
"Yang, jangan keterlaluan gini, ih. Kan kasian mereka. Mungkin mereka ngga sengaja ngelihatin aku," Kira mencoba menenangkan suaminya yang masih berusaha menciumnya.
"Hei, aku laki-laki, aku pasti tahu apa yang mereka pikirkan saat melihatmu seperti tadi, aku ngga buta dan aku ngga bodoh," Harris menangkup pipi lembut istrinya.
"Ih, sok tahu, emang dasarnya kamu suka berprasangka aja," Kira mencibir. Menoel pipi suaminya dengan gemas.
"Aku memang selalu buruk di matamu," Harris menjetik diantara kedua alis istrinya
"Sakit, Yang," Kira mengusap dahinya sambil meringis, "Makanya jangan berpikiran yang tidak-tidak, Johan itu sudah banyak membantumu, dan Rio kan saudaramu, masa kamu tega membuat mereka salah tingkah begitu?"
"Bagaimana dengan perasaanku? Kau tidak pernah tahu kan bagaimana rasanya, jika milikmu di incar orang lain?"
"Benarkah? Apa Melisa dan Viona bukan ancaman buatku?"
"Aku lupa, kau seniornya kalau urusan rebut merebut," Harris mengusap pelan kening itu, dan mengecupnya. "Jangan pikirkan ucapan Papa tadi, ya! Papa hanya bercanda tadi."
"Ucapan Papa yang mana?"
"Tentang menimang anak dari kita."
"Oh, itu. Aku ngga apa-apa kok, lagian bukan itu masalahnya, aku hanya malu, bahkan Papa saja memikirkan untuk membuat kamar kita kedap suara. Apa sampai sebegitunya?" Kira tidak melanjutkan ucapannya, dia menunduk dengan wajah bersemu merah dan serasa terbakar.
"Iya, mulutmu itu sangat lancang, suka berteriak-teriak, apalagi, rumah Papa sepi," Harris menggoda istrinya yang langsung mendelik, dengan gigi merapat ketat. Pipinya semakin merah, menahan malu.
"Itu karena kamu! Sudah siang, segeralah berangkat," Kira mendorong pelan tubuh suaminya, menuju mobil.
"Kenapa jadi aku? Aku hanya melakukan tugasku," Harris berbalik dan mengecup pipi merah itu dan beralih ke kening. "Aku berangkat dulu, baik-baik dirumah ya."
Kira mengangguk, menikmati kecupan di keningnya yang lama dan hangat.
***
Sepanjang jalan, Johan hanya berdehem dan mencuri pandang ke arah bosnya. Padahal, biasanya Johan sudah merecoki Harris dengan jadwal-jadwalnya selama seharian, terkadang sampai jadwal esok hari.
"Kenapa diam? Marah?" Ucapan Harris secara terang-terangan menusuk perasaan Johan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sedang sariawan," Jawab Johan di buat sesantai mungkin. Walaupun bosnya sudah bisa menebak, apa yang di pikirkan olehnya, tetapi selama dia bisa mengelak, dia akan melakukannya.
"Kau tidak terlihat seperti sedang sariawan, kau makan dengan lahap tadi," Harris menikam Johan dengan sorot matanya yang enggan meninggalkan pantulan wajah Johan di kaca.
"Saya hanya menghargai makanan dan orang yang membuatnya, Tuan. Dan, saya tidak ingin mengganggu Anda dan Nyonya," Johan sesekali melirik kaca, memastikan bosnya bisa menerima alasannya.
Harris mencibir, meski dia tidak percaya dengan ucapan Johan, tapi, dia tidak ingin mendesak Johan lebih jauh. Harris tahu, Johan tidak akan merebut istrinya, Johan bukan tipe pria penikung. Apalagi padanya, yang sudah menganggap dia saudaranya.
"Cepat beli obat, nanti kau tidak bisa konsentrasi bekerja, malah memikirkan sariawan di hatimu itu," Sindir Harris.
