Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku
Mungkin, Cerita Baru.


Johan tengah duduk di ruang tengah, beberapa saat lalu dia masih berbincang dengan Tuan Dirga dan Asisten Toni. Dia menunggu Bos nya yang sudah hampir 2 jam lamanya tak juga menampakkan diri.


Dua cangkir kopi sudah berhasil mengisi lambungnya. Beberapa Art yang masih menunggu Nona dan Tuannya makan malam, terlihat wara-wiri, ada juga yang menonton televisi. Bagaimana tidak betah? Mereka bekerja tanpa beban, fasilitas lengkap, banyak sekali waktu luang jika pekerjaan sudah beres. Gaji? Fantastis.


Hari ini, Johan yang menghandel pekerjaan Harris. Sebenarnya dia sangat lelah dengan semua beban pekerjaan ini, tapi, dia tidak punya pilihan. Johan memijat keningnya perlahan. Dia menyandarkan kepalanya di lengan sofa, mengambil posisi untuk tidur.


Bayangan seseorang melintas saat dia hendak memejamkan mata. Sehingga membuat Johan urung memejam, dia bangkit lagi. Dilihatnya, Viona tengah memegangi pinggangnya sambil berjalan. Tubuhnya semakin berisi sejak dia berdamai dengan masa lalunya.


"Mau kemana?" Ucapan Johan sedikit membuat Viona terkejut. Dia bahkan berjingkat, dan memegangi dadanya. Johan menelan ludah saat melihat wajah yang semakin ayu. Tetapi, dia segera menepisnya. Baginya, hanya Nyonya Bos yang mampu mengisi hatinya. Tak akan terganti. Prinsip mendudanya tak akan goyah semudah ini.


"Mau ke dapur, Jo! Ambil air putih!" Viona tersenyum sambil menunjukkan botol kaca untuk menampung persediaan air minumnya selama semalam, agar dia tidak bolak-balik ke dapur saat malam.


Johan bangkit dari duduknya, dan menghampiri Viona. "Kau bisa meminta bantuanku. Apa kau tidak melihatku tadi?"


Johan menyambar botol yang di pegang Viona. "Duduklah, biar aku saja! Apa lagi yang kau butuhkan?"


Kedua mata mereka sejenak saling beradu, namun Johan segera memutus kontak mata itu terlebih dahulu.


"Aku bisa sendiri, Jo!" Viona hendak mengambil kembali botol itu, namun, Johan menjauhkannya.


"Jangan membantah, duduk saja!" Johan menahan tangan Viona, tatapan tajam melayang ke arah Viona yang segera membatu saat tatapan itu menghujam jantungnya.


Entahlah, apa yang menyebabkan hatinya tergerak untuk membantu wanita yang jelas-jelas tak disukainya. Pun dengan Viona, dia patuh saja dengan apa yang dituturkan oleh Johan. Yang nyata-nyata selalu membuang muka darinya.


Johan berlalu menuju dapur usai memastikan Viona duduk di sofa tempatnya merebahkan badan. Sudut hati Viona menghangat, namun, dia segera sadar. Dia hanya barang bekas. Tak layak untuk mendapat perhatian dan kasih sayang bahkan dari Johan sekalipun.


Viona tersenyum, mengingat Johan yang enggan melihatnya. Mungkin saja Johan hanya iba melihat kondisinya yang memprihatinkan. Sehingga dia tergerak untuk menolongnya.


Viona meremas kedua belah tangannya. Dia tidak mau menyerah pada air mata lagi. Dia ingin kuat dan mandiri. Dia akan menata hidupnya lagi. Hidup yang baru. Lembaran baru. Dan mungkin cerita baru.


"Ayo ku antar kau ke kamar!" Sekali lagi, Johan membuat Viona terlonjak kaget.


"Tidak usah, Jo! Kau pasti lelah. Terimakasih sudah membantuku!" Viona mengulas senyum seraya meraih botol minum di tangan Johan. Tetapi, Johan menahannya.


"Kau jalan duluan!" Johan mundur untuk memberi ruang kepada Viona agar dia bisa leluasa melewatinya.


Viona mengarahkan pandangannya ke arah Johan. Mencari-cari alasan apa yang membuatnya melakukan hal ini untuknya. Viona tidak tahu, sorot mata itu dingin menghujamnya. Tak ada kehangatan mengalir dari sana. Malah seharusnya Viona membeku. Tetapi, suhu di sudut hatinya naik satu sampai dua derajat lebih hangat. Sedikit meluas, merembet pelan.


Viona melangkah menuju kamarnya, diikuti Johan yang berjarak dua langkah darinya. Benar, Johan hanya iba kepadanya. Wajar. Dia memang pantas dikasihani.


"Tidurlah, ini sudah malam!" Johan meletakkan botol air di meja lampu berdekatan dengan gelasnya.


Viona melihat jam yang bertengger manja di dinding. "Aku sudah tidak bisa tidur lagi!" Viona mengusap pelan perutnya. "Dia akan mengajakku begadang sampai pagi!"


Johan terkejut, tak heran jika Viona selalu bangun kesiangan. Dan lingakaran hitam di matanya, semakin terlihat pekat hari ke hari. "Apa ini wajar?"


