
Dengan langkah lesu, Rian menyeret kakinya meninggalkan emperan kafe. Gerimis yang berganti hujan, tak di hiraukan lagi olehnya. Kata demi kata yang terucap dari bibir manis mantan istrinya, masih berusaha di cerna oleh pikirannya yang kacau.
Baru saja, dia menutup pintu mobil, sebuah taksi berhenti tak jauh dari mobilnya terparkir. Wanita yang sangat di kenalinya turun dari taksi dan dengan kasar merangsek masuk ke dalam kafe.
Tanpa pikir panjang, Rianpun turun dan mengikuti Melisa yang sudah berada di dalam kafe. Dia khawatir jika Melisa akan bertindak bodoh, dan akan menyakiti mereka berdua.
Kira baru saja dari pantri ketika melihat Melisa berdiri di depan meja kerjanya. Tatapannya di penuhi emosi dan matanya memancarkan kebencian.
"Hei, kau. Apa kau tidak ada yang mau, ha? Apa tidak ada seorang pun yang mau memungutmu?," Teriak Melisa. Tanpa bisa di bendung lagi, Melisa melabrak Kira yang masih belum kembali dari keterkejutannya.
Beberapa pengunjung kafe pun di buat terkejut dengan raungan Melisa. Mereka memandang ke arah Melisa dan Kira dengan penuh pertanyaan, tak sedikit yang mulai berkasak-kusuk. Tampak juga Rian yang tergesa-gesa masuk ke dalam kafe.
"Kau harusnya malu, menggantungkan hidupmu pada suamiku, dan kau masih menggodanya? Apa sikap belas kasihanku padamu, tidak cukup bagimu?," Raung Melisa. Kilatan amarah terpancar jelas di matanya, bibirnya bergetar hebat menahan gelora amarah di dadanya.
"Wah, lihatlah siapa yang berbicara?," Kira yang sudah kembali menapaki bumi, tersenyum sinis dan mengejek.
"Jadi seperti ini rasanya jadi kamu dulu, Nona Melisa?," Kira tertawa, tertawa layaknya peran antagonis di serial televisi.
"Lihatlah dirimu! Kau pun sama denganku dulu, badanmu sudah tak berbentuk lagi, dan suamimu mencari yang lebih indah, tentunya," Mata tajam milik Kira, menghujam dalam. Meruntuhkan nyali Melisa. Bagaimanapun Kira yang sekarang, tampak lebih mengerikan, di balik wajah polosnya.
"Tidak, selama kau tidak menggodannya," Balas Melisa tak kalah tajam. Deru napasnya memburu, berebut untuk keluar dan masuk ke dalam paru-paru.
"Wah, siapa yang menggoda siapa, Nona? Tanyakan kepada suami tercintamu, siapa yang merengek meminta kembali padaku, dan ya, maaf saja, kita tidak selevel sekarang," Ucap Kira sinis. Kira menjentikan kuku dengan kuku lainnya di jari jemarinya. Kira mengabaikan Melisa yang masih gemetar dalam kekuasaan amarah.
"Kau, dasar penggoda, beraninya kau mengabaikanku! Berani sekali kau menghinaku. Bagian mana yang kita tidak selevel? Bahkan kau lebih rendah dari pada aku," Melisa melangkah lebih dekat untuk menunjuk wajah Kira. Dan dengan lagak santai dan malas, Kira menjentik jari telunjuk Melisa.
"Penggoda teriak penggoda," Bisik Kira di depan wajah Melisa. "Tentu di bagian ini-menunjuk kepala merujuk otak- kita tidak selevel dan di sini -menunjuk dada dimaksudkan nurani- aku lebih baik dari pada kamu," Kira menarik kepalanya menjauh dari Melisa seiring sudut bibirnya mengukir senyum meremehkan.
"Dan, kau berbicara belas kasih? Itu di sebelah mana Nona? Bila aku melewatkannya, bisakah kau tunjukkan padaku?," Kira memiringkan kepala serta mengangkat sebelah alisnya.