"Baik, Tuan. Nanti saya akan beli obat lewat aplikasi saja," Johan tersenyum, tapi hatinya dongkol. Mana ada hati yang sariawan? Pikirnya.
Harris tiba di kantor berbarengan dengan orang yang mengajukan perusahaannya sebagai mitra kerja grup WD. Seorang pria yang tampaknya berusia 45 tahunan dan seorang wanita yang memakai pakaian kekecilan. Sehingga membuat tubuhnya menonjol di beberapa bagian. Lagak lagunya, seperti menggoda, membuat Harris ingin muntah.
"Selamat pagi, Tuan. Anda baru sampai?" Sapa pria itu.
"Seperti yang anda lihat, saya baru turun dari mobil," Harris menjawab basa basi yang di lontarkan oleh si calon mitra kerjanya. "Silakan masuk ke ruang rapat, salah seorang staf saya sudah menunggu anda, saya akan ke sana sebentar lagi."
"Baik, Tuan," Jawab pria itu, yang tampak kecewa karena Harris lebih mengerikan dari pada Tuan Dirga.
"Jo, selidiki perusahaan itu. Aku tidak yakin, perusahaan itu tempat yang benar untuk berinvestasi."
"Baik, Tuan." Johan bergerak cepat, mencari tahu tentang perusahaan itu.
Bukan tanpa alasan, sebagai perusahaan yang membutuhkan modal, keuntungan yang di janjikan sangat tinggi, dan dalam waktu yang sangat singkat. Star saja yang di dukung sepenuhnya oleh Papanya, membutuhkan waktu hampir lima tahun untuk pulih dan kembali berjaya.
"Masih lama Jo?" Tanya Harris saat hampir tiga puluh menit, dia menunggu Johan
"Ini memang sedikit tidak beres, Tuan. Namun, untuk perusahaan yang mengalami krisis keuangan, saya rasa, perusahaan ini terlalu percaya diri," Jemari Johan masih beradu dengan tombol-tombol di laptop, menimbulkan bunyi yang menggelitik telinga.
Harris kembali ke kursinya, memijat pelipisnya, berulang kali dia membaca berkas pengajuan investasi di depannya. Tidak ada yang aneh, hanya bagian pembagian keuntungan yang membuatnya curiga.
"Tuan, sebaiknya, kita tidak melanjutkan kerja sama ini. Perusahaan ini memiliki hutang di beberapa bank, beberapa asetnya sudah di ambil alih oleh perusahaan lain. Ini, datanya, Tuan," Johan menyerahkan beberapa lembar berkas berisi data keuangan yang bersifat rahasia.
"Kamu dapat dari mana semua ini?" Harris tertohok dengan ucapannya sendiri. "Asisten Toni yang membantumu?"
"Tuan, anda jangan marah dulu, saya bisa jelaskan semuanya, Tuan," Johan tiba-tiba melempem saat melihat sorot mata Harris yang menajam. Seakan siap mencabik-cabik Johan. "Saya hanya meminta data ini saja sebagai penguat bukti saya, Tuan. Anda tentu tahu, meski perusahaan ini, terancam bangkrut, tapi pemiliknya masih memiliki kekuatan untuk menutupi kecurangannya."
Harris menggebrak meja, menghamburkan semua kertas, pena dan beberapa file ke lantai. Berceceran kemana-mana. Johan berkeringat dingin, Tuannya mulai gelap mata, tatapannya tidak menyurut sama sekali, malah semakin menakutkan, seakan siap membunuh.
"Tuan, saya mohon, sekali ini saja, jika anda tetap berkeras hati melanjutkan kerja sama ini, kita akan merugi," Johan bercicit lirih. Berusaha untuk membujuk Harris.
Harris masih enggan mengikuti saran Johan, terlihat sekali dari raut wajahnya yang mengeras. Harris menumpu kedua tangannya di sisi meja. Dia berpikir keras, separuh dirinya berpikir lurus, separuh lagi meninggikan ego. Harris menatap data dari Johan sekali lagi. Menimbang ego dan resiko.
