke rumah sakit, Giza." Dirgantara ikut masuk dan duduk berseberangan dengan Giza.


Asisten Toni yang pertama kali bereaksi dengan mengangkat tangan berniat mencegah, tetapi Dirga mengabaikan semuanya dan meminta ambulans cepat berjalan.


"Anda tidak perlu membuang waktu untuk kami, Tuan." Ada nada putus asa dalam nada suara Giza. Wanita itu sudah pasrah, kendati apapun yang disarankan oleh keluarga Dirgantara dia turuti semua. Tetapi dia tahu, suaminya tidak memiliki harapan untuk hidup.


"Kau yang membuang waktu hanya untuk melayani kemarahanmu, Giza!" Dirga marah, tetapi dia ingat untuk tidak berteriak. Menurutnya, tindakan Giza sangat kurang dewasa.


Giza tak bisa menahan dirinya lagi untuk bersikap hormat dan segan pada pria bijaksana di depannya ini. "Anda terlalu kentara sedang melindungi dia—Viona—Tuan. Apa anda sadar sedang bicara pada siapa? Atau anda salah masuk mobil?"


Sindiran sarkas Giza membuat Dirga menarik sudut bibirnya. "Aku melindungi kalian dari tindakan bodoh yang merugikan. Hiduplah dengan baik dan jangan meledak-ledak, itu balas dendam terbaik, Giza!"


"Ya, jika posisi saya adalah wanita yang disakiti perasaan dan kehormatan saya, Tuan!" Giza tidak habis pikir dengan saran elegan itu. Tapi ini dalam konteks yang berbeda.


"Yang disakiti adalah fisik suami saya. Tulang punggung keluarga saya. Dia menyakiti kami dengan menyentuh dan melukai. Suami saya sekarat, dan tolong katakan bagaimana saya salah dengan sebuah tamparan tidak berguna barusan? Lalu Viona dengan segala kelicikannya dimaklumi dan kalian lindungi?"


Dirgantara terdiam, seluruh alampun terdiam.


"Saya disakiti, saya tidak bisa meminta perlindungan siapapun karena saya tidak mau menyinggung anda dengan segala kekuasaan anda! Saya merasa tidak adil atas kehilangan anak di perut saya dan suami saya! Katakan kenapa dunia malah memihak Viona, pun dengan anda yang seharusnya mampu berbuat adil! Anda hanya memberikan saya kompensasi, bukan keadilan yang kami inginkan, Tuan!"


Rega menatap kosong tubuh ayahnya yang sama sekali tidak bergerak kecuali gerakan lemah di dadanya. Naluri kecil Rega dipaksa menimbang keadaan saat ini. Dia sungguh bingung menyikapi, menurutnya, semua orang sudah berupaya maksimal untuk membuat keadaan sedikit lebih baik.


Rega memeluk mamanya yang berguncang dengan tangisan. "Mama boleh nangis di bahuku. Luapkan semua kesedihan dan luka hati mama padaku, Ma."


Bisikan Rega yang terdengar tegar, membuat Giza semakin larut dalam tangis, sehingga membuat Dirga yang semula ingin meluruskan kebencian Giza pun urung. Pria yang biasanya mampu menenangkan kemelut itu hanya bisa menghela napas dalam diam. Kata-kata Giza benar adanya.


"Aku tahu, uang tidak bisa menyelesaikan semuanya. Uang adalah sarana. Kekuasaan hanya alat. Itulah batas yang mampu dilakukan manusia, Giza. Keadilan sudah kami usahakan sebaik mungkin, tapi dunia di sisi lain, tetap tidak bisa berjalan sesuai keinginan kita." Dirga akhirnya mampu berbicara dengan tenang setelah goncangan barusan.


Giza menoleh dengan mata dan pipi merah yang basah. Mata itu sungguh indah, pantas Reno meratukan wanita ini. Dirga kagum pada keberanian di balik kesedihan dan luka sedemikian hebat yang mereka alami.


"Viona dalam hal ini hanya kaki tangan dengan berbagai imbalan. Viona salah jalan," ucap Dirga seraya membuka tangannya. Dia pasrah pada apapun yang dipikirkan Giza tentangnya.


"Dia wanita lugu yang rusak karena cinta yang membabi buta. Ku pikir kau dan dia punya kesamaan. Cara mencintai kalian pada pria terlalu ekstrem."


"Maksud Anda?" Giza mulai tersinggung ketika disamakan dengan Viona.


"Tanpa sadar kalian memiliki sesuatu yang sama. Viona rusak karena salah mencintai orang, sementara kau, hancur karena mendendam dan sibuk membalas dendam. Hidup akan lebih baik jika kau melepaskan." Dirga menarik kesimpulan. Giza bukan wanita yang mudah.


"Akan lebih baik sekali jika Viona terus merasakan semua kesakitan saya selama ini, Tuan. Anda tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi saya. Nasihat anda, akan saya dengar, tapi untuk kali ini, anda tidak punya hak melarang saya dengan segala perasaan saya!"


Giza berpaling ke samping dengan Rega memeluknya kembali.


Dirga paham, Giza sudah menutup semua indra dari nasehat atau saran. Dia tau, percuma menempa batu, toh pada akhirnya akan ada setetes air yang mampu melubangi.


Entah siapa yang akan jadi setetes air itu nanti. Dirga menunggu orang itu datang.


Keheningan menjadi teman perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Hingga sampai di sana, Giza sama sekali tidak melupakan kebaikan Dirga. Wanita itu membungkukkan badan saat Dirga hendak menuju hotel tempatnya menginap.


Asisten Toni tanpa menoleh lagi, membawa atasannya tersebut ke hotel untuk beristirahat.


"Sewa satu lantai rumah sakit untuk kenyamanan Giza dan Rega!" Perintah itu sekilas memenuhi otaknya, dan spontan terucap. Kendati dengan alis saling bertaut, Asisten Toni melakukan apapun perintah tuannya.


Sementara Johan langsung memeluk Viona setibanya di rumah. Johan sampai tidak punya nyali menemui Giza. Dia merasa seperti penghianat. Tapi sungguh. Dia hanya ingin membuat semuanya nyaman.


Toh, Viona sudah banyak berubah dan sungguh-sungguh ingin menjadi baik. Dunia selalu punya sisi yang mampu membuat isinya terpelintir. Ah, entah itu dunia atau memang jalan hidup yang harus seperti ini.


"Aku mampu menerima sakit hati Giza dan seluruh kebenciannya padaku. Bahkan seumur hidupku." Viona memejamkan mata saat mengatakan itu. "Bahkan jika kau dan semua orang membenciku, aku bisa menanggungnya."


Viona melepaskan pelukan dan menatap mata Johan yang tampak tak suka. "Sebelum semua ini aku ketahui, sebelum aku memiliki rasa bahagia ini, aku memutuskan untuk menebus semua kesalahanku. Kau jangan merasa sungkan mengatakan jika kau tak mampu bersamaku. Hidupku sungguh berat."


Johan memeluk kembali Viona. "Bagilah denganku kalau begitu. Aku siap dibenci seluruh dunia hanya karena mencintai wanita yang pernah berbuat salah dan membimbingnya menjadi wanita yang lebih baik."


Johan menarik dagu Viona, menatap mata sayu itu dengan senyuman paling manis. "Badai saja tau kapan waktunya mereda, jadi jangan berhenti berusaha dan berdoa. Giza Wanita yang baik. Aku yakin dia akan memaafkanmu suatu saat nanti."