
Pantas saja dia semakin berisi, hamil ternyata, pikir Harris. Dia sangat tahu perubahan bentuk tubuh Kira, bahkan setiap jengkal.
Dengan telaten Kira menyuapi Harris hingga habis, diselingi canda tawa, namun Kira tak sekalipun menyuapkan untuk dirinya sendiri.
"Apa masih mual?" Harris meletakkan gelas usai minum air putih untuk kesekian kalinya. Sejak tadi dia hanya memperhatikan Kira yang kesenangan melihatnya makan dengan lahap.
"Tidak kok!" Kira mencelupkan tangannya di sebuah wadah berisi air dan irisan jeruk nipis. "Kita pulang yuk, sudah malam!"
"Kalau tidak mual, kenapa tidak makan?" Harris mencekal pergelangan tangan Kira.
Kira yang hampir berdiri, terpaksa duduk lagi. Dia harusnya sudah tahu, ini bakal terjadi. "Maaf Bang, anakmu sudah tidak ingin makan ini lagi!"
Tak ada pilihan selain berkata jujur, sulit sekali bibir Kira diajak berkelit. Dahi Harris berkerut dalam, menampakkan kerutan bertumpuk-tumpuk, dia masih belum mengerti dengan hamil dan segala keanehan nya. Sekalipun, dia pernah melihat dengan mata kepala sendiri.
Kira buru-buru bangkit dan berjalan ke bagian depan rumah makan ini, dimana ada seorang wanita yang akan menerima pembayaran. Harris segera mengekori Kira, namun dia segera melangkah keluar rumah makan ini. Menunggu Kira diluar.
***
Johan menghela napas, punggungnya terasa sakit karena belum beristrirahat sejak tadi pagi. Bersama Riko dan Doni, dia menyiapkan segala keperluan untuk memberi kejutan pada Nyonya-nya. Senang sebenarnya, tapi bukan untuknya semua senyuman itu.
Johan tersenyum singkat, ah, sulitnya. Johan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, tangannya bertaut, menekan bagian atas kepalanya. Langit-langit ruang kerja ini, seperti pikirannya, suram. Sebuah notifikasi pesan muncul di ponsel yang tergeletak di sebelahnya. Dengan malas, Johan mengambilnya, tanpa menggeser tubuhnya sama sekali.
Johan mendengus, saat membaca pesan itu. Dia segera bangkit, mengambil kontak mobil miliknya. Hari ini dia akan pulang ke apartemennya yang sudah lama dia tinggalkan. Mengambil waktu untuk dirinya sendiri.
Mobil hitam milik Johan melesat membelah jalanan menuju apartemen Johan yang berada di jantung kota. Setelah pinggiran kota yang sepi, kini hiruk pikuk kota menyambutnya.
Sesampainya di apartemen, Johan segera mandi dan menyeduh kopi. Menikmati kelap kelip kota yang begitu indah dari balkon apartemennya.
Johan membuang napas, hidupnya terasa sepi, diusianya sekarang, kehadiran seorang anaklah yang meramaikan hidupnya. Seharusnya. Tetapi, hatinya salah berlabuh, membuatnya kesulitan mendayung lagi kapalnya ke tengah lautan.
Ingatannya tiba-tiba melayang pada Nicky, bocah itu, pikir Johan. Dia tersenyum singkat, sebelum bangkit meninggalkan kursinya. Meninggalkan kopi yang baru seteguk di cecapnya.
***
Lelahnya hilang, saat pria kecil tengah berlari menyambutnya dengan senyum lebar. Menampakkan gigi putih kecil yang belum tumbuh semuanya.
"Pa-pa," ocehnya berulang, membuat Johan sedikit terkejut namun bahagia. Meski Johan tahu, Nicky memanggil semua laki-laki dengan sebutan itu.
