
Sore itu—mungkin setelah setengah bulan telah berlalu, Harris pulang lebih awal. Langkahnya yang panjang begitu cepat membelah kesunyian rumah mewahnya.
"Sayang ... Sayang!" panggil Harris terlihat tidak sabar. Kemejanya sudah digulung sampai siku, rambutnya sudah kacau, meski begitu, pria itu tetap tampan dan mempesona.
"Sayang!" ulangnya saat mendorong pintu samping menuju kolam renang.
Kira mendengar teriakan Harris langsung berlari menghampiri dimana kiranya suara tersebut berasal, tanpa mempedulikan masker yang baru saja diaplikasikan ke wajah. Dia tidak sabar melihat efek masker tersebut, meski seharusnya dia memakainya sebelum tidur.
Tapi, jangankan masker, baju saja kalau bisa jangan sampai menghalangi pelukannya dengan Harris, jadi mana bisa dia memakai masker pada waktu tersebut?
"Ya ampun, Sayang!" Harris berjengit mundur saking terkejutnya melihat Kira yang menyeramkan dibalik masker berwarna hijau itu.
Kira hanya memainkan matanya, tanpa bisa berbicara.
"Ngapain pake begituan, sih?" Segera saja Harris menarik masker setengah kering itu dengan kasar, "cepat ganti baju dan ikut aku!"
"Ah, sakit, Bang!" rintih Kira yang sudah bebas dari masker, sehingga wajahnya terlihat merah dan lembab. "Kenapa ditarik, sih?"
Harris mengabaikan begitu saja protes tersebut dan menarik Kira menuju kamar. Bibirnya diam, matanya menelisik penampilan istrinya tersebut. Tampaknya masih lumayan oke untuk acara sore ini, pikir Harris, lalu dia membelokkan langkah ke luar rumah.
"Abang mau kemana ini? Aku belum mandi!"
"Diam dan ikut saja!"
"Tapi masa mau keluar pake baju begini ini?" Kira memandangi bajunya, hanya celana panjang terusan dengan panjang lengan sebatas siku. Bahunya terekspose bebas.
"Bagimu itu biasa aja, tapi harganya luar biasa. Sudahlah, kita tidak punya banyak waktu, Sayang." Harris membuka pintu mobil dan meminta istrinya masuk, tapi sebelum itu, dia mengecup bibir istrinya sekilas—dengan gigitan di bibir bawah yang sangat nakal.
"Kau seksi sekali."
Kira berdecak marah. Tetapi dia menurut juga. Kadang dia penasaran, tapi kesal juga sebab sampai sekarang, jika berbau kejutan, semua orang kompak tidak membuka mulut sama sekali. Ah, pria ini ... pintar sekali menyatukan semua suara dan membuat anak-anaknya patuh.
Harris mencebik dengan acuh tak acuh. Toh, istrinya tidak akan pernah bisa marah dengan benar, sekalipun Harris mengasarinya. Pun dengan kali ini. Tidak peduli cebikan marah itu untuk pemaksaan mengikutinya, atau karena ciuman yang brutal barusan.
Harris tersenyum seraya menyalakan mobil, lalu ketika Kira membuang muka, Harris melajukan mobilnya.
Harris hanya fokus menghitung waktu dengan jadwal kick off pertandingan yang diikuti Jeje sore ini, sehingga dia mengabaikan Kira yang justru makin marah dengan keterdiamannya.
Kira merasa diabaikan, tapi dia bertekad untuk tidak bicara lebih dulu. Pria di sebelahnya ini, sesekali harus diberi pelajaran agar sesekali tidak bertingkah semaunya.
Stadion begitu ramai, Harris memarkir sembarangan, lalu membukakan pintu untuk Kira yang agak bingung begitu melihat tempat yang dituju Harris.
"Ayo, masuk. Kita bisa terlambat!" Harris menarik Kira dan menukar tiket sebelum diizinkan masuk.
Di dalam begitu riuh dan gempita. "Bang, aku sudah lama tidak lihat bola, jadi untuk apa kau bawa aku ke sini? Aku bukan fans klub—sepak bola—manapun sekarang."
Ucapan Kira tertelan sorak sorai penonton yang cukup padat di area tribun. Hal itu membuatnya berdecak.
"Bang!" Kira menarik tangan Harris agar mendapatkan perhatian.
"Apa?!" Harris menoleh dengan kening berkerut dan wajahnya tak bisa menyembunyikan ketegangan.
"Ngapain kesini?"
"Mau mancing!" jawab Harris asal. Dia bisa ditumpuk batako segrobak jika sampai telat.
Dan, peluit kick off babak pertama benar-benar telah berbunyi. Harris membuang napas dan duduk sembarangan. Matanya tidak mungkin bisa lepas dari putra kebanggaannya yang sedang berlaga.
"Duduk sini, Sayang." Kira ditarik Harris sampai duduk di sebelahnya, kemudian kembali fokus ke lapangan. Dia langsung berteriak saat sang penyerang gagal memanfaatkan peluang bagus yang merupakan assist pertama dari Jeje.
"Astaga, itu tadi harusnya bisa gol!" umpatnya seraya berdiri dan meninju udara.