"Melisa yang malang, aku tau kau berbangga diri merebut suamiku, tetapi kau tidak tahu, bahwa aku telah di selamatkan dari neraka di bumi? Dan, kau dengan senang hati menggantikanku, apa kau yakin aku akan kembali ke neraka setelah setengah jalan menuju surga?," Ucap Kira lirih. Pengunjung kafe pun berbisik, menerka-nerka perselisihan apa yang menjadi biang keributan di sini. Ada pula yang mengangkat gawai mereka untuk merekam adegan bak drama ini. Rian, hanya terpaku, tanpa mampu berbuat apa-apa melihat dua singa betina sedang memperebutkan seekor singa pejantan.
Melisa mengernyit heran, dia tidak tahu kemana arah pembicaraan Kira. Neraka? Di bumi? Bahkan sepercik api saja menyakitkan. Bagaimana rasanya neraka bila ada di bumi?
"Melisa, kemana otak rubahmu dulu? Apa kau meminjamkannya pada orang lain? Dulu, kau pandai sekali membodohiku, memutar fakta, demi menikmati suamiku. Sekarang, kau bahkan tidak tahu sudah terperosok kedalam jurang yang kau buat sendiri. Melisa, biar aku membantumu, aku tahu kalian sangat kaya, uang bukan masalah bagi kalian. Tetapi, aku lebih suka memutar otak dan memeras keringat demi sekeping uang logam dari pada menusuk orang yang merangkulmu, menganggapmu sebagai saudara, hanya demi hidup yang nyaman. Kedamaian bukan hanya soal materi," Kira berucap seolah sedang membacakan dongeng untuk anaknya saat menjelang tidur.
"Kau tahu, aku bertahan hidup dengan anakku tanpa sepeserpun uang dari kalian. Satu senpun."
"Kau sungguh pembohong besar, Akira. Riana selalu memberimu uang setiap bulan. Kau mengada-ada, kau ingin membuatku terlihat buruk di mata suamiku kan?," Ucap Melisa. Walaupun sudah sedikit tenang, tetapi Melisa masih mengerahkan seluruh tenaga untuk mendebat Kira.
"Kau sudah buruk tanpa aku menambahinya, Mel. Apa kau kira kau ini peri di mataku? Bukan, kau adalah pisau yang berkilau. Kapan saja bisa menusuk siapapun. Jika aku jadi kau, aku akan bertanya dulu kepada Riana, aku akan menggunakan otak rubahku yang licik, untuk mengungkap kejahatan penipu kecil di belakangmu,"
"Mas, kau percaya ucapannya? Dia bohong Mas, aku dan Riana tidak mungkin mengambil uang yang bukan milik kami. Benar kan, Mas?," Melisa sepertinya sudah tersudut. Membicarakan uang membuatnya ketakutan sendiri. Tidak lucu bukan, mempermalukan orang lain tetapi malah diri sendiri yang malu. Bagai melempar bomerang, yang akan berbalik menyerang pelemparnya.
"Kira benar, kita harus bertanya kepada Riana," Ucap Rian datar. Keributan ini semakin panas. Dan belum ada yang menyerah.
"Kenapa kau malah membela dia, Mas? Istrimu aku atau dia?," Melisa menghentakkan kakinya yang masih sedikit bengkak. Mungkin dia terlalu lama menggantung kakinya, ini sering terjadi usai persalinan.
Rian hanya mematung, bingung sendiri. Sebelah hatinya mengatakan, di sebelah sana adalah istrinya. Pada akhirnya, Rian hanya membisu, tak mampu menjawab, dan sepertinya diamnya Rian, adalah sebuah jawaban yang jujur. Dia masih menaruh perasaan pada mantan istrinya.
Melisa semakin kesal, sekali lagi melempar tatapan tajam penuh kemarahan ke arah Kira. Namun, itu tak membuat Kira takut sedikitpun. Malah Kira semakin senang di buatnya. Wajah ayu Melisa, wajah yang di penuhi keangkuhan itu, kini tidak berdaya. Mungkin setelah meraih kemenangan, Melisa mulai kehilangan taringnya.
Kira tertawa, tawa yang sangat jahat. Menertawakan mereka seperti ini, adalah balas dendam yang dia harapkan sejak dulu. Mereka saling menaruh prasangka diantara mereka. Jadi tanpa perlu mengotori tangannya, mereka akan merasakan buah perbuatan mereka.
"Jawab dong, Mas Rian. Istrimu bertanya," Kira menggoda Rian dengan gaya bicara Melisa, lembut mendayu-dayu. Di imbuhi bibir di manyun-manyunkan, di buat seimut mungkin.