"Nak Jo to...pantes Nicky langsung keluar saat mendengar suara mobil berhenti!" Ibu yang mengejar Nicky keluar, tersenyum saat melihat Nicky dalam gendongan Johan.
"Malam, Bu!" Johan menyalami Ibu, baginya Ibu Kira adalah ibunya juga. "Viona belum pulang, ya?"
"Iya, katanya agak malam," jawab Ibu sambil berjalan ke arah sofa. Menyingkirkan mainan Nicky yang berantakan. "Ibu buatin kopi dulu ya, Nak! Sekalian panggil Ayah!"
Johan mengangguk sambil tersenyum. "Makasih, Bu!" Ibu tersenyum sambil berlalu ke arah dapur.
"Pak Jo!" Nina berteriak kegirangan saat melihat Johan. Namun segera meredup saat melihat Nicky memeluk Johan dengan erat. "Nicky, Uncle lelah, ayo turun, sini, sama Anti saja!"
"Tidak apa-apa, Nin!" Johan menjauhkan Nicky dari uluran tangan Nina. "Aku juga kangen sama dia!"
Johan duduk di sofa tanpa menurunkan Nicky. Tetapi, bocah itu segera merosot dan mulai bermain lagi di bawah kaki Nina yang juga ikut duduk di ujung sofa.
Nina mencebik, "Sama Nina ngga kangen?"
"Ngga," jawab Johan santai. "Kalau aku kangen kamu, Rio bisa membunuhku!"
"Pak Jo takut sama Rio?" Nina melebarkan senyumnya.
"Malas saja dengan pria kekanak-kanakan seperti dia!" Johan mencibir.
Nina tertawa terbahak-bahak. "Pak Jo, bener! Aku ngga nyangka lho, Pak, dia ternyata mengerikan dibalik sikap songongnya!"
"Abang iparmu saja kalah lho sama Rio! Abangmu kalau cemburu pasti ngamuk-ngamuk, kalau Rio, cemburunya kaya cewek, diem bae, udah gitu wajahnya kaya baju habis diperes! Kucel!"
Keduanya tertawa, "iya. Pak Jo bener lho."
"Tapi bagus dia dapet calon istri kaya kamu, pas dia marah kamu godain aja! Gelitikin sampai keram perutnya, menahan tawa!"
Keduanya tertawa lagi. "Ide bagus, Pak Jo! Dia suka marah saat lihat mas-mas kurir kemari ambil paket. Mukanya kaku, kaya kanebo kering!"
"Hus, masa bicarain calon suami kaya begitu, Nin?!" Ayah dan Ibu muncul dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
Nina nyengir lebar. "Maaf Bu! Itu juga Kak Vero yang ngasih julukan. Aku cuma ikut-ikutan."
Nina mengatupkan bibirnya rapat-rapat, takut dengan omelan Ibunya. Dia segera turun dan bermain dengan Nicky.
"Belum, Yah! Beberapa hari tidak bertemu Nicky saya jadi kangen!"
Keduanya mendaratkan tubuhnya di sofa. Sejenak Ayah mengulas senyum, "kangen Mamanya Nicky kali?"
Johan sedikit terperanjat namun dia segera mengalihkan perhatiannya ke arah Ibu yang meletakkan kopi di meja.
"Makasih, Bu!"
Ibu meletakkan nampan didepan tubuhnya sebelum duduk berseberangan dengan keduanya. "Mau berapa kali Nak Jo berterimakasih? Ibu rasa, Nak Jo harus segera melamar Viona. Ibu tahu kalian saling memendam perasaan, entah apa yang membuat kalian begitu enggan mengakui jika sudah ada perasaan sejak lama!"
Johan menggosok kedua telapak tangannya, lalu saling menggenggam. "Saya masih ragu, Bu! Kami sama-sama masih terikat dengan masa lalu!"
Johan tak berani mengangkat wajahnya. Seolah takut wajahnya mengatakan semua perasaannya. Lantai di bawahnya seakan memberinya petunjuk kemana dia harus melangkah.