"Entahlah," Viona mengangkat bahu, sambil mendudukkan tubuhnya di ranjang. "Kurasa wajar saja, teman-temanku banyak yang mengalaminya juga. Apalagi sudah menginjak 8 bulan. Tidur saja sudah tak nyaman!"


Johan manggut-manggut. Seberat itukah wanita mengandung? Dia sudah lupa, istrinya dulu tak sampai 8 bulan mengandung buah hati mereka. Mereka sudah meninggalkan dirinya seorang diri di sini.


"Apa yang kau lakukan jika tidak bisa tidur?" Johan memandang wajah itu lagi. Ah, dia hanya iba. Tidak lebih. Johan memasang tinggi benteng di hatinya. Hanya Nyonya Bos di hatinya.


"Tidak ada, kadang jika Kristal dan Jen tidur denganku, aku memandangi mereka sampai mengantuk! Atau menonton televisi, atau memperdengarkan bayiku musik klasik!" Viona menunjukkan beberapa perangkat untuk memperdengarkan musik.


Johan menelan ludah, tubuhnya seakan bergerak di luar kendalinya. Dia mendekat ke arah Viona, saat Viona mendesis, dengan sebelah tangan menyangga badannya dan sebelah lagi mengusap perutnya. Seakan meredakan sakitnya.


Johan masih menatap Viona yang memejamkan mata dengan kepala menengadah, bibir pucatnya tergigit sebelah. Johan terpana beberapa saat tanpa berkedip. Cantik. Wajah pucat itu, sangat cantik.


Johan terkesiap saat Viona memekik pelan. "Mana yang sakit?" Johan spontan memegang perut Viona. Mengusapnya pelan.


Keduanya terkejut dengan respon masing-masing. Viona tidak menyangka Johan sudah berlutut di depannya. Melihatnya kesakitan saat bayinya bergerak dengan kuat. Melihatnya di saat paling memalukan.


Johan, masih terpaku pada tangan yang menempel di perut Viona. Gerakan itu sudah seperti sundulan saja. Kuat dan sepertinya sangat menyiksa. Tetapi, gerakan itu menggetarkan sisi lembut perasaan seorang Johan. Seakan aliran listrik merembet memenuhi tubuhnya. Aneh. Johan menatap tangan dan Viona bergantian. Apa ini?


Viona hampir menangis, usapan lembut Johan membuat bayinya tenang. Selain Ibunya Kira tak ada orang lain yang mengusap perutnya. Nyaman. Tetapi, Johan segera menarik tangannya.


"Maaf, maaf! Aku sudah lancang menyentuh perutmu!" Johan bangkit dan mundur setelah melihat Viona berkaca-kaca dan menyurut.


Viona menarik sudut bibirnya. "Tidak apa-apa, Jo! Sepertinya bayiku sudah terbiasa dengan suaramu!"


"Benarkah?" Johan ternganga mendengar pernyataan Viona. Dia menyangka Viona akan marah karena sikap lancangnya.


Viona mengangguk, "Kau boleh tidak percaya."


"Ku kira kau akan marah tadi!" Johan tertawa kecil tetapi sangat panjang. Untuk mengatasi kegugupannya.


Viona ikut tertawa, saat Johan tak juga menghentikan tawanya. Seakan tawa itu menular.


"Panggil aku jika dia membuatmu kesakitan!" Keduanya membisu. Saling pandang sejenak. Sebelum tertawa lagi.


"Baiklah, aku akan memanggilmu jika dia bertingkah! Jujur saja, itu mengurangi rasa sakitku!" Ucap Viona lugas. Entahlah, mungkin Johan tidak sesangar penampilannya. Bahkan beberapa kali malah terlihat konyol. Bolehlah menganggapnya teman.


Viona mengambil ponselnya dan menyodorkannya ke arah Johan. "Agar lebih mudah untuk memanggilmu," Ujar Viona saat Johan mengernyit.


"Oh, iya! Kau benar!" Johan tersenyum sebelum menerima ponsel dan mengetikkan 12 angka di ponsel Viona. Tak lupa dia melakukan panggilan ke ponselnya agar bisa menyimpan nomor ponsel Viona.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Johan mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, mengalihkan perhatiannya dari Viona yang masih mengukir senyum saat memandangi ponselnya.


Viona mengangkat wajahnya, "Tidak ada, mungkin menonton televisi saja!"


"Tak bisakah kau mencoba tidur? Atau berpura-pura tidur?" Johan memiringkan kepalanya sedikit, matanya memicing sebelah. Pikirnya, pasti lelah setelah seharian menyangga perut besar itu.


"Kau ini ada-ada saja, Jo! Sudahlah, kau tidur saja! Aku sudah terbiasa kok!" Viona mengerti, Johan pasti sungkan untuk meninggalkan dia begitu saja. Viona merasa, Johan tidak tahu bagaimana untuk undur diri darinya.


"Jo?" Panggilan dari ambang pintu membuat obrolan yang semakin akrab terjalin ini, buyar. "Sedang apa kau di sini?"


"Tidak ada apa-apa, Tuan! Saya tadi menunggu anda!" Johan melangkah keluar setelah memberi isyarat dengan tangannya pada Viona. Dan Viona menganggukinya dengan senyum lepas.