Kira melongok ke depan, pikirannya masih kacau. Matanya melihat papan skor dan dia tidak tahu sama sekali ini tim mana yang berlaga.
Kembali bola bergulir, penonton berteriak keras saat bola dibawah kaki pemain berban kapten, bernomor punggung 13.
"Jeje, I love you!"
"Jeje Jayden, Marrie me!"
Mata Kira sampai harus menyipit untuk melihat nama di punggung nomor 13 tersebut. "Jay JJ?"
Kira seketika berdebar-debar. Itu Jeje? Yang berlari itu Jeje? Jeje main bola? Sejak kapan? Dan ... dan, kok bisa?
"Bang!" Kira menarik kemeja suaminya, matanya melotot marah. Bagaimana kalau Jeje sampai cedera? Kira sama sekali tidak pernah mengizinkan Jeje untuk bermain bola, bahkan untuk tingkat sekolah. Bagi Kira, itu bukan sesuatu yang baik. Ya ampun!
"Lihat saja! Jangan banyak berpikir! Atau aku akan menciummu di sini nanti!"
Mata Kira melebar sempurna. "Bang ... Kita sudah sepakat, kan? Jeje akan ada di Giant, bukan menjadi pemain bola!"
"Ya, memang. Tapi ini hobi, bukan soal pekerjaan. Kenapa sih? Jeje sangat senang dengan sepak bola, dia brilian, dan bagaimana jika dia akan menghasilkan milyaran dengan kontrak-kontraknya. Bayangkan, jika namanya berada dalam sebuah produk, walau hanya sedetik, Jeje bisa menghasilkan jutaan, Yang. Dia akan mandiri di usia dini."
"Bukan soal itu," ungkap Kira dengan kesal. Kira hanya tidak mau Jeje kenapa-napa, mengingat kondisi liga di negara ini kurang memperhatikan kesehatan pemainnya. Kurang safety menurutnya. Dan ini, laga ini, pasti hanya laga amatiran, yang tidak diperhatikan dengan baik dari segi manapun.
"Aku sudah melakukan semua persiapan. Doakan yang terbaik untuk putra kita, Yang ... Dia selangkah lagi jadi bintang, ini laga final!"
"Apa?" Kira lagi-lagi terkejut. Harris menanggapinya dengan kekehan kecil, lalu merangkul Kira.
"Yo, Jeje, yo!" Harris berteriak di sela teriakan para fans Jeje yang kebanyakan remaja wanita hingga dewasa muda.
Begitu liga ini bergulir, masing-masing klub memamerkan pemain bintang di blog, website, maupun media sosial. Dan, Jeje yang memang tampil cemerlang, langsung mencuri perhatian.
"Jay ... marrie me!"
"I Love you, Jeje!"
Kira hanya bisa menahan sesak mendengar teriakan itu. Ingin rasanya dia menampar mulut kurang ajar para abg tersebut. Ya ampun, masih kecil kata-katanya sangat dewasa sekali!
Kira tidak bisa berbuat banyak selain menyaksikan anaknya berlaga. Dia begitu tegang sampai akhirnya terbawa arus adrenalin saat pertandingan berlangsung begitu ketat.
Kira sampai mengumpat, menyumpah serapah, dan teriak paling histeris ketika Jeje di tackling dari belakang.
Jeje menggelepar dan berteriak sangat kencang. Tekel itu benar disengaja sampai wasit mengeluarkan kartu kuning.
"Ya ampun Abang!" Kira menutup matanya, "bisa tidak kita mendekat?"
"Di sini saja. Nanti Jeje melihatmu dan jadi ketakutan. Dia nggak akan fokus main nanti." Harris sebenarnya khawatir, tapi dia merasa Jeje bisa mengatasinya.
Dan benar, Jeje kembali masuk setelah diberi perawatan oleh orang-orang yang sangat Harris percayai kemampuan dan kualitasnya. Dan mereka semua tidak tahu kalau Harris ada dibelakang Jeje. Andai mereka tahu, pasti setiap pertandingan akan dimenangkan dengan mudah oleh tim Jeje.
"Jeje ... semangat Sayang!" Kira mengigit bibir usai berteriak. Tetapi nampaknya, teriakan itu tidak sampai ke telinga anaknya.
Kira blingsatan mencari cara agar Jeje bisa melihat dukungannya. Ketika menyakukan pandangan ke sekitar tempat duduknya, Kira melihat speaker di salah satu penonton, lalu dia melangkah kesana, dengan cepat bahkan tanpa di sadari Harris.
Setelah bernego sejenak, Kira berhasil menguasai pengeras suara tersebut dan mulai berteriak. "Jayden, ayo semangat, Sayang!"
Jeje membeliak, dia menoleh dan melihat mamanya melompat-lompat seraya terus memberinya semangat.
"Ayo, kau pasti bisa! Mama mendukungmu, Nak! "
Jeje tersenyum, dia menahan diri untuk tidak menangis. Hatinya lega, kemudian dia berlari lagi ke posisinya. Dia harus menunjukkan yang terbaik di depan Mamanya. Tidak tapi seluruh keluarganya. Bahkan di depan papa kandungnya yang sore ini juga datang menyaksikan.
Jeje bertekad menunjukkan kalau dia pria yang tegar dan punya kemampuan.
.
.
.