"Nak," tepukan dipundaknya membuatnya menoleh. "Masa lalu tak akan pernah menghalangi pemiliknya menjalani masa depan, kita saja yang masih enggan melepaskan. Kita harus menatap masa depan, itulah kenapa mata terletak di bagian depan kepala kita. Itulah sebabnya kenapa kita harus bersusah payah memutar kepala untuk melihat kebelakang!"
Johan menatap lekat pria di depannya. Pria yang mendidik putrinya menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Tak heran mengapa Kira bisa melewati badai yang membalik dan menghancurkan kapalnya. Tak heran, bila Kira mampu berenang ke tepian, sebab pria ini yang mengajarinya menyelam.
"Lepaskan semua, Nak! Meski bukan dengan Viona, dengan siapapun wanitanya, jika kau masih menggantungkan harapanmu pada seseorang, kau hanya akan menenggelamkan dirimu pada tanah yang kau pijak. Kau hanya akan mendapat lelah dan kesunyian."
Ayah tersenyum, tepukan di bahu Johan semakin keras menyusul. "Ayah rasa, kau sudah tahu bagaimana perasaanmu, kau hanya tidak mau memulai!"
Johan menghela napas, "Jo akan berusaha, Yah!"
"Buktikan, jangan hanya diucapkan!"
Johan mengangguk, tapi entah dengan hati merah jambunya. Johan meraih cangkir berisi cairan hitam kental yang menguarkan aroma khas. Disesapnya memenuhi rongga mulut. Dirasanya, Nina menatapnya dengan kesal sambil terus bermain dengan Nicky yang menggerakan lengan robot yang dipegangnya.
Tatapan Nina menyiratkan ketidaksukaan akan kedekatannya dengan Viona. "Pak Jo terlalu baik untuk Viona." Itulah yang selalu di ungkapkan oleh Nina. Meski Nina tak berhak atas hidup Johan, tapi, Nina merasa Johan berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari Viona.
Johan mengulum senyum samar. Benar, ada yang lebih baik seribu kali bahkan. Mengusik dalam hatinya, benarkah sudah ada rasa untuk Viona? Selain perasaan ingin melindungi. Tak ada alasan lain.
Malam semakin larut, Nicky sudah tidur bersama Nina. Johan pun segera meninggalkan rumah keluarga Kira setelah berpamitan kepada Ayah dan Ibu.
Ucapan Ayah masih terngiang jelas dalam benaknya. Berulang kali dia membuang napas dengan kasar, sebelah tangannya menarik rambut sedikit kasar.
Hingga Johan hampir sampai di ujung kawasan perumahan, matanya mengangkap sekilas bayangan mobil Viona. Tanpa pikir panjang, Johan memutar kemudinya untuk mengikuti Viona. Johan menautkan alisnya, ketika Viona hanya melewati rumah Ayah Kira begitu saja.
Johan mulai berpikir yang tidak-tidak, mungkinkah Viona kembali ke dirinya yang dulu?, pikirnya. Johan mengeraskan rahangnya. Batinnya terus mengutuk.
Belum habis keterkejutannya, Johan kembali dibuat bingung saat Viona mematikan mobilnya sekitar 2 rumah dari rumahnya.
"Kenapa dia mematikan mobilnya? Ada apa sebenarnya ini?" Gumam Johan sambil terus mengamati pergerakan Viona.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mulai 1 februari, sistem Vote di aplikasi Mangatoon berubah ya man-teman...
Yang belum upgrade, segera upgrade ya...soalnya sistem rangking vote yang lama berakhir 1 februari.😊
Kurang lebih seperti itu ya, bentuk dukungan untuk author ...
Saya sendiri belum begitu paham dengan sistem ini...semoga versi baru ini memberi motivasi lebih lagi untuk kami para author....
Sekian dari saya😍😘