"Diam, kau. Dasar menyebalkan." Melisa menerjang Kira. Namun tubuhnya yang masih melebar bukan tandingan Kira yang tinggi dan penuh tenaga. Melisa menyerang Kira membabi buta, mencakar, menjambak, dan menampar-nampar, tetapi hanya angin saja yang di terpa tangannya. Karena Kira berhasil menghindar. Malah, kini tangan Melisa berada dalam cengkeraman jari-jari panjang Kira.
"Perhatikan apa yang kamu serang, kau hanya akan membuat hatimu panas karena tidak berhasil mengenaiku, belajar dulu mengolah emosi, mengubah kesedihan menjadi kekuatan. Oh, aku lupa, kau belum pernah bersedih atau terluka." Kira menghempaskan tangan Melisa. Dia masih menahan diri, bagaimanapun Melisa habis melahirkan, mungkin saja keadaanya belum stabil.
"Sudahlah, pulang sana, anakmu menangis lho, kalau di tinggal terlalu lama," Sindir Kira.
Melisa meringis menahan sakit akibat cengkeraman Kira. Benar-benar wanita kuat. Sadar akan keadaannya, Melisa tak lagi menyerang Kira. Melisa mengingat lagi apa yang menjadi kelemahannya. Mata Melisa masih terpaku pada Kira yang acuh tak acuh.
"Kau pikir, kau wanita paling baik, Ra? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau juga selingkuh dari Mas Rian," Melisa menarik sudut bibirnya, dia belum kalah. Dia belum menyerah.
"Oh ya? Aku takut sekali aibku terungkap di sini," Kira merepet seakan ingin menangis.
"Ya, kau selingkuh dengan Agus, si sopir itu. Aku heran kau belum menikah dengannya? Apa kau di campakkan? Kau sudah tua, kau harusnya sadar, Akira."
Melisa menghempaskan tangan Rian, dan melempar tatapan galak seperti isyarat untuk diam. Rian bagai kerbau di cocok hidungnya, dia pun diam, beringsut ke belakang, menurut saja dengan Melisa. Pria macam apa itu? Atau suami seperti apa dia? Suami takut istri?
"Aku lelah tertawa, Mel. Sesuka hatimu saja, kau mengataiku apa, puaskan nafsumu untuk mengejekku. Aku dengan senang hati menerima. Makianmu, cambuk bagiku untuk lebih baik lagi. Pujian hanya akan menyesatkanmu. Kau dan keluargamu, manusia haus pujian." Jawab Kira santai. Dia mengangkat bahunya, dan kedua tangannya. Tidak peduli. Ah, Melisa, andai kau tahu siapa suami Kira.
Tiba-tiba, beberapa orang berbadan tegap, masuk dan mengamankan pengunjung. Meminta mereka keluar, dan berhenti merekam.
Johan, berdiri di antara mereka. Kira membeliak, jika ada Johan, artinya ada dia, pikir Kira. Kini, Kira benar-benar takut. Dia ketahuan membuat masalah. Kira ingin bersembunyi, tetapi ketika dia berbalik, sebuah tangan menariknya. Membuat Kira menabrak dada bidang itu lagi.
"Oh, Tuan. Jangan lagi, aku bisa gila," Batin Kira.
Harris menunduk, meraih dagu Kira dan melabuhkan bibir penuhnya di bibir Kira. Kira menahan nafas, matanya terbelalak, sejauh ini, inilah kemajuan hubungannya dengan Harris. Hanya beberapa detik, tapi, Kira sudah hanyut dalam hangatnya bibir itu. Ugh,
"Oh, Tuan, jangan seperti ini, aku bisa salah paham," Batin Kira. Meringis, ingin lebih lama.
"Sayang, kenapa ribut di sini, malu di lihat orang," Bisik Harris di teling Kira. Tetapi bisikannya bahkan bisa di dengar satu RT.
Kira mengerjap, tetapi, dia harus ikut bermain. "Maaf, Mas. Mereka menggangguku, aku hanya membela diri. Apa aku membuatmu malu?," Kira bermanja-manja di dada suaminya. Membelai lembut dada yang terbalut kemeja biru muda. Menarik dan memainkan dasi yang melingkar di leher kekar suaminya.
"Ya, Tuhan, aku sudah seperti penggoda saja," Batin Kira.