"Tuan, jika boleh saya mengingatkan, Asisten Toni pernah membantu anda mencari Nyonya beberapa waktu lalu. Saya rasa, kali ini tidak jauh beda, Tuan. Nyonya pasti akan senang, jika anda berpikir dewasa dan realistis," Johan putus asa, Tuannya masih belum memutuskan, sementara, staf yang di tugaskan untuk menjamu si mitra kerja, sudah berulang kali menelponnya. Dia sepertinya sudah kehabisan alasan untuk mengulur waktu.
"Sumpah demi apapun, aku terpaksa kali ini," Batin Harris sambil meraup kasar wajahnya.
"Ingat, Jo. Hanya kali ini saja,"
"Siap Tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi," Johan memotong ucapan Harris dengan cepat. Wajahnya berangsur berseri-seri. Berdiri tegap dengan tangan menempel di kening.
***
"Tuan, saya mohon, beri kami kesempatan untuk bekerja sama dengan Grup WD. Kami akan membuktikan bahwa kami bukan perusahaan bermasalah," Cicit pimpinan perusahaan itu.
"Saya rasa, data ini cukup valid dan kuat. Saya tidak ingin membahayakan perusahaan saya, Tuan. Terlebih, ribuan karyawan kami sangat bergantung pada perusahaan ini. Jika kami merugi, banyak karyawan kami yang akan menganggur. Tolong, hargai keputusan kami."
Harris dan Johan melangkah keluar dari ruang rapat yang sangat panas. Wajahnya masih menegang usai debat yang panjang, dan alot.
Harris mendaratkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya, sementara Johan membuatkan kopi untuknya. Gusar, dan perasaannya sangat tidak nyaman. Dia merasa lemah. Harris mengambil ponsel di saku depan celananya.
"Halo, Yang,"
"Sedang apa?"
"Lagi siap-siap mau jalan-jalan, baru saja aku mau menelepon kamu tadi,"
"Kemana?"
"Cuma mau ke mall aja, main di arena permainan, biar ngga bosen di rumah aja,"
"Ajak Rina dan Sari, juga Doni dan Riko."
"Banyak banget yang diajak, budget nambah dong!"
"Aku tambahin lagi nanti, Viona ikut?"
"Ih, tumben nanyain dia? Mulai perhatian lagi, ya?"
"Bukan, hanya kasihan saja, dia juga butuh hiburan, Yang."
"Nambah lagi dong, dananya!"
"Iya, kan nanti aku tinggal minta ganti sama Mami, kalau sudah tau Kristal adalah cucunya, sepuluh kali lipatpun, Mami ngga akan keberatan."
"Separuh buat aku ya, Yang, hehehehe."
"Semua buat kamu. Kau ini istriku apa tuyul sih? Suka banget sama uang?"
"Kebutuhan hidup itu harus seimbang, Yang, antara Just Money dan Rohani."
"Kau minta di hajar sampai pingsan ya, pinter banget ngeles."
"Hahahaha, takut, Yang. Udah ya, aku mau habisin uangmu dulu, kamu kerja yang bener, ya. Dadah."
"Dasar rubah," Harris tersenyum miring menatap ponsel yang menampakkan Wallpaper dirinya dan istrinya dengan selimut menutupi sebatas setengah lengan. Foto yang di ambil saat mereka berada di atas Pearl.
Kira adalah mood booster baginya. Suasana hatinya membaik usai bertukar suara dengan istrinya tadi. Ah, andai dia bisa ikut bermain dengan anak-anak, pasti akan sangat menyenangkan.
β’
β’
β’
β’
Maaf, Author ketiduran tadiππ
Happy reading, anggap aja tulisan Author bener dan nyambung, kalau ngga nyambung, di sambung-sambungin aja.πππ
Love you allπππ
Dadahπππ
Peluk cium dari Authorπ©βπ¦°