Sesungguhnya, Kira juga mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jarang bahkan belum pernah dia manja kepada suaminya. Andai seperti ini, bukan sandiwara belaka. Indahnya.
"Tentu tidak, kau selalu membuatku bangga. Kau istri terbaik. Jadi, yang mana yang mengganggumu?," Harris mengusap pipi Kira dengan ibu jarinya. Menggoda.
Karyawan kafe Ivy yang awalnya bersembunyi, kini mendekat, mencuri pandang pada Harris. Melisa yang melihat adegan ini, seperti terkena kutukan ibu Malin Kundang. Membatu. Hanya bola matanya yang bergerak dan nafasnya yang naik turun di dada. Melisa memang tidak mengenal Harris tapi Rian tahu siapa dia. Tahu dengan jelas.
Seakan tak percaya dengan penglihatannya, Rian mengusap kedua matanya. Jika mereka tak saling kenal, apa mungkin sampai berciuman seperti itu? Tetapi, bagaimana dia bisa kenal Putra Tuan Dirga? Batin Rian.
"Maafkan, istri saya, Tuan. Kami tidak bermaksud membuat keributan di sini," Rian terbata-bata mengucapkan sebaris kalimat ini.
"Hari ini hatiku sedang senang, jadi akan ku maafkan tapi tidak lain kali." Ucap Harris datar. Namun mata hitam setajam mata elang itu menyapu kedua orang di depannya dengan pandangan membunuh.
"Terlebih lagi, menjelek-jelekan istriku seperti tadi, kau tau konsekuensinya, bukan?," Sambungnya tanpa mengurangi ekspresi dingin dalam tatapannya.
"Kau siapa? Suaminya? Apa kau sakit mata ketika memungutnya?," Melisa merepet dalam kemarahan. Lagi dan lagi, andai benar lelaki itu suaminya, milik Kira selalu lebih bagus dari pada miliknya. Itu seperti bahan bakar yang mengobarkan kebencian dalam hatinya. Bagai bara yang memanaskan hatinya.
"Sudah, Mel, kita pulang! Ayo," Rian menarik tangan Melisa dengan kasar. Nasibnya dan karirnya di pertaruhkan di sini. Harris bukan lawan sepadan bagi Rian bahkan dengan Melisa sekalipun.
"Diam, Mas," Bentak Melisa seraya menarik tangannya dengan kasar.
"Biar aku meluruskan, Nyonya," Harris memandang Melisa dari atas ke bawah. Cantik tapi bodoh, pikirnya.
"Aku suami Akira, yang sah. Dan ya, aku memungutnya dan menjadikannya ratu. Tidak sepertimu, merebut tetapi di jadikan pemuas nafsu," Ucap Harris penuh tekanan.
"Kau, beraninya kau mengataiku pemuas nafsu. Aku juga ratu, tidak seperti dia," Melisa semakin marah. Merangsek ingin menerkam Harris namun Rian dengan sigap menariknya. Sehingga, Melisa meronta dalam cengkeraman Rian. Membuat rambutnya berantakan, di tambah di seret paksa dan berteriak dia sudah seperti orang kesurupan.
Harris memberi isyarat kepada Johan untuk membawa mereka keluar. Di bantu pengawal, Melisa berhasil di bawa keluar.
Kira menatap Harris malu-malu. Mendengar ucapanya barusan membuat Kira berbunga-bunga. Meski hanya sandiwara, tapi Kira menikmatinya. Kira merasa seperti memiliki seseorang yang menghargainya dengan layak. Ah, senangnya.
Kira tidak merasa menang atau jumawa, dia hanya ingin berpuas diri sebentar dan kembali mawas diri. Membiarkan kepuasan menjalari seluruh tubuhnya, dan kembali menjadi rendah hati setelahnya. Sebentar saja!
•
•
•
•
Reader tercintaku🥰, terimakasih dukungan like👍, komen 😍 dan votenya🥰, karena kalian author masih bisa lanjut sampai episode ini, ini semua di luar bayangan author, sekali lagi, terima kasih, maafkan author yang masih banyak kekurangan. 🙏
Dan, Hai silent Readers, ayo tunjukkan pesonamu, bisa lewat komen ataupun like👍. jangan malu-malu😊. Authornya udah jinak kok,✌
Salam manis dari Author👋